Pekerja Padat Karya Diarahkan Miliki Industri Rumahan

- Periklanan -

BERSIHKAN JALAN: Peserta Program Padat Karya membersihkan trotoar jalan di dalam kota Kalu beberapa waktu lalu. (Foto: Mugni Supardi)

PALU – Pemotongan gaji peserta padat karya hingga 50 persen, diyakini akan berdampak pada kekecewaan peserta program pemberdayaan masyarakat tersebut. Untuk mengantisipasi hal itu, maka peserta padat karya akan diajari keterampilan supaya bisa memiliki industri rumahan.

Hal itu disampaikan Sekretaris Komisi C DPRD Kota Palu, Rusman Ramli, di sela-sela resesnya di aula Kantor Kelurahan Besusu Barat, Jalan Soeharso, Jumat (13/1).

Menurut Rusman, pengurangan gaji bisa berdampak pada berkurangnya pendapatan peserta padat karya. Olehnya menurut Rusman, salah satu cara agar tetap bisa memiliki penghasilan yang cukup, peserta padat karya akan diberi pelatihan kerampilan sehingga bisa memproduksi barang layak jual.

- Periklanan -

Rusman menjelaskan, pemotongan gaji dilakukan beriringan dengan beban kerja peserta program padat juga ikut dikurangi.

“Ke depan, kerja peserta padat karya tidak setiap hari lagi. Namun setiap Sabtu dan Minggu saja,” ujar Rusman.

Rusman juga tidak memungkiri bahwa pengurangan gaji dari Rp500 ribu/bulan perorang menjadi Rp250 ribu, akan berdampak pada tidak terimanya peserta padat karya. Namun, DPRD Palu mendorong Pemkot Palu untuk memberikan pelatihan keterampilan kepada peserta padat karya. Seperti mendirikan industri-industri rumahan.

“Mereka tidak seharusnya selalu berharap dari program padat karya,” terangnya.

Terkait kerja untuk membersihkan tempat-tempat umum nantinya, akan dibuatkan pola kerjanya oleh SKPD terkait. “Nanti akan ada teknis pembersihan yang diatur dinas terkait. Jika selama ini peserta padat karya membersihkan secara bergerombol, ke depan tidak lagi seperti itu,” demikian Rusman. (cr5)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.