Pelayanan Makanan Atlet PPLP Dikeluhkan

- Periklanan -

Para atlet tim PPLP Sulteng mendapat arahan Koordinator PPLP Dispora Sulteng, Sandrina Kaliey, sebelum berangkat mengikuti Kejurnas sepak takraw antar PPLP, PPLP-D dan SKO 2017, di GOR Sudiang, Makassa Sulsel. (Foto: Sugianto)

PALU – Pelayanan pemberian asupan makanan atlet binaan Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Sulawesi Tengah, melalui sentra olahraga Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) dikeluhkan, akibat mulai berkurangnya menu makanan yang dinilai sudah tidak sesuai standar.

Kondisi tersebut, menjadi perbincangan luas sehingga menyoroti Dispora Sulteng, yang dianggap tidak serius membina prestasi di daerah. Padahal anggaran dari APBN untuk pelayanan setiap cabang olahraga di PPLP nilainya cukup besar.

“Tolong diselidiki itu, makanan atlet di PPLP sudah tidak sesuai standar, banyak yang mengeluh,” kata salah seorang sumber kepada Radar Sulteng, Kamis (20/7) kemarin.

Menurutnya ada beberapa waktu kondisi makanan atlet di PPLP sedikit memprihatinkan. Jika sebelum-sebelumnya masih dikombinasikan dengan makanan seperti kacang hijau, telur dan susu, saat ini sudah mulai berkurang.

“Bahkan ada suatu hari anak-anak kita makan hanya saus sambal. Anak kami yang bercerita itu, tentu kami pertayakan ada apa?” kata sumber bercerita kepada wartawan.

Disampaikan jika hal itu tidak dilakukan dikontrol, pengawasan yang baik oleh pihak yang berwewenang soal itu, maka pembinaan prestasi di PPLP yang selama ini dibanggakan akan tenggelam seiring berjalannya waktu.

“Kalau saat ini, kami tidak tahu. Apakah makananya sudah bagus atau tidak, tapi sebelumnya banyak mengeluh,” bebernya.

Lebih lanjut, sumber yang meminta namanya untuk tidak korankan ini, menyebut bahwa yang harus bertanggungjawab soal layanan pembinaan atlet, termasuk soal asrama dan makanan adalah Dispora Sulteng.

“Kami tidak menuduh, yang jelas kami menganggap ada oknum di Dispora yang kami anggap “pedagang sate” yang mau untuk besar sehingga kebutuhan utama atlet terabaikan,” jelasnya.

Sementara sumber lainnya, terang-terangan menyebut bahwa permasalahan di PPLP Sulteng soal layanan makanan yang tidak sesuai standar dilakukan sendiri oleh PPK/APBN Dispora Sulteng, tak lain adalah Pimpro PPLP Sulteng, Sandrina L Kaliey. “Ini bukan berita bohong, ini fakta di lapangan,” ucapnya.

Untuk meyakinkan ucapannya tersebut, ia menyampaikan salah satu contoh, bahwa di PPLP Sulteng memang dimonopoli oleh Sandrina. Misalnya mulai dari merekrut, penyediaan catering, sampai pengadaan barang dan jasanya juga dilakukan oleh Sandrina. “Semua ke dia, ataukah karena antara Kadis dan Sandrina, memiliki kedekatan,” tanya sumber satu ini.

Munculnya persoalan ini tentunya menambah sorotan ke Dispora Sulteng, belum lagi prestasi PPLP yang mulai menurun, seperti di cabang pencak silat. “Masalah soal tidak sesuainya standar gizi tentu menjadi sorotan di kalangan masyarakat dan pemerhati olahraga, karena PPLP itu menggunakan anggaran pusat,” tandasnya.

Terpisah, PPK Sandrina L Kaliey, yang dikonfirmasi membantah adanya tudingan tersebut. Ia menegaskan makan minum atlet yang dikelolanya selaku PPK sudah sesuai standar berdasarkan standar ahli gizi. Menurutnya, kalaupun terjadi kemungkinan hal itu hanya bersifat sementara yang diakibatkan pergantian juru masak pihak catering.

