Pendapatan Petani Turun 0,36 Persen, Pengeluaran Naik 0,50 Persen

- Periklanan -

Ilustrasi petani. (Foto: jpnn.com)

PALU – Selama ini pendapatan atau pemasukan petani di daerah ini relatif belum sebanding dengan pengeluaran yang ada.  Hal ini tergambar dari angka Nilai Tukar petani (NTP), sebagaimana yang dirilis BPS.

Pada Bulan Januari 2017, dari hasil pemantauan harga penjualan komoditas hasil pertanian di tingkat produsen, biaya produksi, dan konsumsi rumahtangga terhadap barang/jasa di wilayah perdesaan menunjukkan bahwa NTP Provinsi Sulawesi Tengah turun sebesar 0,86 persen. yakni, dari 97,87 pada Desember menjadi 97,03 pada Januari 2017.

Ini disebabkan penurunan indeks harga yang diterima petani (it) alias pendapatan sebesar 0,36 persen. “Sementara, indeks harga yang dibayarkan petani (ib/pengeluaran, red) mengalami kenaikan sebesar 0,50 persen,” jelas Wahyu Yulianto, Kabid Statistik Distribusi BPS Sulteng, Rabu (1/2).

Ia menjelaskan, penurunan ini disebabkan oleh penurunan It pada subsektor tanaman tanaman pangan sebesar 1,02 persen dan penurunan subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 1,82 persen. Serta, penurunan it subsektor peternakan sebesar 0,23 persen.

- Periklanan -

Sementara, naiknya ib petani di Sulteng dipengaruhi oleh komponen pengeluaran. Untuk konsumsi rumahtangga maupun fluktuasi harga barang dan jasa yang diperlukan untuk memproduksi hasil pertanian.

Seluruh subsektor mengalami kenaikan ib. Subsektor tanaman pangan naik sebesar 0,65 persen, subsektor hortikultura sebesar 0,44 persen, subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 0,56 persen, subsektor peternakan sebesar 0,18 persen, dan subsektor perikanan sebesar 0,76 persen.

Sementara itu, Nilai Tukar Usaha Rumahtangga Pertanian (NTUP) mengalami penurunan indeks sebesar 0,72 persen yaitu dari 108,29 pada bulan Desember 2016 menjadi 107,51 pada bulan Januari 2017.

Wahyu menjelaskan, relatif lebih tingginya NTUP dibandingkan Nilai Tukar Petani (NTP) yang sebesar 97,03 merefleksikan bahwa tingkat pengeluaran untuk konsumsi rumahtangga petani, termasuk peternak dan nelayan, berperan cukup signifikan dalam menurunkan besaran nilai tukar.

Penurunan NTUP sebesar 0,72 persen terutama dipengaruhi oleh penurunan yang terjadi pada subsektor tanaman pangan sebesar 1,68 persen dan subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 2,33 persen. Pada bulan yang sama, NTUP tanpa perikanan sebesar 106,55 atau lebih rendah dari NTUP secara keseluruhan.

“Ini mengindikasikan bahwa sektor perikanan tetap memiliki daya ungkit terhadap capaian nilai tukar usaha rumahtangga. Dibandingkan bulan sebelumnya, NTUP tanpa perikanan mengalami penurunan sebesar 0,86 persen,” pungkasnya. (ars)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.