Pembentukan Panitia Pilrek Dinilai Terlalu Cepat | Rektor : Yang Penting Tidak Melanggar Aturan

- Periklanan -

Gedung Rektorat Universitas Tadulako. (Foto: Humas Untad)

Masa jabatan Rektor Universitas Tadulako masih satu tahun lebih, namun pihaknya telah membentuk Panitia Pemilihan Rektor (Pilrek) untuk masa jabatan 2019-2023. Bahkan panitia Pilrek tersebut telah menggelar rapat beberapa kali dalam penentukan jadwal tahapan Pilrek.

Rektor Untad, Prof Muh Basir Cyio

Pembentukan panitia itu sendiri merupakan permintaan Rektor kepada pihak Senat Universitas Tadulako di saat temu akhir tahun Desember 2017 silam di sebuah hotel di Kota Palu.

Di masa silam, masa jabatan Rektor terkesan disembunyikan, bahkan kapan berakhirnya ditutup rapat sehingga bisik-bisik liar terjadi di mana-mana.

Kali ini, semua dibuka secara transparan. Apa yang melatar belakangi pembentukan panitia Pilrek dan rencana tahapan Pilrek dipercepat, berikut wawancara eksklusif Murtalib, Wartawan Radar Sulteng dengan Rektor Universita Tadulako, Prof Dr Ir H Muhammad Basir Cyio SE MS.

Radar Sulteng (RS): Pak rektor, banyak kesan yang berkembang jika pembentukan panitia pemilihan rektor ini terlalu cepat. Bahkan sejak Anda menyampaikan di akhir Desember 2017 yang masih satu tahun dan 3 bulan. Bagaimana tanggapan Anda?

Rektor (R): Begini, sesuatu yang tidak perlu didramatisasi, maka lakukanlah sesuatu itu secara wajar. Pemilihan rektor juga adalah hal yang tidak perlu didramatisasi, sebab hal itu juga sesuatu yang wajar dan normal. Ada apa masa jabatan disembunyikan waktunya. Saya memang masih satu tahun lebih menurut SK pengangkatan yang saya terima dari Menristek Dikti. Jika saat pelantikan dihitung maka Awal Maret 2019 baru akan berakhir. Tidak ada urgensi masa jabatan disembunyikan.Yang tidak bisa kita umumkan itu hanya satu; “Tanggal kematian” karena itu rahasia Allah (heheheheh).

(RS): Lalu apa urgensinya dipercepat?

(R): Memang tidak ada urgensinya tapi tidak ada juga yang melarang, termasuk dalam aturan. Aturan yang ada hanya disebutkan paling lambat 3 (tiga) bulan sebelum berakhir masa jabatan rektor yang sedang menjabat. Karena paling lambat, berarti boleh sebelumnya. Berbeda kalau aturannya menegaskan paling cepat.

(RS): Menurut Anda, sejak terbentuk panitia Pilrek, seperti apa dinamika dalam kampus?

(R): Biasa saja, sebab ada tugas mulia yang lebih penting yang tidak bisa diabaikan, yakni memberi layanan tri darma , baik itu pembelajaran maupun kegiatan penelitian dan pengabdian. Ketiganya tidak bisa stagnan apapun yang akan dihelat, sebab Roh utama Perguruan Tinggi ada di tri darma itu. Dosen pun semua terlibat dalam layanan itu, sehingga tidak akan ditemukan ada dosen yang mau mencalonkan rektor lalu mereka abaikan tugas pokoknya.

(RS): Jika ada dosen lebih sibuk lobi sana sini suara senat dan tugas utamanya terlupakan, apakah ada sanksinya?

(R): Pasti. Sudah minimal sanksi sosial dari komunitas kampus. Bahkan akan ditertawakan jika lupa tugas utama dan hanya habis waktu lobi-lobi suara. Tapi saya ingin tegaskan, suara senat itu tidak perlu dilobi.

