alexametrics Pembangunan Masjid Nurul Hasanah Pengawu Mangkrak Disoroti Warga – Banyumas Cyber Team
Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Pembangunan Masjid Nurul Hasanah Pengawu Mangkrak Disoroti Warga

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

PALU-Sejumlah jamaah Masjid Nurul Hasanah Kelurahan Pengawu kini menyoroti pembangunan masjid yang dinilai mangkrak, alias belum selesai dikerjakan. Masih terlihat kayu-kayu di menara masjid sebagai pertanda bangunan itu belum selesai, Selasa (11/8).

Kepada Radar Sulteng, beberapa jamaah Masjid Nurul Hasanah mempertanyakan keberadaan masjid Nurul Hasanah yang mulai dibangun pasca bencana gempa bumi yang terjadi di Kota Palu 28 September 2018. Masjid yang rusak akibat bencana alam itu mendapatkan perhatian dan empati dari masyarakat Provinsi Aceh Darussalam, yang menghimpun dana Rp 3,3 miliar.

Meski dengan modal anggaran Rp 3,3 miliar namun pembangunan masjid Nurul Hasanah terlihat tidak ada perkembangan lagi pembangunannya, membuat beberapa jamaah masjid mempertanyakan dan menyoroti pembangunan yang seolah-olah terhenti itu.

Ustadz Zumran, S.Pd.I, salah seorang jamaah Masjid Nurul Hasanah, yang dikonfirmasi Radar Sulteng tidak mengetahui persis bagaimana kelanjutan pembangunan masjid tersebut.

” Karena tidak ada informasi yang jelas tentang perkembangan progres pembangunannya alias tertutup, ” kata ustadz Zumran.

Menurut Zumran, dirinya mengetahui pembangunan masjid itu ditargetkan maksimal delapan bulan, kemudian Lurah Pengawu saat itu Mansyur, S.Sos, malah sesumbar, bahwa pembebanannya hanya menelan waktu enam bulan saja.

” Karena beliau pak Lurah yang aktif berkomunikasi dengan pihak Pemerintah Provinsi (Pemprov) Aceh. Tetapi sekarang sudah hampir dua tahun pembangunan Masjid Nurul Hasanah belum selesai juga, “ bebernya.

Dijelaskan Zumran Lurah Pengawu saat itu Mansyur, merangkap jabatan sebagai ketua Badan Kesejahteraan Masjid (BKM) Nurul Hasanah. Sebagai perwakilan masyarakat Pengawu.

“Tetapi beliau tidak mau diganggu, dan dia tutup informasi tentang perkembangan pembangunan, ” ungkap ustadz Zumran.

Demikian pula yang disampaikan Daeng Parani, warga Kelurahan Pengawu yang juga jamaah Masjid Nurul Hasanah. Mengungkapkan kepada koran ini, pihaknya belum mmehami soal kerjasama pembangunan masjid ini seperti apa mekanismenya. “Apakah ada kerjasama dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Palu atau bagaimana, itu yang tidak kita mengerti karena ini terkesan tertutup, “ ujar Daeng Parani, yang juga pegawai syara Masjid Nurul Hasanah.

Menurutnya, yang dikhawatirkan adalah jangan sampai Pemerintah Aceh hanya mendengar laporan-laporan saja tetapi secara fisik mereka tidak pernah melihat kenyataannya di lapangan seperti apakah. “Takutnya pihak kontraktor memberikan informasi yang sangat menjanjikan, tetapi di lapangan bukan seperti itu. Bahkan sempat ada informasi dari pihak Pemerintah Aceh katanya sekarang mereka menunggu kapan undangan peresmian, “ sebutnya.

Dirinya melihat progres pekerjaan masjid Nurul Hasanah baru sekitaran 30 persen. Ada informasi katanya dana sebesar Rp 3,3 miliar sudah dicairkan semua. “ Ada informasi menyebutkan bahwa dana Rp 3,3 miliar sudah dicairkan, “ ungkapnya. Dikatakan Daeng Parani ada perkembangan penanganan pembangunan itu kini dilakukan oleh Institut Teknologi Bandung (ITB).

