Pandemi Masih Beraksi Ekonomi Makin Depresi

Oleh : Mohamad Rivani, S.IP., M.M. *)

- Periklanan -

PRESIDEN Joko Widodo akhirya secara resmi mengumumkan perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4 pada minggu malam, 25 Juli 2021 melalui YouTube Sekretariat Kepresidenan. Perpanjangan PPKM level 4 ini resmi diberlakukan pada 26 Juli sampai dengan 2 Agustus 2021. Hal ini dimaksudkan untuk menekan laju pertambahan kasus Covid-19, utamanya Varian Delta yang sangat menular dan mulai menyebar dengan cepat di Indonesia.Terdapat 38.679 penambahan kasus baru pada minggu 25 Juli 2021 yang dilaporkan dari 34 provinsi di seluruh Indonesia, dan jika diakumulasikan sampai minggu 25 Juli 2021,jumlah kasus orang terpapar telah mencapai 3.166.505 dari awal pandemi masuk Ke Indonesia.

Jumlah yang tidak sedikit tersebut harus menjadi perhatian kita bersama, karena jika kita lengah dalam menerapkan 5M (Mencuci Tangan, Memakai Masker, Menjaga jarak, Menjauhi Kerumunan, Mengurangi Mobilitas) maka bukan tidak mungkin akan banyak penambahan kasus baru yang makin membuat penanganan covid-19 semakin ruwet dan susah dikendalikan. Jika ini terjadi, maka kondisi perekonomian negara makin Depresi (tertekan) dan bahkan Collapse (Runtuh). Gambaran umum Ekonomi Nasional dapat dilihat dari laporan Badan Pusat Statistik Republik Indonesia (BPS-RI) dalam rilisangka pertumbuhan Ekonomi Indonesia pada Triwulan 1 2021. Pertumbuhan EkonomiIndonesia masih terkontraksi sebesar 0,74 persen di Triwulan 1 2020 secara (y-on-y) dan terkontraksi sebesar 0,96 persen dari Triwulan 4 2020 secara(q-to-q), dari total Pendapatan Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku (ADHB) sebesar Rp 3.969,1 Triliun dan sebesar Rp 2.683,1 Triliun atas dasar harga konstan (ADHK).

Lapangan usaha yang mengalami kontraksi pertumbuhan cukup dalam yang diukur secara tahun ke tahun(y-on-y) diantaranya adalah, Transportasi dan Pergudangan sebesar 13,12 persen, Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 7,26 persen, Jasa Perusahaan sebesar 6,10 persen, Jasa Lainnya sebesar 5,15 persen, dan Jasa Keuangan dan Asuransi sebesar 2,99 persen.

Sebaliknya, beberapa lapangan usaha mengalami pertumbuhan positif, yaitu Informasi dan Komunikasi sebesar 8,72 persen, Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang sebesar 5,49 persen, Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial sebesar 3,64 persen, Pertanian, Kehutanan dan Perikanan sebesar 2,95 persen, Pengadaan Listrik dan Gas sebesar 1,68 persen, dan Real Estat sebesar 0,94 persen.

- Periklanan -

Sementara itu,lapangan usaha yang mengalami kontraksi pertumbuhansecara triwulan (q-to-q), yang juga cukup dalam dan berperan besar terhadap penurunan pertumbuhan ekonomi secara triwulan adalah; Jasa Pendidikan sebesar 13,04 persen, Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial sebesar 10,10 persen, dan Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib sebesar 9,86 persen. Di sisi lain, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan dan Perikanan sebesar 9,81 persen, diikuti Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor sebesar 1,07 persen, Pengadaan Listrik dan Gas sebesar 0,98 persen; Informasi dan Komunikasi sebesar 0,89 persen; Industri Pengolahan sebesar 0,61 persen, dan Real Estat sebesar 0,18 persen.

Selain BPS, Bank Indonesia (BI) juga melaporkan defisit transaksi berjalan (Current Account Defisit) pada triwulan 1 2021 sebesar 1,0 miliar dolar AS (0,4 persen dari PDB), setelah pada triwulan sebelumnya mencatat surplus sebesar 0,9 miliar dolar AS (0,3 persen dari PDB).

Jika kita mencermati angka-angka makro yang disebutkan oleh BPS dan BI tentu kita akan beranggapan bahwa kondisi perekonomian Indonesia dalam keadaan yang tidak baik-baik saja, karena masih terdapat kontraksi yang menyebabkan perekonomian Nasional belum stabil dan bisa jatuh ke jurang resesi seperti tahun lalu, hal ini sangat mungkin terjadi apabila kinerja ekonomi tak berjalan sesuai skenario pemerintah akibat Pandemi.

Olehnya dibutuhkan peran kita bersama dalam perang melawan Pandemi yang saat ini masih berlangsung dan tidak tahu kapan berakhirnya,mari timbulkan rasa Nasionalisme yang tinggi untuk menghadapinya, karena Pandemi adalah musuh tak kasat mata yang saat ini masih menggerogoti sendi kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Jangan sampai kalah apalagi menyerah dengan situasi domestik dan global saat ini yang masih kurang menentu. Taati himbauan pemerintah,dengan selalu menjaga kesehatan minimal dilingkungan keluarga. Dan untuk pemerintah, sebaiknya mencarikan formula yang tepat bagi rakyat Indonesia yang saat ini banyak menderita akiba Pandemi yang belum usai, untuk tetap prodktif dan mendapatkan nafkah di tengah situasi dan kondisi yang abnormal ini, semoga…

*) Penulis adalah Pegawai BPS Provinsi Sulteng dan Pemerhati Masalah Sosial dan Ekonomi Sulteng.

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.