(RS): Mengapa Anda yakin jika suara senat tidak perlu dilobi oleh calon rektor ataupun pendukungnya?

(R): Saya yakin sekali, sebab baik calon rektor maupun anggota senat tidak ada orang asing di antara mereka. Baku tahu, istilah anak muda jaman Now. Jadi jika ada yang sibuk dan rajin berkunjung nanti setelah panitia terbentuk, itu sama dengan memperlihatkan “bihaviour” yang “semu”. Tadinya jarang memberi salam, belakangan ini terkesan rajin memberi salam. Bahkan ketemu di jalan tidak pernah bunyikan klakson, tiba-tiba masih jauh sudah nyalakan lampu, bunyikan klakson, plus keluarkan tangan pertanda memberi “lambaian persahabatan”. Pasti akan terbaca, bahkan jadi cerita di antara kolega sendiri.

(RS): Lalu apa yang harus dilakukan oleh para bakal calon yang ingin maju bertarung?

- Periklanan -

(R): Saya tidak terlalu sepaham dengan terminologi “bertarung”. Cuma kita-kita juga di Untad ini, tidak ada orang lain, jadi istilah bertarung itu jarang terdengar. Yang lebih pas adalah menyandingkan visi-misi bakal calon plus program kerja selama empat tahun ke depan. Keluarga besar Untad, khususnya anggota senat adalah orang-orang yang sudah paham semua bakal calon, siapapun yang menyatakan kesediaannya, pasti dikenal baik karena hari-hari berinteraksi. Saling mengenal satu sama lain.

(RS): Bagaimana kalau ada bakal calon yang pendukungnya lebih sibuk ke sana ke mari lobi suara senat?

(R): Tidak masalah, tapi anggota senat juga sudah paham, siapa dan seperti apa itu calon dan seperti apa itu juru lobinya. Mereka semua sudah memiliki rekam jejak sejak jadi dosen sampai menjelang masa pensiun. Jadi saya ingin tegaskan, tidak ada sikap dan perilaku yang bisa direkayasa atau didesain agar tampak seperti orang yang bukan aslinya. Rekaman asli setiap dosen Untad itu sudah ada. Saya juga demikian. Catatan buruk, kekurangan, kelemahan, kejelekan, ketidakbaikan, dan sejumlah daftar dosa sudah ada di kantong warga Untad, khususnya anggota senat sejak saya mau maju periode pertama dan periode kedua. Jadi, saya tidak bisa berbuat apa-apa, apalagi mau sok agamis, sok kalem, sok cerdas, sok hebat, dan sejumlah sok-sok lainnya. Kenapa? Karena anggota senat yang terhormat sudah tahu persis seperti apa saya ini. Hal serupa juga berlaku bagi calon rektor yang mau maju.

(RS): Apakah sudah Anda bisa bayangan bakal calon yang memenuhi syarat?

(R): Cukup banyak, sebab syarat umumnya tentu ada selain syarat khusus baik itu pendidikan minimal S3, jabatan akademik lektor kepala, dan pernah menduduki tugas tambahan minimal ketua jurusan atau sebutan lain yang setara minimal dua tahun. Jadi yang memenuhi syarat itu bisa sampai 400 orang. Untuk mengetahui siapa yang bakal jadi calon, merekalah yang menyatakan kesediaannya.

(RS): Sebagai manusia biasa, terkadang ada di antara mereka yang menggunakan teori spekulasi. Yah, seperti “iseng-iseng berhadiah”. Bagaimana menurut Anda tipe demikian.