Kini menjadi pertanyaan jamaah dan warga, masa dengan anggaran sebesar Rp 3,3 miliar tetapi yang bekerja hanya lima orang. Tukang-tukanngya didatangkan dari luar. Tukangnya juga bekerja tidak setiap hari, kadang-kadang ada kadang-kadang juga tidak bekerja.

Sementara itu, Ketua BKM Masjid Nurul Hasanah Kelurahan Pengawu Mansyur yang juga mantan Lurah Pengawu, tetapi sudah dimutasi menjadi Lurah Palupi, ketika dikonfirmasi menjelaskan bahwa progress pembangunannya itu ada.

“ Ada semua progresnya. Sudah sesuai. Pertama kan 30 persen. karena itu Pemda Aceh bersama masyarakat Aceh yang membantu. Karena kemarin itu difasilitasi oleh Pemda, dalam hal ini Gubernur Aceh langsung. Kan yang meletakan batu pertama itu Gubernur Aceh langsung, “ kata Mansyur.

Dijelaskannya, saat ini progress pembangunan Masjid Nurul Hasanah itu sudah 30 persen pertama sudah selesai, karena harus dicairkan lagi 70 persen. Dan bulan kemarin itu sudah dicairkan 70 persen untuk kontraktor pelaksananya dari ITB.

“ Ada temannya Gubernur Aceh yang mendesain masjid Nurul Hasanah, dan menyusun semuanya dia punya RAB termasuk desain kekuatan anti gempa, tahan gempa. Sehingga baru bulan kemarin pencairan 70 persen, dan itu melalui mereka, kami hanya terima kunci saja, “ ungkap Mansyur.

Dijelaskan Mansyur, sebenarnya itu pada bulan puasa sudah bisa digunakan masjidnya, namun karena beberapa bencana yang kemarin harus Aceh tangani juga sehingga bergeser. Sementara Pemda Aceh juga masih ditangani oleh Kepala BNPB Aceh dengan beberapa pejabat yang ada di sana, sehingga ada mereka punya aturan lagi untuk menangani keuangan pembangunan diserahkan kepada organisasi di Aceh. Semua bantuan harus melalui organisasi tersebut. Sehingga mereka sudah datang ke Palu, bersama-sama dengan progresnya.

“Selanjutnya ada yang dari iTB ditunjuk langsung menangani di Palu bernama Imam. Beliau langsung dari Bandung dan sekarang Imam sudah ada di Palu. Imam ini ditunjuk oleh Prof Andre, “ bebernya.

Mansyur menjelaskan, pekerjaan masjid ini ditangani khusus, pekerjaan di bagian atas masjid agak susah. Karena dia membutuhkan kayu kelas. Yang lambat itu adalah kayu. Kayu itu dipesan semua dari Morowali. Awalnya akan dikerjakan menggunakan bambu, tetapi bambu di Palu itu dipakai tidak maksimal untuk beberapa tahun sehingga dirubah jadi kayu. “Makanya bangunan atas masjid kelihatan kan kayu, “ sebutnya. Selanjutnya besi bulat, dari besi baja, itu sama dengan kekuatannya dengan bangunan yang ada di Bandara Soekarno Hatta.

Untuk mendatangkan kayu kelas dari Morowali itu, pihak kontraktor bekerjasama dengan sebuah sawmill yang ada di Palu, yang diperkenalkan oleh Ketua BKM Nurul Hasanah Pengawu Mansyur. “Malah yang di atas pantai barat itu yang berkerja dengan Jepang sempat poleskan kayunya dari Morowali, sehingga progresnya bukan lambat. Karena itu sudah begitu pekerjaannya. Bekerjanya juga tidak sembarang. Bukan seperti kerjanya tukang di sini. Yang kerja itu bukan orang Palu. Itu orang Lombok tapi tinggalnya di Kendari. Kemudian tukang las besinya itu dari Jawa. Kecuali itu yang bekerja lantai bawah untuk pondasinya dikerja oleh orang Palu. Karena memang secara teknis tidak bisa kita yang kerja, “ ulasnya.

