Penambang Ilegal Serobot 100 Hektar Lahan Tahura

- Periklanan -

DI PUNCAK: Kepala Dishut Nahardi (tengah) ketika berada di puncak tambang ilegal di Poboya mendampingi Dirjen Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (baju putih) memantau lokasi tambang ilegal, beberapa waktu yang lalu. (Foto: Safrudin)

PALU – Lokasi Taman Hutan Raya (Tahura) yang masuk lokasi aktivitas tambang emas ilegal di Poboya, mencapai 100 hektar lebih. Tidak tanggung-tanggung penambang-penambang yang tidak memiliki izin tersebut bahkan mengambil lahan yang tidak semestinya dijadikan sebagai lokasi tambang yakni lahan tahura. Jumlah 100 hektar tersebut, didapatkan dari data yang dimiliki Dinas Kehutanan  Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng).

“Kalau data kita yang masuk tahura itu, kurang lebih 104 hektar, ada 2 blok yang masuk di sana (lokasi tambang, red),” kata Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sulteng, Nahardi kepada Radar Sulteng, ditemui di ruang kerjanya, kemarin (22/2).

Nahardi menegaskan, sesuai dengan pernyataan Gubernur Sulteng, bahwa Pemrov sangat mendukung upaya penertiban terhadap aktivitas yang dilakukan oleh penambang ilegal. Perusahaan yang resmi untuk melaksanakan tambang di Poboya lanjut Nahardi hanya satu yakni Citra Palu Mineral (CPM) karena hanya CPM yang memegang kontrak karya. Terkait penertiban, Nahardi mengatakan beberapa pihak harus diajak bicara. Termasuk Pemerintah Kota, Pemerintah Provinsi.

Sementara itu, terkait penangannya, Nahardi mengatakan bahwa dalam penanganan lahan tambang, jika mengikuti pola penanganan tambang di Taman Nasional beberapa waktu lalu, pihaknya hanya pada penanganan rehabilitasi.

- Periklanan -

“Kalau penanganannya nanti mengikuti seperti di Taman Nasional, akan dibentuk tim terpadu. Jadi tim ini yang khusus menangani hal tersebut. Biasanya Kehutanan masuk pada kelompok kerja rehabilitasi,” terangnya.

Makanya, kata Nahardi pihaknya baru bisa bekerja jika sudah tidak ada lagi aktivitas tambang di lokasi yang akan direhabilitasi. Dia mengungkapkan bahwa akibat dari aktivitas tambang ilegal tersebut, proses rehabilitasi tidak semudah dengan rehabilitasi pada penebangan-penebangan pohon. Karena aktivitas tambang menurut Nahardi, membuat humus pada lapisan tanah menjadi rusak. Sehingga tanaman tidak mudah tumbuh di lahan bekas aktivitas tambang. Sementara terkait kesiapannya untuk proses rehabilitasi, Nahardi mengklaim telah melengkapi semua dokumen yang diperlukan.

“Kami sudah siapkan semua dokumennya jika akan direhabilitasi,” tandasnya.

Namun katanya, untuk melakukan rehabilitasi, pihaknya menunggu hingga proses penertiban. Sehingga tidak ada lagi aktivitas tambang yang beroperasi.

“Minggu depan kita akan konsolidasi dengan asisten-asisten untuk bahas soal penanganan tambang Poboya ini,” pungkas Nahardin. (saf)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.