Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Penertiban Tambang Butuh Komitmen Gubernur dan Walikota

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Kawasan pertambangan ilegal di Poboya. Sekitar 50 hektar kawasan Tahura yang masuk dalam lokasi tambang ilegal tersebut rusak akibat aktivitas tambang. (Foto: Radar Sulteng)

PALU – Untuk pemulihan dan antisipasi Kota Palu tercemar lebih jauh dari zat kimia berbahaya jenis Mercury dibutuhkan komitmen gubernur dan walikota serta dukungan dari masyarakat.

Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran Kerusakan dan Pengembangan Kapasitas Lingkungan (P2KPKL) Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Palu, Ir Tinus Siampa, Senin (10/4) mengatakan, dari dukungan masyarakat itu kata dia menjadi acuan pihaknya untuk bisa melakukan desakan kepada penegak hukum sehingga bisa lebih tegas bertindak.

Yang diherankannya ialah masyarakat kita yang cenderung tidak takut dengan adanya pencemaran Merkuri ini. Sekali pun memang tidak terasa, akan tetapi dampak jangka panjangnya yang akan sangat membahayakan.

“Yang terpenting, komitmen Pemerintah baik Kota maupun Provinsi untuk sama-sama peduli dengan keadaan saat ini. Apalagi pencemarannya sudah separah ini,” terangnya.

Tinus mengakui, aktivitas penambangan ilegal di Poboya dominasi pemodal besar yang sulit dikalahkan. Tapi jika dampak yang ditimbulkan bisa separah ini, para pemodal tersebut tetap bisa dikalahkan asalkan ada komitmen yang kuat dari gubernur dan walikota.

Ditegaskannya, bahwa jika tidak segera ada langkah cepat, maka seakan-akan membiarkan segelintir orang mendapat keuntungan sementara seluruh masyarakat Palu terancam dengan pencemaran Merkuri.

“Di atas itu, bekingannya kita akui kuat. Tapi ini sudah membahayakan orang banyak. Jika gubernur dan walikota komitmen, saya rasa pemodal tersebut tetap bisa dikalahkan,” sebutnya.

Sebagai yang berwenang menangani kasus pencemaran lingkungan, Tinus mengaku sangat prihatin dengan keadaan saat ini. Makanya dia berjanji akan segera melaporkan situasi saat ini kepada walikota melalui Kepala DLH.

Dia juga berharap, masyarakat lebih banyak menanam pohon untuk menyerap kandungan Merkuri di udara dan air yang sudah mencemari kota Palu. Karena pohon kata Tinus, bisa menyerap Merkuri tersebut. Sekali pun diakuinya upaya tersebut tidak menyelesaikan permasalahan utama, namun dengan seperti itu, pencemaran udara saat ini bisa diminimalisir sambil menunggu rencana DLH untuk melakukan penanaman pohon dengan skala besar di area tambang emas Poboya.

“Sambil menunggu pelaksanaan penanaman pohon yang memerlukan anggaran besar itu, kami akan lakukan pendekatan persuasif kepada masyarakat Poboya sehingga bisa mengetahui dampak bahaya dari pencemaran Merkuri,” jelasnya.

Jika hasil pendekatan persuasif yang akan dilakukannya itu bisa diterima masyarakat setempat, Tinus menjanjikan akan mendesak penegak hukum untuk lebih tegas bertindak.

“Ini sudah masalah besar. Dibutuhkan kepedulian semua pihak,” tutupnya.

Dampak bahaya dari penyebaran Merkuri akibat aktivitas tambang emas di Poboya juga diakui. Diakuinya, bahwa dampak Merkuri pada manusia memang tidak dirasakan secara langsung. Namun akan tertumpuk dalam tubuh manusia melalui udara yang dihirup, serta makanan atau minuman yang masuk ke dalam tubuh.

“Memang saat ini kita tidak rasakan. Tapi akumulasi dari penumpukan Merkuri di dalam tubuh itu yang lama kelamaan makin banyak sampai pada jumlah tertentu akan berdampak pada kesehatan manusia,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (10/4). (saf)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.