Oknum Polisi Pengedar Sabu Dituntut 20 Tahun Penjara

- Periklanan -

Sidang terdakwa Ijal dan Ilham di PN Palu beberapa waktu lalu. Kedua terdakwa terjerat narkotika 4425,37 gram telah dituntut 20 tahun penjara, Kamis (14/9). (Foto: Sudirman)

PALU – Terdakwa Syamsul Rizal alias Ijal anggota Polres Palu nonaktif bersama terdakwa Ilham alias Illang telah mendengarkan ganjaran tuntutan pidana dari Jaksa Penuntut Umum (JPU). Keduanya dituntut pidana penjara selama 20 tahun. Tuntutan pidana dua terdakwa perkara dugaan narkotika jenis sabu sabu seberat 4425,37 gram ini, dibacakan dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Klas IA/PHI/Tipikor Palu, Kamis (14/9).

Kedua terdakwa hasil tangkapan tim Ditresnarkoba Polda Sulteng di salah satu hotel di Kota Palu pada bulan Januari 2017 lalu ini, hanya bisa pasrah dengan tuntutan pidana yang dibacakan. Mereka tak banyak berkata apa-apa selain harus merenungi ganjaran atas kesalahan yang diperbuat.

Rasmudasati Damsjik SH, dalam tuntutan tidak hanya mengganjarkan pidana penjara selama 20 tahun kepada dua terdakwa. Akibat tindak pidana narkotika dengan jumlah yang begitu besar itu, keduanya juga dihukum tuntutan pidana denda sebesar Rp 15 Miliar. “Apabila denda tersebut tidak dibayar diganti dengan pidana 1 tahun penjara,” kata Rasmudasati membacakan amar tuntutan pidana kedua terdakwa.

Dihadapan ketua Majelis Hakim Lilik Sugihartono SH, JPU menyatakan kalau perbuatan terdakwa Syamsul Rizal dan Ilham telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana tanpa hak atau melawan hukum menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menerima, menjadi perantara dalam jual beli atau menyerahkan narkotika golongan I jenis sabu sabu beratnya melebihi 5 gram. “Keduanya terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 114 ayat (2) jo Pasal 132 Undang-undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika,” ungkap Rasmudasati lagi.

- Periklanan -

Rasmudasati menuturkan hal memberatkan perbuatan terdakwa meresahkan masyarakat dan merusak generasi bangsa dan tidak mendukung program pemerintah dalam hal pemberantasan narkotika. Hal meringankan keduanya mengaku bersalah dan menyesali perbuatanya. Usai membacakan tuntutanya, ketua majelis hakim Lilik Sugihartono memberikan kesempatan kepada terdakwa dan penasehat hukumnya untuk mengajukan pembelaan (pledoi) pada sidang mendatang Rabu, (20/9).

Kasus tindak pidana narkotika ini berawal ketika Ilham bertemu dengan Edi (DPO) di kota Kendari Sulawesi Tenggara.  Edi menawarkan pekerjaan kepada Ilham sebagai kurir sabu dengan imbalan Rp 2,5 juta. Setelah terjadi kesepakatan, Ilham berangkat menuju kota ke Pekanbaru menemui tiga orang di salah satu hotel, lalu kembali ke Palu transit Jakarta.

Semua biaya perjalanannya ditanggung oleh Edi dengan mengirimkan kode Booking via BBM. Setibanya Ilham di Palu, melalui video call, Edi meminta Ilham untuk menunggu di bandara,karena dirinya akan mengirim anggotanya menuju bandara.

Selang beberapa saat Edi kembali menelpon Ilham dan memerintahkan untuk keluar bandara menuju suatu tempat di lingkungan bandara. Dimana terdapat dos setelah dibuka Ilham berisi sabu 6 bungkus beratnya 4425,37 gram. Selanjutnya, paket enam bungkus sabu dibawa Ilham menuju salah satu hotel di Kota Palu yang telah dibooking Edi. Sesuai arahanya sabu disimpan di salah satu kamar dari dua kamar hotel yang telah dibooking.

Kemudian Syamsul Rizal alias Ijal oknum polisi berpangkat Brigadir ditelepon seseorang bernama H Ophan dan memerintahkan untuk mengambil paket sabu yang telah disimpan di salah satu kamar hotel tersebut. Usai mengambil paket Syamsul Rijal lalu keluar dari hotel, dan belum jauh melangkah aparat kepolisian lalu menciduknya termasuk Ilham yang masih berada di kamar hotel. (cdy)

 

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.