Pascabencana, Bangunan Publik di Palu Banyak Gagal Struktur

Jembatan III Palu dan Masjid Agung Juga Rawan

- Periklanan -

PALU-Sejumlah fakta menarik tentang ketahanan beberapa bangunan publik di Kota Palu pascagempa dan tsunami 28 September, terkuak dalam diskusi fokus bertajuk Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Palu Sigi Donggala.
Diskusi yang digelar di salah satu café kopi di kawasan Jalan Sam Ratulangi, Rabu malam (20/2), itu merupakan tindak lanjut dari kegiatan assessment penelitian bangunan dan jalan pasca gempa di wilayah yang terdampak oleh tim Ikatan Nasional Tenaga Ahli Konsultan Indonesia (INTAKINDO).
Dalam materi Kegagalan Struktur Bangunan Pasca Gempa di Palu, Dr Anwar Dolu ST MT seorang dosen dan peneliti struktur, mengungkapkan beberapa bangunan publik di Kota Palu, ternyata tidak tahan gempa dan gagal dalam segi struktur. Padahal Kota Palu memiliki riwayat sejarah gempa yang panjang.
Bangunan pertama yang dibahasnya adalah bangunan Masjid Agung. Menurutnya tampak secara luar gedung ini baik-baik saja, tetapi sejatinya mengalami kerusakan pada struktur sehingga harus dilakukan pembongkaran total.
Kegagalan struktur juga terlihat dari Jembatan Palu IV dan rumah susun sederhana sewa (Rusunawa) Kalikoa yang terletak di Jalan Sungai Wera. Anwar menyebut Jembatan IV hanya memiliki empat pengaman yang tertempel dan bangunan Rusunawa tidak memiliki besi behel dalam strukturnya. “Ada banyak yang dilanggar dari segi keamanan struktur,” katanya.
Yang mengkhawatirkan saat ini, ungkap Anwar adalah Jembatan III Palu yang ada di Jalan Kimaja. Jembatan padat kendaraan di waktu-waktu tertentu ini, rupanya mengalami keretakan pada struktur di bawahnya dan cenderung condong ke arah selatan. Kondisi ini terjadi pascagempa. Di hadapan Sekdaprov Sulteng Hidayat Lamakarate yang ikut hadir dalam diskusi, dia pun meminta perhatian pemerintah dalam upaya melindungi keselamatan warga.
Anwar dalam pemaparannya juga mengingatkan dalam masa rekontruksi dan rehabilitasi nantinya, agar pemerintah tidak gegabah dalam membangun kembali. Bangunan dan infrastruktur publik yang dibangun haruslah tahan gempa untuk melindungi nyawa dan membatasi kerugian harta benda akibat bencana di masa depan.
Untuk itu, Anwar mengatakan Sulawesi Tengah sejatinya memiliki standar sendiri dalam membangun. Meskipun secara nasional ada panduan bangunan tahan gempa, yang juga merujuk pada Kerangka Kerja Sendai untuk Pengurangan Risiko Bencana tahun 2015 – 2030. Pasalnya, dari karakteristik gempa dan tsunami di Kota Palu berbeda. Di tambah dengan kejadian likuifaksi.“Apakah bisa Sulawesi Tengah memiliki standar sendiri?” kata Anwar.
Karakteristik bencana yang khas di Kota Palu, Sigi dan Donggala, rupanya tidak lepas dari sifat dan jenis sedimen serta kondisi air tanah. Dr Sukiman Nurdin ST MT dalam materinya Kerentanan Sedimen dan Air Tanah Pascagempa di Kota Palu, banyak mengungkapkan tentang faktor penyebab likuifaksi dan potensi ancamannya di masa mendatang.
Sukiman menyebut bawah selain berada di kemiringan, di bawah tanah Balaroa memiliki patahan dan sumber air yang banyak. Di lokasi patahan tersebut dahulu orang mengenalnya dengan sebutan Pusentasi. Sementara di Petobo, Sukiman menyebut keberadaan irigasi turut berkontribusi terjadinya likuifaksi. Sebab, sejatinya tanah di Petobo cenderung kering tapi karena irigasi jadi lahan basah.
Mendengar penjelasan ini, M. Irwan Lapata yang turut hadir dalam diskusi, lantas meminta agar tim INTKINDO memberikan rekomendasi resmi kepada pihaknya. Sebab, menurutnya, irigasi di Sigi membentang dari Gumbasa-Petobo. Dia khawatir di masa depan irigasi akan menjadi sumber masalah.
“Menurut ahli di Kementerian PUPR irigasi tidak menjadi penyebab likuifaksi. Karena itulah, sangat penting rekomendasi dan tindaklanjut dari diskusi ini. Saya meminta adanya pertemuan formal setelah ini,” ungkap Hidayat.
Sementara itu, rekomendasi bangunan tahan gempa muncul dari Zulkifly Pagessa dalam materi Arsitektur Vernakular: Tawaran dari Tradisi Masyarakat Kaili. Dia mengungkapkan bangunan tradisonal terbukti tahan gempa pascabencana lalu. Ada bukti foto yang diperlihatkannya. Salah satunya bangunan lobo di Ngata Toro, Kabupaten Sigi.
Selain itu, ada bangunan di Suku Kaili di daerah Sulawesi Barat, yang masih bisa berdiri di atas tanah dengan kadar air tinggi. “Ada penurunan tanah setiap tahun, karena di bawahnya ternyata gembur sekali,” sebut Zulkifly. Daerah ini kerap jadi incaran pembukaan lahan sawit.(uq)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.