Pelaku Pembuang Bayi di Petobo Ibu Kandungnya Sendiri

- Periklanan -

Pelaku pembuang bayi (kanan), diamankan pihak kepolisian, saat berada di Kantor Polsek Palu Selatan. (Foto: ist)

PALU – Pelaku kasus pembuangan bayi yang ditemukan tak bernyawa oleh warga di saluran air, di Jalan Nambo, Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu, Senin (20/11), akhirnya berhasil diungkap dan langsung diamankan pihak kepolisian.

Informasi yang diperoleh, setelah melakukan penyelidikan pihak Polsek Palu Selatan akhirnya berhasil mengungkap pelaku pembuang bayi malang tersebut. Pelakunya tidak lain adalah ibu kandung bayi malang tersebut. Selvie (35 tahun), perempuan yang tega membuang anaknya tersebut diketahui warga Jalan Nambo, Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu.

Kapolres Palu AKBP Mujianto SIK, membenarkan jika pelaku pembuang bayi itu sudah diamankan oleh anggota Bhabinkamtibmas Kelurahan Petobo, Polsek Palu Selatan,  Brigadir Moh. Ridho Ponulele, Bripka Dedi, dan Aipda Budinovrizal bersama Babinsa, Ketua Adat, Lurah Petobo, dan Pegawai Kelurahan Petobo.

- Periklanan -

“Setelah dilakukan pemeriksaan awal, pelakunya adalah ibu kandungnya sendiri,” ungkapnya.

Mujianto mengatakan, sementara untuk motif pelaku melakukan aksi kejinya tersebut, Sat Reskrim Polres Palu, dan Unit PPA, masih melakukan proses penyidikan lebih lanjut.

“Saat ini pelaku sudah kami amankan di Mapolres Palu, dan ditangani oleh Unit PPA untuk dilakukan proses penyelidikan,” tambahnya.

Pelaku dijerat pasal 80 ayat 3 undang-undang RI nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan UU nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak yang berbunyi kekerasan yang dilakukan terhadap anak di bawah umur yang mengakibatkan korban meninggal dunia diancam paling lama 15 tahun kurungan penjara dan denda paling banyak Rp3 Miliar, dan pasal 194 UU nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan yang berbunyi setiap orang dengan sengaja melakukan aborsi tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 75 ayat (2) yang berbunyi larangan melakukan aborsi dapat dikecualikan berdasarkan: indikasi kedaruratan medis, kehamilan akibat perkosaan, dengan ancaman hukuman 10 tahun penjara dan denda paling banyak Rp1 miliar. (who)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.