Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Pelaku Pembunuhan Wartawati Sembunyi di Kandang Ayam

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Cekik Leher Korban Gunakan Selendang

TERTANGKAP : Pelaku pembunuh wartawati yang tidak lain suaminya sendiri saat digiring polisi menuju tahanan Polres Palu, Minggu (19/3). (Foto: Agung Sumadjaya)

PALU – Berakhir sudah pelarian Yohanes Rinu Sandipu. Pria yang selama dua hari terakhir dicurigai sebagai dalang penyebab kematian Maria Yeane Agustuti, wartawati Harian Palu Ekspress ini, akhirnya ditangkap aparat kepolisian.

Tanpa perlawanan, pelaku yang juga suami dari korban ini, ditangkap dari tempat persembunyiannya di Dusun Tolana, Desa Bega, Poso Pesisir, Kabupaten Poso, Sabtu (18/3) sekitar pukul 22.00 wita. Anggota Polres Palu dibantu aparat Polres Poso, menangkap Yohanes di sebuah kandang ayam yang ada di rumah rekannya berinisial BD. “Pelaku bersembunyi di kandang ayam,” ungkap Kapolres Palu, AKBP Christ R Pusung, kepada wartawan, Minggu (19/3) kemarin.

Kepada petugas, Yohanes mengakui semua perbuatannya. Dia tega menghabisi nyawa Manda, sapaan akrab Maria, dengan menggunakan sebuah selendang milik korban. Selendang tersebut dililitkan hingga mencekik leher korban. Tindakan keji tersebut, dilakukan pelaku, setelah malamnya sempat bertengkar hebat dengan korban. “Pada Kamis malam (16/3) sekitar pukul 20.00 wita, korban dan pelaku terlibat pertengkaran, namun berhasil dimediasi adik kandung dari korban. Tapi pada pagi harinya pertengkaran berlanjut, dan pelaku mengaku menghabisi nyawa korban menggunakan selendang milik almarhum,” tutur Kapolres.

Mengetahui korban sudah tidak bernyawa, pelaku langsung meninggalkan kos-kosan tempat tinggal pasangan suami istri ini, dengan terlebih dahulu mengunci gembok pintu kamar dan menutup tubuh korban dengan selimut. Sepeda motor milik korban pun dibawa pelaku. “Motifnya katanya karena dia sakit hati dimarah oleh korban. Ini lantaran uang korban sering hilang,” sebut Christ.

Ditanya apakah pelaku saat melakukan dalam pengaruh Narkoba, Kapolres menjelaskan, dari keterangan sementara Yohanes melakukan hal tersebut dalam keadaan sadar. Memang, menurut dia, pelaku mengakui juga pecandu Narkoba. Hal ini yang masih akan didalami penyidik juga terkait dengan indikasi adanya dugaan pembunuhan berencana. “Untuk sementara pelaku kami jerat dengan pasal 44 ayat 3 uu 23 tahun 2004 tentang KDRT dipidana maksimal 15 tahun,” ungkap Kapolres.

Turut diamankan dari tangan pelaku uang sebesar Rp300 ribu rupiah. Sedangkan motor milik korban, untuk sementara masih diamankan di Mapolres Poso. Sedangkan barang bukti yang disita aparat, masing-masing gembok pintu kos serta selendang berwarna hijau yang digunakan menjerat pelaku. Informasi yang didapatkan dari pihak keluarga, ternyata korban juga tengah mengandung tiga bulan. Namun hal tersebut, belum berani dipastikan pihak kepolisian, menunggu hasil visum resmi dari dokter forensik.

Pelaku yang terus tertunduk, ketika ditanya apa yang melatarbelakangi perbuatannya , mengatakan jika dia tega menghabisi nyawa istri yang sudah mendampinginya selama 6 tahun tersebut, hanya karena sakit hati. Dia tidak terima disebut mencuri uang milik korban. “Saya sakit hati,” singkat Yohanes.

Sementara itu, dikutip dari viva.co.id, kabar meninggalnya Manda mengejutkan keluarganya di Ruteng. Lusia Riza Mado (65), ibunda almarhumah sangat terpukul dengan kematian buah hatinya itu. Sebaliknya, ayahanda Frans Ndos diam saja di ruang tengah rumah duka di Redong Kelurahan Wali Ruteng. Tatapannya kosong. Pria renta berusia 75 tahun ternyata sudah lama menderita dimensia (pikun). “Sungguh tragis kematian anak kami ini, yah mungkin sudah takdirnya (Tuty). Ia meninggal seperti itu. Kami keluarga ikhlas menerima,” ujar Lusia, Sabtu (18/3).

Dia pun meminta menantunya tersebut dihukum seberat-beratnya. “Saya ibunya Tuty meminta Yohan (pelaku) dihukum seberat-beratnya. Semoga jenazah anak saya segera dipulangkan ke Ruteng,” ujarnya.

Kematian Tuty membuat keluarga terpukul terlebih bagi Lusia Riza Mado ibunda almarhumah. Lusia menuturkan, sejak menikah dengan Rinu Yohanes alias Yohan tahun 2010, anak ke enamnya itu jadi sering curhat melalui sambungan telepon.

“Ceritanya itu yah dia tidak bahagia dengan suaminya. Sering cekcok. Katanya uang gaji anak saya (Tuty) dihabiskan buat mabuk-mabuk saja,” ungkap Lusia. Tidak hanya mabuk minuman keras, menantunya itu ternyata pemakai narkoba. “Itu yang selalu diomongkan Tuty, bahwa uang gajinya sebagai wartawan cepat habis karena dipakai suaminya beli narkoba dan bersenang-senang,” katanya.

Menurut Lusia, pertengkaran antar Tuty dan suaminya sebelum Tuty ditemukan tewas juga dipicu masalah narkoba. “Anak saya yang di Palu namanya Sukur dia yang melerai pertengkaran mereka malam itu (Kamis malam, 16/3). Sukur bilang ke saya keributan itu karena masalah narkoba. Ada SMS-nya Tuti ke Sukur bahwa suaminya narkoba lagi,” ujarnya.

Senin pagi tadi (20/3), jenazah Maria diterbangkan ke kampung halamannya dengan pesawat komersil didampingi 5 orang saudara kandungnya. (agg)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.