Pangdam XIII Merdeka: Waspadai Kelompok Baru Setelah MIT

- Periklanan -

Ganip Warsito. (Foto:Agung Sumadjaya)

PALU – Panglima Kodam XIII  Merdeka mensinyalir ada kelompok radikal baru yang sengaja ingin mengganggu kerukunan umat beragama di wilayah Sulawesi Tengah. Hal ini, menurut Panglima Kodam (Pangdam), Mayjen TNI Ganip Warsito sedang diselidiki.

Ini kata dia, berdasarkan sejumlah aksi provokasi dalam pembakaran pintu rumah ibadah di Palu maupun Poso. Sebanyak tiga kali kejadian dalam catatan Pangdam, terjadi di wilayah Sulawesi Tengah baru-baru ini. Tujuannya, agar umat beragama di Sulawesi Tengah terpancing dan timbul sentimen keagamaan.

“Sinyal-sinyal ini yang harus kita waspadai, dan masyarakat juga jangan sampai terprovokasi. Ada indikasi inim kelompok baru, dan kita juga sedang dalami,” kata Pangdam Merdeka, usai membuka kegiatan Apel Pemuda Sulteng Bersatu, Selasa (7/3) kemarin di Yonif 711 Raksatama.

- Periklanan -

Untuk itu lah kata dia, masyarakat harus cerdas melihat aksi-aksi tersebut, sebagai bentuk dari provokasi yang ingin membenturkan sesama warga Negara Indonesia. Masyarakat pun, diminta untuk tidak terpancing dengan aksi-aksi tidak bertanggungjawab ini. Wilayah teritorial Kodam XIII Merdeka, lanjut Pangdam, memang sangat rentan masuknya kelompok-kelompok berpaham radikal.

“Sebab di Sulawesi bagian utara, kita (Indonesia) menghadap langsung ke wilayah Pulau Sulu, Filipina, yang dikenal sebagai basis ISIS di Asia Tenggara. Dan terbukti, Kelompok MIT di Poso berafiliasi dengan kelopok yang ada di Filipina. Ini juga yang perlu kita waspadai bersama, bukan hanya TNI/Polri, baik itu infiltrasi dalam bentuk pengaruh (paham radikal) maupun infiltrasi fisik (teror),” papar Ganip Warsito.

Salah satu cara mengajak masyarakat untuk ikut mewaspadai segala ancaman pemecah belah bangsa, melalui kegiatan yang digagas Korem 132 Tadulako, yakni Apel Pemuda Sulteng Bersatu. Melalui pembekalan kepada para pemuda tersebut, agar menjadi kader Bela Negera, nantinya dapat bersinergi dan menjadi tangan kanan maupun kiri dari TNI/Polri. “Banyak ancaman terhadap negara kita. Jumlah aparat TNI/Polri tidak cukup mengantisipasi segala bentuk ancaman tersebut, untuk itu lah perlu peran pemuda yang kami anggap strategis dan penting membantu dalam usaha menangkal segala bentuk ancaman,” jelasnya.

Paling tidak, ungkap Pangdam, ada informasi dari para kader Bela Negara ini, kepada TNI/Polri, agar ancama tersebut dapat dicegah dan dibatasi ruang geraknya. Dalam undang-undang dasar sendiri, setiap warga negara wajib untuk membela negara. “Selama ini memang masyarakat sudah menjalankan tugas-tugas membela negara itu dengan aktifitasnya masing-masing, tapi bagaimana dengan kegiatan semacam ini, masyarakay khususnya pemuda lebih terorganisir. Taat pada hukum pun itu sudah bela negara,” pungkas Ganip. (agg)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.