Pasang Perangkap Pinjaman BKSDA Untuk Buaya Berkalung Ban

- Periklanan -

PALU –  Tim Jawa Pos–Radar Sulteng terus berupaya menggunakan berbagai cara agar bisa mengevakuasi buaya berkalung ban (B3) memasuki hari keenam sejak dilakukannya upaya penyelamatan buaya berkalung ban di Jembatan II Palu, tim melakukan cara menggunakan perangkap.

Tim penyelamat buaya berkalung ban memasang perangkap yang dipinjam di BKSDA Palu, kemarin (26/1). (Foto: Dite/JawaPos)

Kali ini Panji bersama tim berinisiatif meminjam alat-alat yang ada di Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kota Palu. BKSDA Kota Palu sendiri sudah menerima surat peminjaman perangkap besi yang dimiliki BKSDA Palu, Jumat (26/1).

Sekitar pukul 14.25 Wita, buaya berkalung ban itu sempat terlihat di sekitar muara yang tak jauh dari Jembatan IV (Jembatan Kuning) dan berjemur di daratan sekitar 20-30 menit kemudian setelah itu kembali kedalam air.

Sementara, perangkap besi yang dipinjam tim Jawa Pos – Radar Sulteng sore kemarin (26/1) langsung bergegas memasang perangkap besi itu di area tempat bekas reklamasi dimana buaya malang itu acap kali menampakan diri. Perangkap besi itu kemudian didalamnya diberikan umpan seekor bebek agar menarik perhatian buaya dan buaya berkalung ban tersebut bisa berhasil memasuki perangkap yang dipasang tim.

- Periklanan -

Tim Jawa Pos – Radar Sulteng membagi sejumlah tim dan bergantian agar tetap menjaga perangkap besi yang telah dipasang. Tim juga bergantian mengawasi sejumlah titik di antaranya Jembatan II Kelurahan Tavanjuka dan Muara dekat Jembatan IV  yang merupakan posisi tempat terakhir kali buaya berkalung ban menampakan dirinya sore kemarin.

Tim penyelamatan buaya berkalung ban yang dilakukan Panji Petualang bersama Jawa Pos Group terus mencari strategi baru. Kali ini tim mencoba opsi penangkapan dengan perangkap dari besi.

Perangkap besi itu didapat setelah Radar Sulteng (Jawa Pos Group) berhasil meminjam dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulteng. “Kami berharap dengan cara ini buaya bisa ditangkap dan dievakuasi ke darat,” ujar Murtalib, pemimpin redaksi Radar Sulteng.

Perangkap ini berbentuk seperti perangkap tikus biasa. Penggunaannya, buaya terlebih dulu dipancing dengan ayam atau bebek. Setelah masuk, baru penutup yang ada diujung bisa menutup secara otomatis karena gerakan buaya yang menerkam mangsa.

Perangkap ini sendiri berbentuk knockdown. Terdiri dari empat bagian yang bisa dirangkai memanjang. Panji Petualang berharap masyarakat tidak membuat gaduh di sekitar perangkap dipasang. “Semoga pemancing juga bisa pengertian dengan sementara berpindah tempat,” ujarnya.(cr3/gun)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.