‘’Mungkin itu terjadi karena ada pergantian tukang masak. Misalnya tukang masaknya lagi sakit, otomatis harus diganti. Kalau dibilang di bawah standar, pelatih juga makan. Silahkan tanya saja, pelatih sering makan disitu,’’kata Sandrin.

Terkait dengan susu yang menjadi salah satu minuman kesehatan atlet menurut Sandrina selalu tersedia. Namun dia mengakui kemungkinan adanya kelalaian dari pihak penyedia makanan (Catering) yang mungkin pernah tidak menyediakan susu. Untuk itu Sandrina berjanji akan meninjau kembali dan melakukan pengawasan.

- Periklanan -

‘’Kalau susu ada terus. Mungkin cateringnya, nanti saya kontrol lagi,’’kata Sandrina. ‘’Kita saja yang mungkin lalai tidak sering kontrol. Secara eksternal ada ahli gizi dan secara internal kami yang mengawasi,’’ujarnya.

Dikatakannya dengan adanya keluhan tersebut akan menjadi masukan baginya selaku PPK agar lebih kontrol dalam penanganan makan minum atlet. Terkait dengan keluhan makanan dirinya meyakini tidak ada masalah.

‘’Kita selalu menanyakan kepada atlet. Dan mereka bilang tidak masalah,’’terang Sandrina.

Menyinggung soal perannya yang dinilai dominan karena mempunyai kedekatan dengan kepala Dinas, Sandrina menjelaskan, bahwa hal sebatas antara bawahan dan pimpinan yang juga pengguna anggaran.

‘’Kalau masalah kedekatan, saya ini PPK. Tidak mungkin kalau ada apa-apa saya tidak melapor kepada atasan. Dia (Kadis) Pengguna anggaran,’’tegasnya.

Dia membeberkan sering terjadi koordinasi dengan kepala bidang namun tidak ada penyelesaian sehingga dirinya memilih langsung kepada kepala dinas.

‘’Terus terang, kadang kita dengan kepala bidang koordinasi, tapi tidak ada penyelesaian. Ya kita langsung (Kadis),’’bebernya.

Menanggapi menurunnya prestasi di cabang olahraga pencak silat, Sandrina menjelaskan hal itu disebabkan atlet yang dibina saat ini adalah atlet baru yang belum berpengalaman.

Sementara Kadispora Dr Yunan Lampasio SE MSi, mengatakan gizi atlet yang sesuai yang dimasukkan tender tetap standar gizi dan kalaupun tidak sesuai gizi maka atlet sekarang akan mengeluh kesakitan.

“Dan sekarang atlet baik-baik saja kok, meski saya tidak telusuri ke dalam,” ucapnya.

Menurutnya memang soal makanan atlet hingga saat ini telah diusulkan ke Kemenpora, namun hingga saat belum juga turun. Kejadian itu juga dialami dari seluruh Indonesia.

“Intinya kita punya standar gizi untuk atlet. Besok (Jumat hari ini, red) saya berkoordinasi kumpul seluruh atlet,” jelasnya.

Selanjutnya Kadispora, menyampaikan kalaupun ada masalah dari catering tentunya akan diverifikasi dan harus diperbaiki. Sebab dalam pengelolaan PPLP juga dilibatkan dari aspek pengawasan, baik pada tingkatan PPTK, Kepala Bidang dan Kepala Dinas.

“Saya tidak mungkin telusuri secara teknis harus ada susu, dan harus ada telur, tapi itu adalah parameter yang harus ada,” terangnya.

Disinggung soal peran Sandrina, yang dinilai memiliki kedekatan dengan Kadispora dalam penyelenggaraan kegiatan-kegiatan Dispora, Yunan menilai itu hal wajar, karena Sandrina ditunjuk sebagai PPK yang harus selalu berkoordinasi.

“Karena siapa yang mau mengurus atlet? sehingga kita SK-kan (Sandirna, red) untuk mengurus PPLP ini,” pungkasnya. (awl/egi)

 

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.