Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Pembunuhan di Lorong Kapista Direkonstruksi

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Riski alias Kiki, pelaku yang masih di bawah umur saat melakukan adegan ke-18 kepada korban Rasid yang diperankan anggota polisi. (Foto; Wahono)

PALU– Rekonstruksi kasus pengeroyokan yang mengakibatkan korban meninggal dunia di Jalan Cut Mutia Lorong Kapista, digelar Selasa (18/7) kemarin. Reka ulang berlangsung tertutup di halaman Mapolres Palu Jalan Pemuda.

Korban Rasid meninggal akibat terkena empat luka tusuk dan lemparan benda tumpul di bagian kepalanya. Pengeroyokan tersebut akibat motif dendam, yang direncanakan oleh Jufri Cs.

Dalam reka ulang yang dilakukan Polres Palu, kelima pelaku yang bernama Moh Rifai alias Pai, Jufri, Irfan, Riski, dan Asmar, melakukan 23 adegan. Mulai dari melakukan rencana yang didiskusikan di pos ronda, sampai melakukan pengeroyokan dan penikaman.

Dari peragaan awal, Jufri yang juga oknum wartawan media online, mendatangi empat orang yang sedang asyik duduk di pos ronda. Seketika itu Moh Rifai pergi menggunakan sepeda motor untuk mengambil parang bersama kedua rekannya Irfan dan Asmar. Dua orang lainnya menunggu di pos ronda yaitu Jufri dan Riski.

Rencana tersebut dimulai dari pelemparan rumah korban Rasid yang dilakukan oleh Jufri. Mendengar lemparan tersebut korban langsung melarikan diri dengan membawa parang yang ditaruh di dalam baju. Namun saat korban berusaha untuk menghindar ketika melintas di depan rumah Asmar, pada adegan ke-12 korban seketika langsung ditusuk menggunakan sebuah badik dan mengenai pinggul sebelah kanan.

Pelakunya Asmar yang tak lain tetangga korban. Saat itu korban masih sempat melawan dan belum terjatuh. Namun begitu disusul oleh Moh Rifai dengan mengejar korban dan melakukan penikaman lagi, korban pun terjatuh akibat luka di bagian punggung.

Setelah korban sudah tidak berdaya, datanglah dua orang bernama Riski alias Kiki (16) yang masih di bawah umur untuk mengikuti keempat temannya tadi. Kiki pada adegan ke-18 melakukan pelemparan menggunakan batu merah terhadap korban yang sudah tak berdaya. Lemparan Kiki mengenai bagian kepala, bahkan Kiki juga menendang korban. “Saya tendang dan injak korban sebanyak dua kali saja,” katanya kepada penyidik.

Begitu selesai melakukan penyerangan, giliran Irfan yang melakukan penikaman di bagian paha korban. Setelah itu korban sudah tidak lagi bergerak sama sekali alias sudah meninggal dunia. Tapi para pelaku masih berada di dekat korban.

Sesaat kemudian, anggota Polsek Palu Timur datang ke lokasi. Untuk membubarkan massa, polisi membuang tembakan peringatan ke atas. Pelaku pun sempat melarikan diri.

Riski (16) mengatakan, pengeroyokan yang dia lakukan tidak diajak oleh siapa pun. Namun berhubung ada sedikit masalah dengan korban, makanya dia ikut bergabung mengeroyok korban.  “Saya ikut-ikut saja, karena ada sedikit yang tidak saya suka dari korban,” ungkapnya di sela rekonstruksi.

Dalam rekontruksi tersebut, banyak keluarga pelaku datang. Mereka tak bisa bertemu dan hanya memanggil para pelaku dari luar lokasi rekonstruksi yang dibatasi pagar besi. Penjagaan ketat dilakukan anggota Sabara bersenjata lengkap. “Keluargaku ada di luar sana,” katanya.

Sementara Kanit Krimum Polres Palu Ipda Fahat Bafadal SIK mengatakan, rekonstruksi yang dilakukan Polres Palu terkait perkara 340 KUHP yakni dugaan pembunuhan berencana. Dan persoalan itu dipicu karena persoalan dendam. “Kita melakukan 23 adegan, dan korban mengalami empat luka tusukan yang memang dapat membunuh korban. Keempat tusukan berada di bagian organ vital korban, dan adanya pemukulan dan pelemparan,” demikian Fahat. (who)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.