Portal Berita Online koran Harian Umum Radar Sulteng. Berbasis di Palu, Sulawesi Tengah dan merupakan Jaringan Media Jawa Pos National Network (JPNN)

Panen Bunga Kol Senilai 15 Juta

Berkat Bantuan Sumur Pengairan

SIGI – Para penyintas di Desa Sidera, Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah yang berprofersi sebagai petani mulai menikmati hasil panen sayur-mayur berkat bantuan pembaca Pontianak Post pada Februari 2019 lalu. Bantuan berupa kelengkapan sumur pertanian menggunakan (mesin Alkon) manfaatnya mulai dirasakan para petani. Seperti yang dialami pak Yono, petani Dusun 2 Desa Sidera, Kabupaten Sigi belum lama ini bisa panen sayur mayur jenis bunga kol senilai 15 juta yang ditanam hampir dua bulan lamanya. ”Kuncinya bisa tanam sayur mayur harus ada air. Alhamdulilah berkat bantuan sumur pengairan pembaca Pontianak Post saya mulai bangkit dan mengawali dengan tanam sayuran bunga kol,” kata Yono ditemui Minggu (28/4) lalu.
Pasca gempa dahsyat pada 28 September 2018, yang memporak-porandakan wilayah Kota Palu, Kabupaten Sigi dan Donggala (Pasigala), banyak petani di Kabupaten Sigi tidak bisa bercocok tanam. Pasalnya, satu-satunya sumber air dari Irigasi bendungan Gumbasa yang dibuat pemerintah rusak berat. Sampai saat ini belum ada upaya perbaikan. Solusi sumur dalam yang diberikan pembaca Pontianak Post dinilai sangat bermanfaat. Menurut Yono, untuk bisa menanam bunga kol sekira 3000 an pohon dibutuhkan lahan sekitar seperempat hektar. Tanaman ini butuh perawatan dan juga pengairan secara rutin. Diperkirakan biaya perawatan termasuk obat-obatan hingga panen menghabiskan sekira Rp 3 jutaan. ”Meski membutuhkan pengairan secara rutin tanaman bunga kol ketika mulai bunga ternyata rawan bila musim hujan. Alhamdulilah sebelum musim hujan sudah bisa dipanen,” kata Yono.
Untuk pemasaran sayuran bunga kol kata Yono, para pedagang antar pulau langsung ke lokasi petani. Biasanya per karung isi sekira 50 pohon dibeli Rp500 ribu. Hanya saja pada panenan kemarin harganya turun senilai Rp300 ribu per karung. ”Perkiraan saya meleset hanya dibeli murah Rp300 ribu per karung atau sepohonnya dihargai Rp6000,” sebutnya seraya mengatakan tetap bersyukur karena sudah bisa panen. Pak No- demikian biasa temannya memanggil langsung menunjukkan sepeda motor baru terparkir dekat pondoknya. Rupanya hasil penjualan sayur bunga kol senilai Rp15 jutaan dibelikan sepeda motor guna mendukung operasional memasarkan sayur mayur ke pasar terdekat. ” Hasil panenan bunga kol kemarin diborong pedagang. Katanya mau dibawa ke Kalimatan,” kata Yono menirukan ucapan pedagang tersebut.
Terpisah Nur Hamim yang temui Radar Sulteng mengaku juga sudah mulai panen tanaman seledri (daun sup). Tanaman ini sejak ditanam membutuhkan waktu satu bulan baru bisa dipanen. Yang lama katanya, saat pembibitan sekira 1,5 bulan. Setelah tanaman mulai bisa dipanen kata Hamim, selanjutnya tiap minggu harus dipanen dan tiap pohon diambil sekira 2 atau 3 dahannya. Yang jelas tiap minggu minimal bisa menghasilkan 50 kilogram daun sup. Sekilonya diborong pedagang seharga Rp25 ribu. ”Alhamdulilah tiap minggu sekarang sudah ada pemasukan sekira 2 jutaan,” sebut Hamim ditemui di kebunnya.
Menurut Hamim, tanaman daun sup suka tanah basah tapi tidak tahan kalau musim hujan. Olehnya, masing-masing tanaman memiliki karakteristik tersendiri. Sebagai perbandingan kata Hamim, memiliki tanaman sayuran daun sup ukuran satu petak penghasilannya setara petani yang menggarap lahan sawah satu hektar ditanami padi. (lib)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.