Otoritas Bandara Sis Al-jufri Pastikan Serpihan Pesawat

- Periklanan -

PALU – Serpihan yang ditemukan salah seorang nelayan desa Boneoge, Kabupaten Donggala, dipastikan merupakan bagian dari pesawat. Hasil identifikasi awal itu setelah pihak Bandar Udara Mutiara Sis Aljufri Palu menurunkan tim untuk melihat lebih dekat serpihan yang sudah menghebohkan masyarakat di desa Boneoge.

Kepala Bandara Sis Al-Jufri Palu Ubaedillah SE. MT mengatakan, serpihan yang ditemukan oleh nelayan Boneoge, Kabupaten Donggala, adalah betul berasal dari bagian pesawat.

Kata Ubaedillah, itu dipastikan setelah ada tim dari Bandara bersama-sama dengan Kantor SAR Palu menuju ke Boneoge, sesampainya disana maka dipastikan serpihan itu berasal dari pesawat. Namun, untuk pesawat jenis apa dan maskapainya belum dapat dipastikan, karena itu ada pihak yang berwenang lagi untuk mengidentifikasinya.

“Jadi pihak Bandara, Basarnas Palu dan teknisi Lion Air menuju ke Boneoge, setelah sampai di sana dipastikan itu benar adalah serpihan pesawat. Jadi kami turunkan tim hanya untuk memastikan dari pertanyaan-pertanyaan warga,” kata Ubaedillah kepada Radar Sulteng.

Teknisi Lion Air sendiri memastikan kalau serpihan itu adalah bagian dari pesawat karena persis sama dengan badan pesawat atau biasa disebut dengan Fuselage, dan honeycomb yang mirip dengan sarang lebah juga salah satu material lapisan dari fuselage sendiri. “Saya lihat tadi sudah usang, dan tidak ada tanda-tanda logo atau gambar yang dapat dikenali,” sebut Teknisi Lion Air, Agus Mujiono.

Sementara itu, Moh Falid (20) nelayan yang menemukan serpihan menjelaskan, titik koordinat ditemukannya serpihan kurang lebih 20 mil atau 32 kilometer arah barat laut Boneoge. Saat itu, dia bersama tiga orang temannya memang sudah arah pulang ke Boneoge dari lautan lepas. Sekitar pukul 8 pagi Rabu 27 Januari, dia melihat tumpukan sampah di atas permukaan air.

- Periklanan -

Tatapannya langsung tertuju pada serpihan tersebut. “Saya langsung kepikiran kalau itu serpihan pesawat, jadi langsung kita angkat dinaikkan ke atas kapal,” ungkap Moh Falid nelayan yang melaut bisa sejauh 70 mil ini.

Setelah mengetahui titik lokasi penemuan serpihan dari nelayan, dari data Kantor SAR Palu koordinat terdekat dari lokasi serpihan adalah titik jatuhnya pesawat Adam Air 574 pada 2007 yang berjarak kurang lebih 200 mil.

Jarak kedua yang terdekat adalah jatuhnya pesawat Air Asia pada 2014 yang berjarak kurang lebih 600 mil. Dan terakhir dengan jatuhnya pesawat Lion Air pada 2018 yang jaraknya kurang lebih 1000 mil.

“Kalau kami tidak bisa mengambil langkah apapun, karena bukan wewenang, terkecuali ada permintaan dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT),” ujar Kepala Kantor SAR Palu, Andrias Hendrik Johannes S.E.

Selain itu, serpihan yang hampir mirip rupanya ditemukan di hari yang sama dengan penemuan nelayan Boneoge di tengah lautan. Lokasi penemuannya di pantai Majang, desa Rerang Kabupaten Donggala, Rabu (27/1) lalu. Jika Moh Falid menemukan di pagi hari, salah seorang nelayan juga di desa Rerang menemukan terapung puluhan meter dari bibir pantai ketika sore harinya.

“Saat itu surut air, niatnya mau ambil kayu yang hanyut, banyak sampah juga, dan ada serpihan ini saya dapat, jadi saya tarik ke daratan, sekitar jam 3 sore. Saya bertanya-tanya apakah dari kapal atau pesawat. Sudah ada di Polsek Sabang sekarang,” jelas Alwir, warga desa Rerang dihubungi tadi malam.

Meski kedua serpihan ini ditemukan pada hari bersamaan, tetapi baru viral di media sosial sehari sesudahnya, Kamis (28/1). Akun FB @KevyynHen mengunggah potingan pada Kamis dengan caption “Ada yg tau in kah. In serfian apa yg di temukan di pinggir pantai di desa rerang” tulisnya. Begitu juga dengan serpihan di Boneoge, yang viral di media sosial pada Kamis 28 Januari lalu. (acm)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.