alexametrics Pemerintah Provinsi Akui Gas Subsidi Langka – RADAR SULTENG
Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Pemerintah Provinsi Akui Gas Subsidi Langka

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

PALU – Pasar Murah yang digelar Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, Senin (24/8) tidak menjual gas subsidi 3 kilogram. Pasalnya, saat ini diakui gas subsidi tersbut tengah langka ditemukan di Kota Palu dan sekitarnya.

Hal tersebut disampaikan Asisten II Ekonomi dan Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Sulawesi Tengah, Bunga Elim Somba, usai membuka kegiatan pasar murah yang berlangsung di Kelurahan Nunu. Menurut Elim, kelangkaan terjadi, karena kuota gas subsidi khusus Kota Palu tidak ada kenaikan, sementara masyarakat yang membutuhkan terus bertambah.

Ditambah lagi, belum tertibnya masyarakat menggunakan gas subsidi ini, yang seharusnya diperuntukan bagi masyarakat miskin, namun masih juga digunakan masyarakat dengan ekonomi menengah ke atas. Hal ini kata dia, diperparah, dengan ulah sebagian oknum yang menjual kembali gas subsidi dari Sulawesi Tengah, ke daerah tetangga seperti ke Provinsi Gorontalo dan Sulawesi Tenggara. “Kenapa demikian? Karena HET di daerah kita lebih murah,” sebut Elim Somba.

Saat ini, pemerintah terus memikirkan solusi, agar masalah kelangkaan gas subsidi ini juga tidak terus terjadi. Penyalahgunaan gas subsidi sendiri, terjadi dari tingkat paling bawah. Di mana ada oknum warga yang mengumpulkan gas yang dibeli dari pangkalan, kemudian dijual secara eceran, bahkan dibawa hingga ke Provinsi tetangga. “Kendalanya, pangkalan susah untuk mengontrol siapa pembeli gasnya, karena banyak,” ungkapnya.

Elim Somba menegaskan, untuk agen tidak akan berani menjual keluar, karena di tabung gas terdapat kode wilayah. Pemerintah sendiri, kata dia, tetap melakukan pengawasan, dengan berkoordinasi dengan Satgas Polda Sulteng. “Yang bermain ini dari lapisan bawah, tingkat kios. Di Kota Palu telah dilakukan sweping di kios-kios yang seharusnya tidak boleh menjual, makin panjang rantai pemasaran harganya makin tinggi, masing-masing memiliki margin keuntungan,” tegasnya.

Kepala Dinas Peridustrian dan Perdagangan Provinsi Sulawesi Tengah Richard Arnaldo Menambahkan, Modus pembelian kios-kios sama seperti yang terjadi di pasar murah, datang tidak hanya sendiri dan membawa satu atau dua gas, namun datang bersama seluruh anggota keluarga masing-masing membawa gas. “Orang tua ikut antrean, anaknya juga, saudaranya juga antre, dapat banyak dijual lagi, dari pada kita membuka peluang itu disaat gas sulit lebih baik saat pasar murah tidak menjual Gas,” jelasnya. (umr)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.