(R): Setiap orang itu punya pertimbangan masing-masing. Kita harus hargai apapun menurut seseorang itu yang terbaik. Menghalangi orang yang memiliki hak itu adalah cara yang tidak demokratis, dan cara demikian pasti tidak dirahmati oleh Yang Maha Kuasa. Lepas, biarkan kompetisi sehat itu jalan, jangan kita patahkan dan hancurkan hak seseorang dengan cara yang tidak diatur dalam perundang-undangan. Seseorang yang ingin bersaing, bukan persoalan kalahnya, tetapi dihargai keputusannya sebagi hak untuk maju. Jangan ada pihak yang mau meraih kemenangan dengan menghalangi seseorang untuk maju. Takut tidak menang itu bukan pribadi pejuang tapi pribadi yang ingin menggapai sesuatu dengan menghilangkan hak orang lain. Jadi, jika ada calon yang mau maju dengan spekulasi, itu keputusan mereka yang harus dihargai. Yang tahu siapa yang akan jadi rektor itu hanya Allah Yang Maka Kuasa. Manusia hanya berikhtiar.

(RS): Dalam dunia kompetisi, kadang ada istilah tidak tahu mana lawan dan mana kawan. Bahkan ada kawan yang tiba-tiba jadi penghianat karena kekecewaan.Bagaimana menurut Anda?

(R): Bagi saya tidak ada yang luar biasa. Hidup itu dinamis dan setiap manusia punya cara hidup dalam membawa dirinya.Terminologi penghianat dan pejuang juga itu relatif. Orang yang berubah, itu adalah sebuah keputusan. Jika hari ini dia adalah sahabat, dan besok bukan lagi sahabat, itu hanya cara pandang.Bahwa berubah tidak seakrab sebelumnya, tidak sedekat sebelumnya, memang demikianlah ciri-ciri sebuah kehidupan nyata. Jangan pernah merasa kehilangan, tapi jangan pernah pula alergi dengan perubahan, sebab perubahan itulah keabadian yang sesungguhnya. Jika sahabat tidak lagi sehangat sebelumnya, bukan hal yang harus dipikirkan. Kita hormati mereka. Makanya dalam mengarungi lika liku kehidupan, jangan pernah anggap semua akan ada dalam keabadian. Makan asam garam yang demikian, mungkin saya sudah 19 lembar sertifikat kehidupan nyata. Jadi, jangan pernah mengatakan sahabat sejati.Yang ada adalah sahabat saat sejati.Dalam menghadapi dinamika demikian, kita tidak boleh membuang energi untuk itu.Kita jalankan tanggung jawab, termasuk saya, tentu harus melaksanakan tugas-tugas Negara hingga pelantikan rektor berikutnya. Jadi, persahabatan boleh berubah takaran, tetapi sebagai kolega tak akan berubah.

(RS): Bagaimana perasaan Anda ke depan dan apa yang telah Anda jalani dalam membangun interaksi selama menjalankan tugas pengabdian?

(R): Belum ada perasaan saya ke depan, yang ada adalah perasaan saat ini, yakni menjalankan tugas pokok sebagai dosen mengajar, meneliti (tulis artikel internasional), dan melakukan pengabdian, di samping tugas tambahan sebagai rektor. Dan tidak ada lagi cita-cita apa ke depan, sebab yang Allah berikan dan amanahkan keluarga besar Untad sudah lebih dari cukup. Saya telah menjalani berbagai tugas tambahan mulai dari Sekretaris Lemlit mendampingi Toaka saya Drs H Amir Tahawila MS. Sejak kami bantu beliau, kami rukun, saya pahami beliau dan beliau mengerti saya. Tidak pernah ada gesekan perasaan.  Setelah itu saya mendapat amanah sebagai Pembantu Dekan I Faperta damping Dr Ir H Abdullah Naser MP dan juga hangat dalam pengabdian, lanjut sebagai Dekan Faperta, lanjut lagi sebagai Rektor dua periode. Jadi amanah ini sudah cukup bagi saya untuk saya tunaikan. Setelah itu, mau tebus kesalahan saya di mata mahasiswa. Sejak memangku tugas tambahan, banyak tugas pokok yang tidak maksimal. Mestinya masuk enam kali terkadang cuma bisa 3 kali. Insya Allah, setelah ada rektor berikutnya dan sudah dilantik saya berjanji untuk menebus semua yang terbengkalai selama ini dan fokus dalam karya-karya artikel bereputasi internasional sebagai amanah yang harus diemban oleh setiap guru besar. Di samping ingin meningkatkan jumlah tulisan internasional Untad yang terindeks di scopus. Jika PTN lain bisa, Untad juga bisa.

