Portal Berita Online koran Harian Umum Radar Sulteng. Berbasis di Palu, Sulawesi Tengah dan merupakan Jaringan Media Jawa Pos National Network (JPNN)

Pelaku Pencurian Arca Tidak Disanksi Hukum

Tim Cagar Budaya Berhasil Kembalikan Arca Meboku ke Titik Awal

PALU – Para pelaku pencurian Arca Meboku atau situs Parawali di Desa Rompo, Kecamatan Lore Tengah Kabupaten Poso tidak diberi sanksi hukum.
Para pelaku yang diduga warga sekitar dan juga diduga melibatkan aparat desa, tidak menjalani pemeriksaan polisi dan menjalani sanksi pidana. “Kemungkinan para pelaku hanya dikenakan sanksi adat setempat,” kata Kepala Seksi (Kasi ) Cagar Budaya dan Permuseuman Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sulteng, Ma’mun, dalam konfrensi persnya di sekretariat Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Palu, Jumat (3/5).
Menurut Ma’mun, setelah sebelumnya, Arca Meboku sempat dicuri pada 17 Agustus 2006 dan sudah sempat memindahkan dari titik awal sekitar 200 meter ke tepian jurang. Kamis lalu (25/4) tim cagar budaya dan permuseuman Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tengah, berhasil mengembalikan Arca Meboku, di situs Parawali, Desa Rompo, Kecamatan Lore Tengah, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.
“Proses penemuan dan pengembalian arca dilakukan oleh Seksi Cagar Budaya dan Permuseuman Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulteng, dibantu Balai Pelestarian Cagar Budaya ( BPCB ) Gorontalo, Arkeolog, dan Juru Pelihara Situs,” jelasnya.

Menurutnya, proses pengembalian Arca yang diperkirakan berusia 2.000 tahun dengan berat sekitar 1 ton lebih itu melibatkan sekitar 20 orang, dengan menggunakan standar konservasi sesuai perundang-undangan selama lima hari. “Pelaku mencoba melakukan upaya pencurian Arca saat warga sekitar sibuk merayakan hari Kemerdekaan RI, 17 Agustus 2006 silam.
“Juru pelihara situs yang awalnya mengetahui Arca hilang dari tempatnya dan langsung melaporkan kejadian tersebut. Sebelum pelaku menjual ke kolektor saat dilakukan pencarian Arca itu ditemukan di tebing curam,” terangnya.
Menurut Ma’mun, Arca Meboku yang hendak dicuri tersebut bernilai sekitar Rp 800 juta karena pernah ditawar para kolektor sebesar nilai itu. “Kolektor pembelinya dipastikan warga asing, bukan warga lokal. Karena yang suka Arca berusia ribuan tahun biasanya warga negara asing,” ujarnya tanpa menyebut identitas kolektor yang menawar Arca tersebut.
Ditanya apakah selain upaya pencurian Arca Meboku apakah ada Arca lain yang juga hilang ? Menurutnya, ada satu Arca yang belum diketahui jenisnya hilang. Hal itu diketahui dari sisa jejaknya atau bekasnya. Hingga saat ini tidak diketahui keberadaannya. “Ada satu jejak Arca yang ukurannya cukup besar juga di daerah Lore. Tapi barangnya sudah tidak ada entah kemana,” katanya.
Ditambahkannya, khusus di daerah Lore diperkirakan ada sekitar 2.000 an Arca yang tersebar di beberapa tempat. Hanya saja belum semua berhasil ditemukan, karena kemungkinan masih tertimbun di dalam tanah atau tertutup rumput. “Kalau dilakukan pencarian bisa banyak ditemukan. Saya yakin masih banyak arca yang belum ditemukan di Lore,” katanya.
Untuk mengantisipasi terjadinya aksi pencurian situs purbakala yang ada di Kabupaten Poso itu, Ma’mun berharap pemerintah, khususnya Pemerintah Poso bisa memberikan perhatian khusus untuk melibatkan petugas pelihara sekaligus penjaga arca-arca yang memiliki usia ribuan tahun itu. “Memang saat ini sudah ada petugas pelihara sekaligus penjaga arca di Lore, tapi jumlahnya terbatas dan tidak bisa maksimal melakukan pengawasan. Pemda Poso harusnya memberi perhatian masalah ini,” pungkasnya. (ron)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.