Paliudju Berharap Dapatkan Remisi Gempa

MUCHSIN SIRADJUDIN, Palu

- Periklanan -

PEMERINTAH RI telah berjanji akan memberikan Remisi Gempa kepada sedikitnya 400 orang warga binaan (warbin) di Sulteng, terutama yang mengalami langsung bencana alam gempa bumi pada 28 September 2018. Namun hingga memasuki bulan kesepuluh pasca gempa, remisi yang dinanti itu belum juga turun.

SIANG itu, Rabu (3/7), para warga binaan (warbin) yang ada di Lapas Klas IIA Palu terlihat semringah menantikan pemberian remisi (pengampunan hukuman) dari pemerintah. Mereka (para warbin) duduk bersilah di aula Lapas Klas II A Palu mendengarkan informasi terkini dan penting dari pimpinan Lapas sebagai wakil pemerintah.

Salah satu warbin yang mendapat perhatian dari media massa, saat pertemuan antara warbin dengan Kepala Lapas Klas II A Palu, Adhi Yanriko Mastur, bersama wakil dari Kanwil Kemenkum HAM Sulteng, Kepala Rutan Donggala H Safiuddin, dan jajaran pejabat Lapas Palu, adalah mantan Gubernur Sulteng HB Paliudju. Saat mengajukan pertanyaan, wartawan langsung mengerubunginya, meski tidak sedikit pula di antara wartawan tidak mengenalinya lagi.

Usai pertemuan, HB Paliudju banyak bercerita soal kondisi terkini Lapas sehari-hari. Menurutnya, suasana di Lapas Palu cukup bagus, pelayanan dari para petugas Lapas dan ditunjang fasilitas tempat tinggal terutama toilet, memadai. Demikian pula dengan fasilitas olahraga dan air bersih. Tempat tidur layak, dan tidak banyak nyamuk.

“Pokoknya enak lah di sini. Lapas ini dilengkapi dengan rumah-rumah ibadah, ada semua ada. Baik yang Islam maupun Kristen, misalnya. Kita di sini enak. Bebas beribadah kapan pun kita mau, “ tuturnya, membuka percakapan.

“ Jadinya, kami merasa seperti di pesantren saja. Seperti berada di masjid, “ tambah mantan Gubernur Sulteng yang terlilit kasus korupsi dan harus menjalani hukuman selama 7 setengah tahun. Kasusnyapun baru diseret ke ranah hukum di saat dirinya sudah lengser dari posisi Sulteng 1 (Gubernur, red).

Dirinya berani mempertanyakan soal remisi gempa, karena ada janji remisi, grasi, dan amnesti dari pemerintah. Ini lah yang sedang dia perjuangkan. “Karena kita yang kena bencana, ada proses semacam itu. Maksudnya kalau ada hak seperti itu, mudah-mudahan saya dapat seperti itu (remisi, red), “ ujarnya berharap.

Paliudju tak lupa menceritakan posisinya saat Kota Palu dilanda gempa, hari Jumat, 28 September 2018 yang lalu. Saat itu dirinya sedang menunaikan salat Magrib secara berjamaah di masjid Lapas Palu, yang berada dalam lokasi Lapas. Tiba-tiba gempa berkekuatan 7,4 skala Richter menghempas Kota Palu. “Kami semua berlari dan berkumpul di tengah lapangan Lapas, ‘’ ucapnya.

- Periklanan -

Tetapi kemudian, dia mulai melihat begitu banyak warbin yang berlari keluar Lapas. Rupanya pagar tembok Lapas yang tingginya 2 meter lebih itu sudah roboh semua. “Jadi kita juga ikut keluar semua. Kebetulan ada Kalapas, saya bertanya bagaimana ini pak ? Semua orang sudah lari keluar meninggalkan Lapas. Kalapas bilang, yah sudah pak boleh saja pergi,’’ ungkapnya.

Sebelum keluar dan pulang ke rumah di Kelurahan Pengawu, Paliudju sempat kembali ke sel tahanan untuk berkemas untuk pulang. Ruang sel tahanannya yang terletak di Blok I itu banyak bangunannya yang roboh dan hancur.

Waktu itu pukul 21.00 wita dirinya mulai berjalan meninggalkan Lapas. Sepanjang jalan menuju pulang, banyak hal-hal menarik yang dialaminya, dan sangat mengesankan. Yaitu tidak ada satupun orang warga Palu yang mau memboncengnya di kendaraan bermotor, apalagi sekadar memberi tumpangan dalam mobil yang berseliweran ketika itu. Mana semua orang-orang atau pejabat yang ditolongnya dulu saat menjadi staf di Pemprov Sulawesi Tengah.

“Saya pulang ke rumah tidak ada yang mau antar saya. Saya jalan kaki. Kalau ada orang mau antar saya, mau bonceng saya, saya sewa Rp 1 juta. Tetapi, tetap tidak ada yang mau. Sepanjang jalan yang saya lalui, semua orang berlarian menyelamatkan diri, panik. Hingga tiba di rumah saya, jam satu malam,’’ beber dia.

Pasca gempa, dirinya kembali ke Lapas lagi. Kesadaran sendiri, dan memberi contoh yang baik. Karena itu, kepada sesama warbin tetapi belum kembali, dirinya mengimbau untuk segera pulang ke Lapas. “Yang tidak pulang-pulang, yang dinyatakan DPO itu saya kira perlu diberi sanksi. Perlu dipertanyakan kepada dia, mengapa kau tidak pulang ? Cari alasannya. Tapi mereka juga diberlakukan adil, tetap diberi dan dapat remisi,’’ serunya.

“Artinya kalau kita dapat setengah, yah mereka juga dapat, tetapi ada sanksi juga. Saya dengar ada nanti remisi lain yang menyusul seperti remisi 6 bulan, yah saya kira tidak usah diberikan kepada mereka yang belum pulang sampai saat ini,’’ tandasnya.

Kini HB Paliudju telah menjalani dua tahun hukumannya, dari tujuh tahun setengah. Penampilannya yang dulu klimis, kini membiarkan jenggot putih di dagunya tumbuh. Sehingga banyak yang pangling dan tidak mengenali dirinya lagi. “ Tadi saya bertanya soal peluang remisi, grasi, dan amnesti. Siapa tau saya dapat juga, “ tutur Paliudju, sambil memperlihatkan senyum khasnya.

Pada kesempatan itu, HB Paliudju tak lupa berpesan kepada para tokoh-tokoh masyarakat Sulawesi Tengah, yang mungkin akan maju menjadi bakal calon Gubernur maupun Wakil Gubernur. Agar bisa menyampaikan visi dan misinya secara santun, dan ada gagasan cerdas di dalamnya.

“Calon gubernur itu harus ada perhatiannya kepada warga yang terkena bencana alam. Harus serius. Seperti gubernur kita sekarang ini Longki Djanggola, membuat surat agar Lapas Palu ini dibantu perbaikan bangunan infrastrukturnya. Suratnya ada itu. Bila dibantu, tentu fokus perhatiannya ke perbaikan bangunan dululah,’’ pungkasnya.(***)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.