Pasigala Butuh Tenaga Kerja Konstruksi

Libatkan Siswa SMK dalam Pelatihan Bina Jasa Konstruksi

- Periklanan -

PALU- Secara nasional mengalami kekurangan jumlah tenaga kerja konstruksi yang bersertifikat, baik itu tenaga trampil maupun tenaga ahli. Saat ini tercatat baru sekitar 6.000 orang tenaga kerja konstruksi yang bersertifikat. Sementara kebutuhan setiap tahunnya sekitar 1 juta tenaga kerja konstruksi yang bersertifikat.
Hal itu disampaikan Direktur Kerjasama dan Pemberdayaan Dirjen Bina Konstruksi Kementerian PU dan Perumahan Rakyat, Dewi Chomistriani usai membuka pelatihan bina jasa konstruksi di Santika Hotel, Senin (28/1).
Dewi Chomistriani menyebutkan, salah satu stategis untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja jasa konstruksi dengan mengajak sekolah, pendidikan kejuruan, vokasi, untuk bisa berkontribusi dalam jasa konstruksi.
Khusus untuk daerah terdampak bencana seperti Palu, Sigi dan Donggala (Pasigala) mendapat perhatian khusus untuk pembinaan melalui pelatihan jasa konstruksi. Semua provinsi akan mendapatkan program ini, namun untuk di Kota Palu dan sekitarnya sama seperti halnya NTB mendapatkan perhatian khusus karena sekarang di daerah terdampak bencana sangat butuh tenaga kerja yang cukup banyak, salah satunya menyelesaikan pekerjaan Hunian Sementara (Huntara) dan Hunian Tetap (Huntap) bagi korban yang terdampak bencana. “Pastinya tenaga kerja konstruksi sebagai salah satu kebutuhan rantai pasok yang harus kita penuhi. Pasti kita memberi perhatian khusus untuk daerah terdampak bencana termasuk Palu,” katanya.
Lebih lanjut Dewi Chomistriani yang didampingi Kadis Binas Marga dan Penataan Ruang, Ir. Syaifullah Djafar, MSi dan Kepala Balai Jakon VI Makassar. Ir Faisal Lukma, MT, menjelaskan, Kementerian PUPR sekarang menunggu kebijakan dengan kementerian-kementerian lain yang memang kewenangan untuk menghasilkan siswa-siswa yang bisa bekerja di jasa konstruksi. Saat ini kementerian PUPR sudah bekerja sama dengan kementerian pendidikan dan kebudayaan, bekerjasama juga dengan Menristekdikti. “Bagaimana agar siswa-siswa SMK nantinya tetap tertarik di dalam jurusan bidang jasa konstruksi dan mereka difasilitasi untuk uji sertifikasi,” ujarnya.
Menurut Dewi Chomistriani, sebagai tindaklanjutnya peserta pelatihan bina jasa konstruksi khususnya siswa, akan dimasukan dalam satu program yang diinisiasi Kemendikbud dan Menrisetdikti, namanya program link and match. “Di dalam program ini para siswa nantinya punya kesempatan untuk magang di badan usaha jasa konstruksi yang sedang melaksanakan pekerjaan yang dibiayai dari anggaran kementerian PUPR,” terangnya. (ron)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.