“ Termassuk pendanaannya, agak molor sedikit. Karena tidak bisa lagi Pemda yang mengerjakan. Itu aturan yang berlaku di Pemda Aceh. Untuk kelola anggarannya diserahkan kepada salah satu wadah atau organisasi yang independen di Aceh, yang dikawal penuh oleh Inspektorat dan BPK Aceh, “ ungkapnya.

Mansyur juga merasa optimis proyek pengerjaan masjid Nurul Hasanah ini bisa rampung 100 persen dengan anggaran Rp 3,3 miliar. “ Iya saya optimis
pekerjaan masjid Nurul Hasanah ini akan rampung 100 persen dengan anggaran cukup besar Rp 3,3 miliar, “ cetusnya.

Mengenai hitungan berapa miliar sudah terpakai sebelumnya, dikatakan Mansyur dirinya tidak mengetahui hal itu. Sebab, 30 persen sudah dicairkan, dan ini lagi 70 persen. pekerjaan sebelumnya bahkan sudah melebihi target dari 30 persen, sekitar 31 persen, pekerjaan dari pondasi dengan badan masjid. “Kalau progresnya ada semua sama saya, melalui teknisinya,“ tandasnya.

Selaku ketua BKM Masjid dirinya selalu mengawal setiap item pekerjaan, dan selalu mengumumkan progress pekerjaan masjid setiap hari Jumat.

“ Kalau saya dibilang tidak transparan, sebut siapa orangnya. Karena itu tidak bisa ditutup-tutupi. Bantuan itu. Kalau namanya bantuan itu harus terbuka.

Sebenanrnya, ungkap Mansyur, awalnya dirinya sempat menolak untuk menangani pembangunan masjid ini, karena tanggungjawabnya besar, dan kita pertauhkan kepada orang banyak juga kepada masyarakat Aceh Darussalam.

“ Waktu itu mau diserahkan tanggungjawab pembangunan masjid ini ke saya, saya tidak mau. Karena ini terkait uang, “ katanya.

Disebutkan Mansyur, dirinya selaku Ketua BKM Jami Nurul Hasanah Aceh sebelumnya adalah Lurah Pengawu yang sekarang sudah dimutasi sebagai Lurah Palupi, tetapi tanggungjawab ketua BKM masih tetap dipercayakan kepada dirinya. “ Saya Ketua BKM Jami Nurul Hasanah Aceh, “ sebutnya.

Ia menyatakan untuk target penyelesaian pembangunan Masjid Nurul Hasanah Pengawau, direncanakan dua bulan kedepan, karena dirinya sudah melakukan koordinasi dengan Gubernur Aceh, karena Gubernur Aceh juga yang akan meresmikan penggunaannya nanti.

“ Iya tulis saja di koran bahwa progress itu jelas. Tidak ada dusta di antara kita. Tidak bisa kita bermain. Saya selaku ketua BKM pada saat itu sebagai Lurah Pengawu saya tidak mau memegang satu kendali urusan keuangannya, tidak. Itu semuanya dari sana (Pemda Aceh). Hanya kalau progresnya ada sama saya. Mereka selalu laporkan juga sejauh mana progress pembangunannya, “ bebernya.

Ia mengungkapkan, dalam proses pembangunan ini juga dipantau oleh warga Aceh yang ada di Palu. Ada group Aceh di Palu, dalam pengawasan. “ Ada juga di Palu sini Ketua Kerukunan Aceh, bapak Syarifudin, yang juga jabatannya sekarang ini sekretaris Dinas PUPR Kota Palu. Beliau itu ketua kerukunan Aceh yang ditunjuk oleh Gubernur Aceh untuk melakukan pengawasan pembangunan masjid Jami Nurul Hasanah. Jadi, kami selalu berkoordinasi, “pungkasnya.(mch)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.