Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Pembangunan Masjid Nurul Hasanah Pengawu Terus Berproses Pekerjaannya

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

PALU-Pelaksana pengerjaan proyek pembangunan Masjid Nurul Hasanah Kelurahan Pengawu Kota Palu, Imam Prasetyo, kepada Radar Sulteng mengklarifikasi soal progress pekerjaan di masjid yang mendapat bantuan dari masyarakat dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Aceh Nanggroh Darussalam yang diinisiasi oleh Plt. Gubernur Aceh, Ir. Nova Iriansyah.

Terlebih dahulu Imam mengklarifikasi tudingan mangkrak dalam proyek beranggaran Rp 3,3 miliar ini. “Yah, saya hanya ingin mengklarifikasi soal kata mangkrak itu. Tidak benar kalau proyek ini tengah mangkrak. Proyek ini terus berjalan meskipun prosesnya cukup lama, “ tutur Imam, kepada media ini, Selasa (18/8).

Diakuinya, dalam proses pengerjaan masjid ini membutuhkan waktu yang panjang. Mengingat material yang digunakan sebagai rangka atap yakni kayu. Dimana kayu adalah material yang membutuhkan proses sebelum digunakan. “Jadi butuh proses yang panjang ketika mengambil material kayu dari sumber hingga ereksi saat ini, “ tandasnya.

Imam lalu menceritakan kronologis pembangunan masjid ini. Peletakan batu pertama pembangunan Masjid Nurul Hasanah pada 13 Februari 2019. Efektif kerja di mulakan Maret 2019 untuk pekerjaan struktur bagian bawah, mulai dari pematangan lahan, pembuatan pondasi hingga pembuatan struktur beton bertulang Agustus 2019.

“Sampai di bulan Agustus, terdapat perubahan mekanisme pencairan termin berikutnya dari Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) ke Forum Pengurangan Risiko Bencana Aceh (FPRBA), “ terangnya. Menurutnya, pada situasi tersebut terdapat masa transisi, jeda, sehingga pekerjaan efektif kembali di November 2019. Di bulan ini pekerjaan efektif kembali dan memasuki tahap pekerjaan rangka atap.

“Saya bersama pak Andry Widyowijatnoko selaku ketua tim Satgas AR ITB untuk Palu melakukan sedikit penyesuaian terhadap desain atap awal dengan melakukan penyederhanaan detail, tetapi tetap mempertimbangkan estetika secara keseluruhan sehingga pekerjaan dapat melibatkan tukang lokal dan dapat membantu pemulihan perekonomian, “ paparnya.

Diuraikannya, desain atap menggunakan sistem kayu grid bidang lipat yang belum ada presedennya di Indonesia. Selama ini struktur atap kayu selalu mengandalkan pada struktur kuda-kuda. Perbedaan inilah yang menjadikan masjid ini memiliki nilai estetika yang berbeda dengan masjid-masjid lain, bahkan dengan masjid yang berstruktur kayu yang lainnya.

Selain itu, pihaknya juga mendapatkan kendala dari ketersediaan material. “Material dengan spek yang akan digunakan tidak tersedia di Palu. Pipa baja misalnya. Setelah survey ke seluruh supplier spek yang seperti ini tidak ada. Makanya kita berisinisiatif mengorder ke Jakarta, sekaligus dengan atap sirap aspal bitumen. Perjalanannya sampai tiga mingguan, karena ordernya di akhir tahun dan sampai di Palu sudah memasuki bulan Januari 2020. Selain itu di bulan Desember, kita juga telah melakukan survey material kayu. Kendala material tersebut yang cukup banyak. Karena kita keliling ke penyedia-penyedia kayu, kayu yang sesuai spek tidak tersedia, ” bebernya.

Setelah survey, akhirnya Imam dibantu salah satu penyedia kayu yang bersedia menyediakan kayu dari daerah Morowali. “Kita pesan ke beliau yang membantu menyediakan kayu-kayu kelas ini. Pengambilan dari Morowali ternyata memakan waktu yang cukup lama juga, “ ungkap Imam.

Maka sekitar pertengahan Januari 2020, datanglah kayu dari Morowali ini kemudian dibawa ke Desa Dalaka Kabupaten Donggala untuk diproses.

“Disinilah perbedaan kayu dengan baja. Kalau baja hari ini dipesan besok bisa kita pasang. Kalau kayu ini kan masih diproses lagi. Mulai dari penjemuran selama sebulan untuk menjaga kualitas kayu, penghalusan dengam mesim ketam kemudian pengeleman dengan menggunakan resin dan mur baut. Dari kayu ukuran 3-30 direkayasa menjadi ukuran 9-60 dengan panjang 18 meter. Artinya dari penjemuran itu sudah memakan waktu, hingga akhirnya di bulan Maret baru kita bisa memobilisasi dan merangkai atap ini secara bertahap. Dengan panjang kayu 18 meter ini, kita menggunakan sistem bongkar pasang. Setelah direkayasa disambung lagi, “ urainya.

Diterangkannya, semua proses fabrikasi hingga ereksi dilakukan secara manual. Tidak sembarangan, dan tanpa mesin.

“Semua proses fabrikasi hingga ereksi dilakukan manual. Inilah semua proses yang memakan waktu yang cukup panjang. Bobot pekerjaan paling besar dan paling sulit itu di rangka atap dan atap. Kalau rangka atap dan atap telah selesai semua bisa upayakan lebih cepat, “ ujarnya.

“Kita dengan tim memikirkan sama-sama memakai sumber daya yang ada bisa menjadikan bangunan ini sesuai. Kami sadari bangunan ini memakan waktu lama, karena masalah-masalah antara lain material dan sebagainya. Tapi kalau dibilang pekerjaan ini mangkrak itu tidak betul, “ tegasnya lagi.

Dikatakan Imam, saat ini masyarakat Aceh terus melakukan pemantauan terhadap progress pembangunan masjid ini, dirinyalah yang selalu aktif berkomunikasi dengan pihak Aceh selama ini. Sejauh ini pekerjaan jalan terus.

Mengenai target pengerjaan masjid, Imam mengatakan, akan selesai di akhir tahun 2020. “Target penyelesaian pekerjaan ini di akhir tahun 2020 ini, “ pungkasnya.

Diakhir penjelasannya, Imam mengatakan, pihaknya bukanlah kontraktor tetapi sebagai rekan Pemprov Aceh dalam menyalurkan bantuan. Bahkan Imam bersama tim sebelumnya telah bekerjasama dengan Pemprov Aceh untuk mengerjakan proyek Masjid di Lombok, tepatnya di Lombok Utara. Dimana proyek tersebut menggunakan struktur bambu hingga sukses.(mch)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.