Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Parcel di Gajah Mada Terselip Produk Kedaluwarsa

Ditemukan saat Sidak Balai POM Jelang Nataru

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

PALU – Untuk memberikan jaminan keamanan pangan kepada masyarakat, pengawasan terhadap produk pangan terus digencarkan Balai POM di Palu, meskipun masih di tengah suasana pandemi. Pada Selasa (15/12) kemarin, Balai POM di Palu menemukan salah satu distribusi pembuat sekaligus distributor penjual parcel di Jalan Gajah Mada yaitu UD Asia Jaya. Parcel di lokasi ini setelah dilakukan pemeriksaan, ditemukan salah satu produknya, crispy oats cheese flavor sudah kedaluwarsa.

“Yang pastinya kita minta semuanya dikeluarkan, kemudian akan dilakukan pemusnahan,” singkat Kepala Balai POM di Palu, Fauzi Ferdiansyah kepada Radar Sulteng, di sela-sela inspeksi mendadak (Sidak) dalam rangka intensifikasi pengawasan pangan menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Menurut Fauzi, produk kedaluwarsa ini pengadaannya rupanya langsung dari Surabaya, Jawa Timur. Saat didalami, pemilik parcel juga sudah mengecek karena ada produk yang serupa rasa coklat, namun kedaluwarsanya aman karena sampai tahun 2021. Tetapi ternyata, untuk yang varian keju tidak termonitor, bahwa sudah kedaluwarsa di bulan November 2020. Sedikitnya ada 12 produk kedaluwarsa sudah dimasukan dalam parcel, dan ada 7 produk lainnya yang masih berada di gudang.

“Pemilik parcel cukup kooperatif, jadi kita lakukan pembinaan saja, karena sebagian besar yang lain sudah bagus, kita cek gudangnya di belakang produknya terdaftar, dan tidak kedaluwarsa kecuali yang satu ini,” lanjut Fauzi.

Kata Fauzi, jika produk kedaluwarsa dibeli oleh masyarakat dan dikonsumsi, dikhawatirkan akan menimbulkan keracunan atau mungkin ada efek bahaya yang lain.

“Kita belum bongkar sekarang, nanti pemiliknya antar ke kantor, kita juga sudah menghitung jumlahnya,” ujarnya.

Fauzi meminta kepada masyarakat agar lebih teliti lagi dalam hal pembelian barang, khususnya produk pangan. Pengecekan itu bisa dilakukan sesuai tagline Balai POM, Cek KLIK. Yang pertama cek kemasannya, apakah ada yang rusak, robek, penyok, karatan dan sebagainya, bila ada jangan dibeli, karena bisa mempengaruhi produk yang ada di dalamnya. Kemudian cek labelnya, karena banyak informasi yang berada di label dari nama produk sampai nomor registrasinya. Juga bisa diketahui apakah produk itu kategori MD yang merupakan produk dalam negeri, atau ML produk luar negeri, dan PIRT merupakan produk tangan berskala rumah tangga. Selanjutnya cek komposisinya, karena barangkali si konsumen alergi terhadap sesuatu, walaupun produknya secara umum aman.

“Dan izin edar, itu bukan hanya jejeran angka, tapi jaminan dari kita bahwa produknya aman dan bermutu. Kemudian yang terakhir, kalau sudah kedaluwarsa jangan dibeli. Susahnya kalau parcel tidak bisa lihat di dalamnya, jadi itu tugas kita,” sebut Fauzi.

Selain itu, Balai POM di Palu juga melakukan sidak di ritel modern seperti Transmart Carefour Palu dan Hypermart Palu Grand Mall (PGM). Di Transmart, Fauzi dan tim menemukan ada makanan kaleng yang mungkin stok lama belum kedaluwarsa, tetapi kalengnya sudah berkarat. Maka disarankan untuk makanan kaleng yang sudah berkarat untuk tidak diperjualbelikan lagi. Khawatirnya nanti akan terkontaminasi dengan produk di dalamnya. Masih di Transmart, juga ada beberapa produk makanan kaleng yang penyok.

“Kalau penyok, si lapisannya itu bisa jadi luka di dalamnya atau misalnya ada lubang sebesar jarum saja, itu bisa terjadi pertumbuhan bakteri pada isi kalengnya,” terang Fauzi.

Produk pangan PIRT di Transmart juga menjadi catatan oleh Balai POM Palu. Fauzi mengungkapkan, pihaknya tetap mendorong produk lokal, akan tetapi juga harus memenuhi persyaratan dari aspek legalitasnya, kemudian juga dari segi aspek keamanan pangannya. Karena catatannya, ada produk lokal yang belum mencantumkan nomor PIRTnya, hanya ada nomor surat, tetapi bukan PIRT. Sehingga diharapkan produk pangan di Transmart sudah memiliki izin edar baik MD, ML ataupun PIRT. Artinya disitu sudah ada jaminan keamanan pangan yang diberikan dari pemerintah, baik dari Badan POM atau Dinas Kesehatan. Kemudian juga ada beberapa nomor PIRT yang sudah hampir habis di tahun 2020, diminta agar bisa diperbaharui.

“Ketika itu diperbaharui akan dicek ulang sarana produksinya, komposisinya, produknya, apakah masih memenuhi syarat atau tidak,” ungkap Fauzi.

Produk pangan yang ditemukan belum mencantumkan nomor PIRTnya itu kata Fauzi seperti abon. Menurutnya, sejenis abon bisa didaftarkan di PIRT. Memang ada beberapa produk yang tidak bisa didaftarkan di PIRT, seperti pangan-pangan risiko tinggi tidak bisa didaftarkan, namun untuk abon masih bisa karena termasuk olahan daging tapi kering.

“PIRT itu ada hasil uji atau pemeriksaan sarana produksinya. Khawatirnya ini masih setengah jalan prosesnya, karena hanya melampirkan surat, seharusnya sudah ada PIRTnya,” tuturnya.

Intensifikasi pangan pada kemarin, Balai POM di Palu mendatangi 8 sarana ritel di Palu. Hasilnya ditemukan 8 produk pangan yang rusak dan kedaluwarsa. Untuk produk yang rusak ditindaklanjuti dengan retur, sedangkan produk yang kedaluwarsa dilakukan pemusnahan.

Balai POM di Palu juga sudah melakukan intensifikasi pengawasan pangan ke 55 sarana, baik itu di kota Palu maupun kabupaten di Sulteng sejak akhir November 2020 hingga saat ini. Dari 55 sarana, 11 sarana ada temuan sebanyak 772 item, diantaranya 599 produk pangan kedaluwarsa, tanpa izin edar 65 produk, dan tanpa label 120 produk.

“Nilai ekonominya Rp24 juta sekian, nanti dalam waktu dekat akan kami musnahkan,” tutup Fauzi. (acm)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.