Pemkot Berikan Kapal Rusak ke Nelayan

- Periklanan -

Djahar memperlihatkan kondisi kapal yang diterima kelompok nelayannya di Kelurahan Tondo, Kecamatan Mantikulore, Jumat (29/9). Foto lain, nelayan menunjukan lubang di lantai perahu. (Foto: Mugni Supardi)

PALU – Bantuan kapal dari Pemerintah Kota (Pemkot) Palu melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Kota Palu berukuran 3 GT yang ditujukan kepada nelayan di Kelurahan Tondo, Kecamatan Mantikulore, tidak sesuai dengan keinginan para nelayan. Pasalnya, sejak diberikan pada awal Agustus 2017, beberapa komponen kapal tersebut tidak memenuhi standar untuk dapat dioperasikan. Parahnya lagi body kapal sangat mudah dimasuki air karena kondisi kayunya sudah lapuk dan bocor saat diterima nelayan.

“Rupanya barang rusak yang dikasih,” kata Djahar, Ketua Nelayan Duyu Indah, Kelurahan Tondo, Kecamatan Mantikulore, kepada Radar Sulteng, Jumat (29/9).

Djahar mengungkapkan, bantuan kapal itu diperoleh setelah dia memasukan proposal. Karena sebelumnya dia mendengar ada bantuan program kapal nelayan dari petugas lapangan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Palu, dirinya pun mengajukan kelompok nelayannya untuk mendapatkan kapal tersebut.

“Petugasnya itu yang datang langsung,” lanjut Djahar.

Setelah beberapa bulan setelah mengajukan proposal kapal, Djahar mengakui menerima informasi bahwa kapal tersebut sudah siap dijemput tepatnya di Kabupaten Donggala. Namun, setelah bergegas pergi menjemput kapal, sesampainya di lokasi rupanya kapal tidak bisa dioperasikan.

Djahar menyebutkan, kondisi kapal itu baling-balingnya kandas dengan body kapal sehingga tidak mungkin bisa berputar, body kayu kapal juga bocor dan masih ada alat-alat mesinnya belum terpasang. Akhirnya kapal itu hanya ditarik dari Donggala menuju Palu.

“Saat kita pergi ambil diperjalanan itu kita hanya sibuk menguras air yang masuk dalam kapal, kalau misalnya berhenti mungkin kapalnya bisa tenggelam,” jelas Djahar.

- Periklanan -

Menurut Djahar setelah diketahui tidak bisa beroperasi petugas dari dinas ini memberitahunya agar nanti di Palu baru diperbaiki kembali. Dirinya diminta untuk merincikan apa-apa saja komponennya yang diganti. Tetapi setelah mengajukan kembali perihal kerusakannya, hingga saat ini belum ada tanda – tanda dilakukannya perbaikan.

“Saya ajukan permohonan perbaikan. Pihak dari dinas juga sudah turun langsung mengambil gambar, tapi belum ada realisasi,” ungkapnya.

Dia mengungkapkan, jika dibiarkan kapalnya begitu saja di bibir pantai dengan keadaan yang bocor, maka ketika air laut pasang posisi kapal akan terendam hampir separuh. Mesinnya pun ditakutkan akan rusak jika dengan waktu yang lama terendam air.

“Kalau hanya sendirian menguras airnya tidak cukup satu jam. Jadi, bukan capek memakai ini kapal, hanya mengurusnya yang bikin capek,” ujarnya.

Dia memperkirahkan, harga khusus kapal seperti itu di luar dari mesinnya bisa dipatok hampir Rp 50 juta, sedangkan dihitung dengan mesinnya bisa mencapai Rp 100 juta.

“Yang saya dengar ada bantuan 10 kapal dari petugas lapangan ini, tetapi saya tidak tahu dimana semua sasarannya,” terangnya.

Sementara Kepala Bidang Perikanan pada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Palu Ir Franky Lourence Alaydrus SP. MM, menambahkan terkait bantuan kapal untuk Kelurahan Tondo tidak banyak diketahuinya secara pasti, apalagi dirinya baru beberapa bulan menjabat di bidang perikanan. Misalnya soal tahun berapa pengadaan program bantuan kapal itu. Terkait kondisi kapal yang rusak diberikan kepada nelayan, Franky mengakui belum mendapat laporan langsung dari nelayan bersangkutan.

“Nanti bisa ketemu dengan kepala bidang yang sebelumnya. Saya juga masih di Sigi, belum bisa masuk ke kantor (di Palu, red). Nanti hari Senin bisa ke kantor dan saya pertemukan dengan bidang yang lama,” tuturnya. (acm)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.