Optimisme Pertumbuhan Ekonomi Sulteng Harus Tetap Dijaga

- Periklanan -

PROYEKSI EKONOMI: Kepala KPw BI Sulteng Miyono (tengah) memaparkan peluang dan tantangan perekonomian Sulawesi Tengah di tahun 2017, Sabtu (31/12). (Foto: Muhaqir)

PALU – Optimisme ekonomi Sulawesi Tengah yang bakal bertumbuh harus tetap dijaga. Tantangan global memasuki tahun 2017 memang masih sangat nyata, namun potensi tumbuh masih tetap ada.

Demikian Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Palu, Miyono  memberikan paparan terkait tinjauan ekonomi daerah pada konferensi pers menjelang tutup tahun, Sabtu (31/12/2016).

Ia menjelaskan, berdasarkan proyeksi Bank Indonesia, terdapat sejumlah aspek yang akan menjadi peluang dan tantangan perekonomian Provinsi Sulawesi Tengah di tahun 2017 ini. Dimana, momentum perbaikan perekonomian global yang semula diperkirakan mulai terjadi, masih belum tampak, dan terlihat melemah di beberapa bagian.

Secara global katanya, Amerika Serikat yang diharapkan menjadi motor pertumbuhan ekonomi global dalam perkembangannya belum tumbuh solid. Bahkan, referendum Brexit yang membawa Inggris keluar dari zona ekonomi Eropa juga berpotensi menurunkan prospek ekonomi Eropa dalam jangka menengah.

Di samping itu, terdapat kondisi pemulihan harga komoditas yang berjalan lambat, serta adanya aliran modal ke negara berkembang yang kembali turun disebabkan oleh arus balik modal atau capital reversal sebagai respon dari kebijakan peningkatan suku bunga (Fed Fund Rate) di Amerika Serikat.

“Dinamika ekonomi global yang masih diliputi ketidakpastian turut dipengaruhi oleh risiko meningkatnya harga minyak dunia seiring dengan adanya kesepakatan negara-negara OPEC untuk mengurangi produksi. Kesepakatan tersebut dapat menyebabkan komponen harga energi listrik dan BBM, mengalami peningkatan,” ungkapnya.

- Periklanan -

Sehingga lanjutnya, pada tahapan berikutnya dapat berdampak terhadap meningkatnya biaya produksi. Kondisi demikian merupakan gambaran tantangan dari sisi perekonomian global pada horizon waktu tahun mendatang yang perlu diantisipasi oleh perekonomian Sulawesi Tengah.

Menurutnya, hambatan tersebut terlihat nyata, namun optimisme tetap harus dijaga karena perlu kita sadari bersama, bahwa masih terdapat banyak peluang untuk tetap menjaga momentum positif pertumbuhan Ekonomi Sulteng di 2017.

Berbagai peluang hadir dari sisi perkembangan harga komoditas ekspor utama Sulawesi Tengah. Harga nikel diperkirakan mulai pulih sehingga diperkirakan dapat menjaga pertumbuhan ekspor tetap tinggi. Di samping itu tambahnya, meningkatnya kapasitas smelter  serta relatif stabilnya ekonomi Jepang dan harga internasional LNG diperkirakan mampu menciptakan tambahan daya dorong yang kuat bagi pertumbuhan ekspor di 2017.

Optimisme juga hadir dari sisi konsumsi rumah tangga jelasnya, yang dikonfirmasi melalui hasil survei yang menunjukkan tingkat pendapatan atau gambaran kemampuan daya beli masyarakat tetap terjaga di level optimis.

“Dari sisi konsumsi pemerintah juga diperkirakan memiliki tendensi arah perbaikan kinerja di tahun 2017, dimana periode pemotongan anggaran diharapkan memberikan lesson learned  bagi Pemda agar realisasi pola belanja fiskal dapat lebih merata pada seluruh periode waktu tahun anggaran,” terangnya.

Selain itu kata dia, daya beli masyarakat diperkirakan masih tetap terjaga seiring dengan masih terpeliharanya optimisme dan ekspektasi konsumen serta perkiraan inflasi yang diproyeksikan masih berada dalam target nasional yaitu 4 persen plus/minus 1 persen.

Penguatan peran Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sulawesi tengah  dalam menjaga stabilitas harga akan menjadi krusial di tahun 2017. Jika berkaca pada pengalaman El Nino di tahun 2015 dan La Nina di tahun 2016, maka respon cepat dan tanggap serta berbagai inovasi dalam implementasi program kerja Road Map Pengendalian Inflasi menjadi salah satu faktor penentu stabilitas harga.

“Di samping itu, visi pemerintah daerah untuk memprioritaskan pembangunan sektor pertanian juga dapat berkontribusi meningkatkan ketahanan pangan dan menjaga ketersediaan pasokan sehingga mengurangi risiko kelangkaan kebutuhan konsumsi barang kebutuhan pokok dan fluktuasi harga pangan di tengah masyarakat,” tandasnya. (hqr)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.