Pemilik Pangkalan Elpiji Terancam Ditahan

- Periklanan -

SELISIH: Fungsional Penera Dinas Perdagangan Provinsi Sulawesi Tengah, Simon Loyang sedang mengukur salah satu tabung gas yang dioplos, Rabu (15/3). (Foto: Mugni Supardi)

PALU – Penyidik Subdit I Bidang Industri dan Perdagangan (Indag) Ditreskrimsus Polda Sulteng, akhirnya menetapkan status tersangka terhadap pemilik pangkalan elpiji yang melakukan pengoplosan gas.

Pelaku yang juga berprofesi sebagai PNS tersebut, rencananya hari ini (Kamis, 16/3) dipanggil sebagai tersangka untuk diperiksa penyidik Subdit Indang Ditreskrimsus Polda Sulteng.

Penetapan status tersangka tersebut setelah penyidik berkoordinasi dengan sejumlah pihak dan melakukan gelar perkara pada Rabu (15/3). Koordinasi yang dilakukan pertama yakni dengan pihak Dinas Perdagangan Provinsi Sulawesi Tengah, melalui salah satu fungsional penera yang ada di dinas tersebut. Penyidik meminta fungsional penera tersebut mengukur kembali tabung-tabung gas yang dioplos tersebut.

Selanjutnya pada pukul 13.00 wita, atas perintah Direktur Reserse Kriminal Khusus (Direskrimsus) Polda Sulteng, Kombes Pol Yan Sultra gelar perkara pun digelar. Dari gelar perkara yang dipimpin langsung Wakil Direktur (Wadir) Reskrimsus, AKBP Setiadi Sulaksono, diputuskan bahwa penyelidikan atas kasus pengoplosan gas itu, ditingkatkan menjadi penyidikan. Saksi sendiri, berinisial AB, akhirnya ditetapkan sebagai tersangka.

“Dua alat bukti sudah kami miliki sehingga telah memenuhi syarat sebagaimana pasal 183 dan 184 KUHAP,” tutur Kasubdit Indag, AKBP Teddy Salawati, kemarin.

- Periklanan -

Surat perintah dimulainya penyidikan (SPDP) sendiri, bakal dikirimkan penyidik kepada jaksa hari ini. Begitupun dengan tersangka juga akan diminta menghadap penyidik untuk pemeriksaan di tahap penyidikan. Saksi-saksi dalam kasus ini, turut pula dijadwalkan untuk segera dimintai keterangan. “Untuk ahli dari Perindag dan Metrologi sudah kami mintai keterangan. Kedepan kami juga bakal meminta keterangan dari Petamina dan ESDM,” tutur Teddy.

Disinggung terkait rencana penahanan terhadap tersangka, Kasubdit Indag mengaku, hal tersebut dilakukan jika nantinya dalam pemeriksaan, hal tersebut memang diperlukan. Lebih jauh disampaikan Teddy, kasus ini sendiri dibongkar pihaknya, atas perintah dari Kapolda Sulteng, yang menerima laporan masyarakat terkait kelangkaan gas elpiji 3 kilogram. “Namun kami yakin, tidak mungkin hanya 1 kasus ini kemudian gas elpiji jadi langka. Kami juga masih menelusuri penyebab lain dari kelangkaan gas elpiji 3 kilogram ini,” sebut Teddy.

Dia pun berharap, Pemerintah Daerah, dapat menerbitkan regulasi yang mengatur sistem penjualan yang saat ini, bukan hanya pangkalan namun telah beralih ke kios-kios, dengan harga sesuka hati dari kios yang menjual. Padahal, gas 3 kilogram disubsidi oleh pemerintah dengan dana APBN, untuk meringankan beban belanja masyarakan. “Saat ini malah jadi barang dagangan,” tandasnya.

Sementara itu, hasil saat ditera menggunakan timbangan elektronik tabung yang terdiri dari elpiji 3 kg 5 tabung, elpiji 12 kg 5 tabung, elpiji 5 kg 1 tabung dan tabung gas yang berukuran 220, 230, 235 mencapai puluhan tabung itu hampir menyita waktu berjam-jam. Fungsional Penera, Simon Loyang, mengatakan dari sejumlah tabung yang di bawah hasil penimbangan menunjukan terdapat selisih dari nominal isi tabung yang tertulis dengan hasil penimbangan.

“Misalnya ada tabung 12 kg setelah kita timbang ada yang isinya hanya 4 kg hingga 5 kg lebih dan tidak sesuai kapasitas. Kalau saya hanya sebatas menampilkan hasil pengukuran, yang menyimpulkan adanya pelanggaran pasti domainnya teman-teman penyidik,” jelas Simon Loyang yang sudah menggeluti bidang kemetrologian selama 35 tahun ini.

Sedangkan untuk tabung 3 kg dan tabung berukuran 220, 230, dan 235, kata Simon, tidak berselisih banyak dengan nominal isi tabung.

“Menurut saya yang 12 kg itu hasil oplosan yang belum selesai,” sebut Simon. (agg/acm)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.