(RS):Menjelang Pilrek digelar, tentu banyak isu yang berkembang dalam kampus. Bagaimana Anda menanggapi itu?

(R): Ya, namanya isu sudah pasti ada, dan cara saya menanggapi sederhana, yakni tidak menanggapi. Sepanjang masih sebatas saling memberi pandangan, hal demikian adalah wajar. Para calon dan pendukungnya dipastikan selalu yakin, namun saya pribadi ingin meyakinkan bahwa sehebat apapun skenario seseorang, dan sepandai apapun seseorang calon dan para pendukungnya, pada akhirnya hanya satu orang yang akan jadi rektor. Pastikan itu, tanpa memastikan siapa orangnya. Jadi, tidak perlu gontok-gontokan, sebab putaran akhirlah yang menentukan yang terbangun dari tiga pilar. Dapat dukungan suara senat, suara menteri, dan Ridho dari Allah SWT.

(RS): Terkadang ada calon dan pendukungnya yang menganggap paling hebat strategi. Padahal ketika dilihat, yang bersangkutan juga jarang-jarang berhasil dalam setiap perhelatan.Bagaimana menurut Anda?

(R):Tidak tahu saya kalau yang begitu-begitu. Bisa jadi. Tapi intinya jangan ada anak manusia yang takabur, apalagi menjuluki diri sebagai calon hebat, dan pendukung hebat tanpa melihat bahwa orang lain juga hebat. Sebagai orang yang telah Allah berikan kesempatan selama ini, tentu banyak hal yang bersifat empirikal saya lewati sesuai dengan amanah yang keluarga besar Untad berikan kepada saya. Saya sangat mensyukuri itu. Jadi tidak perlu lagi saya berkomentar, dan bagi saya siapapun yang mendapat amanah dan ridho dari Allah, itulah yang terbaik bagi Untad empat tahun ke depan. Toh kita semua adalah kolega yang harus saling memberi kepercayaan. Hanya Allah yang tidak ada kurangnya. Yang terpenting kita sadar bahwa setiap ada kekurangan mesti harus membuka diri untuk diisi oleh orang lain. Jangan dibalik. Sudah tahu banyak keterbatasan tapi membatasi diri juga atas kehadiran orang lain. Untad harus dikedepankan, bukan posisi jabatan, apalagi hanya bangga dengan jabatan tetapi tidak bangga karena kokohnya tugas dan tanggung jawab. Percaya, dalam hidup ini, tidak semua orang menyukai kita, tapi percaya pula tidak mungkin semua orang membenci kita.Itulah pelangi kehidupan.Karena berbagai corak terlahirlah kemilau keberagaman dalam menapaki setiap tetes pengabdian.Kita hadir untuk kebaikan.Bahwa ada keburukan, sejak awal memang ada pelangi.

(RS): Mengakhiri wawancara ini, apa yang Anda harapkan dalam proses Pilrek ini?

(R): Mari kita jalani proses ini apa adanya. Normatif dan tidak saling menjelekkan. Sebab setiap mengungkap satu kejelekan orang lain, itu sama dengan membuka tabir dua kali kejelekan diri sendiri. Yang pertama kejelakan yang sudah ada dan kedua kejelekan karena menjelekkan orang lain. Bismillah, Insya Allah yang terbaik sudah ada di hadapan kita masing-masing, dan Pilrek ini harus dijaga marwah kebersamaannya. Satu Untad, Satu Napas, Satu Keluarga. Terima kasih atas segala pertanyaannya.

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.