Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Operasi Madago Raya

Oleh : Mahatir Muhammad Hidayat *)

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

OPERASI Madago Raya merupakan operasi gabungan antara Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepoilisan Negara Republik Indonesia (Polri) sejak tahun 2016 di wilayah Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Operasi ini memiliki tujuan yang sangat penting di bidang terorisme untuk menangkap dan menumpas jaringan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) agar tetap mempertahankan kedaulatan NKRI dari Sabang sampai Merauke.

Sebelumnya, operasi ini bernama Operasi Tinombala sejak mulai beroperasi pada tanggal 10 Januari 2016 hingga tahun 2021. Kemudian pada tanggal 18 Februari 2021, Polri mengubah nama operasi ini menjadi Operasi Madago Raya yang berasal dari bahasa Pamona yang memilki arti “ Baik hati, dekat dengan masyarakat “ dan mulai beroperasi dari 1 Januari hingga 31 Maret 2021.

Mujahidin Indonesia Timur (MIT) merupakan sebuah kelompok teroris asal Indonesia yang beroperasi di wilayah Pengunungan Kabupaten Poso, Parigi Moutong dan Sigi. Pada tahun 2010, Santoso sebagai pemimpin MIT bersama rekan-rekannya berhasil mengumpulkan senjata dan menemukan tempat pelatihan militer di Gunung Mauro, Tambarana, Poso Pesisir Utara serta di daerah Gunung Biru, Tamanjeka, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.

Gerakan MIT mendapatkan dukungan dari kelompok terduga teroris lain yang terhubung dalam jaringan mereka. Seperti kelompok Mujahidin Indonesia Barat (MIB) pimpinan Abu Roban. Pada tahun 2014, MIT dibawah pimpinan Ali Kalora telah menyatakan sumpah setia kepada Negara Islam Irak dan Syam (ISIS).

Beroperasi sejak tahun 2012, kesatuan MIT tidak berjalan mulus, terjadi perpecahan dalam kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) terpecah menjadi 2 kelompok/faksi. Perpecahan ini terjadi diantaranya ada istri Santoso yang diberlakukan secara khusus, sedangkan mereka sedang berjuang, tapi satu sisi disuruh untuk mengamankan keluarga Santoso. Anggota yang lain tidak diperbolehkan untuk membawa istri, sehingga timbul kecemburuan, serta perpecahan ini terjadi karena mulai menipisnya ketersedian logistik untuk bertahan hidup.

Berawal dengan total DPO berjumlah 21 orang yang terbagi dua kelompok yang beranggotakan 5 dan 16 orang. Faksi Santoso-Basri merupakan Faksi utama di kelompok MIT yang terdiri dari 5 orang yaitu Santoso, Jamlatun Muslim (istri Santoso), Basri, Nurmi Usman (istri Basri), dan Mukhtar. Yang kedua adalah faksi Ali Kalora yang terdiri dari 16 orang yang kebanyakan di antara mereka adalah bawahan Santoso. Faksi ini dipimpin oleh Ali Kalora dan istrinya Tini Susantika.

Pasukan yang terlibat dalam Operasi Madago Raya merupakan gabungan pasukan TNI dan Polri. Dari pasukan TNI melibatkan semua matra seperti dari Angkatan Darat ada Kopassus dan Kostrad, Angkatan Laut ada Korps Marinir, Angkatan Udara ada Paskhas, dan Komando Operasi Khusus. Sedangkan pasukan dari Polri ada Korps Brimob, Detasemen Khusus 88 dan Kepolisian Daerah (Polda Sulawesi Tengah. Semua aparat terlibat dalam operasi ini, untuk menjalankan misi dengan tujuan memberantas dan menumpas jaringan Mujahidin Indonesia Timur (MIT).

Sejak tahun 2016 ini, diawali dengan Operasi Tinombala akhirnya, pelarian Santoso menemui titik akhirnya dengan terjadi peristiwa kontak tembak pada tanggal 18 Juli 2016 di Desa Kuala Tambarana Poso. Dalam peristiwa kontak tembak tersebut, TNI dan Polri berhasil menembak mati pemimpin MIT Santoso bersama salah satu pengikutnya yaitu Mukhtar. Kemudian pada tanggal 14 september 2016 berhasil menangkap Basri yang merupakan tangan kanan serta orang kepercayaan Santoso bersama istrinya oleh Satgas Operasi Tinombala di Desa Tangkura.

Berlangsungnya Satgas Operasi Madago Raya pada tahun 2021 yang merupakan operasi lanjutan dari Operasi Tinombala masih melanjutkan operasi untuk memberantas jaringan MIT, dengan mengeluarkan beberapa orang yang menjadi DPO sebagai terduga teroris. Pada tanggal 19 September 2021, Satgas Operasi Madago Raya berhasil menembak mati pimpinan kelompok MIT yaitu Ali Ahmad alias Ali Kalora bersama satu anggotanya yaitu Jaka Ramadhan di pengunungan Desa Astina, Kecamatan Torue, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.

Hingga saat ini Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memerintahkan seluruh personel satgas Madago Raya untuk terus mengejar empat orang terduga teroris pimpinan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Ali Kalora, yang sudah masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO). Setelah berhasil memburu dan menembak mati Ali Kalora pimpinan MIT, Satgas Operasi Madago Raya diperpanjang hingga akhir Desember 2021 dengan melibatkan personel TNI-Polri dalam pengejaran empat DPO kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) itu berjumlah 1.500 orang.

Saat ini, tersisa empat anggota MIT yang masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) kepolisian. Mereka ialah Askar alias Jaid, Nae alias Galuh alias Mukhlas, Ahmad Gazali alias Ahmad Panjang, dan Suhardin alias Hasan Pranata.

*) Penulis adalah Brigadir Taruna Akpol.

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.