Oknum Pengusaha Perempuan Dipolisikan

Terlibat Kasus Dugaan Pemalsuan Keterangan pada Buku Nikah

- Periklanan -

PALU – Salah seorang oknum pengusaha perempuan di Kota Palu, dilaporkan atas kasus dugaan pemalsuan keterangan pada buku nikah. Kasus tersebut dilaporkan di Polda Sulteng sejak 8 Juli 2021 dengan nomor laporan : LP/B /211/VII/2021/SPKT. Kasusnya pun sekarang masih dalam proses penyelidikan.

Pelapornya adalah Rahmat Julfri Hidayat. Pelapor adalah anak dari almarhum Rahman Hakim, yang meninggal sekitar bulan April 2021. Dia melaporkan kasus ini, karena mengetahui ada buku nikah yang menerangkan terkait pernikahan antara terlapor dan almarhum ayahnya. Sementara, antara ibu kandungnya dan juga ayahnya sama sekali belum ada perceraian secara hukum.

Penasehat Hukum Terlapor, Edwin M Wilar SH menyampaikan, kasus ini dilaporkan atas dugaan melawan hukum yang patut diduga turut dilakukan oleh terlapor berinisial MS. Terlapor kata dia, diduga sengaja ikut memasukan keterangan palsu dalam akta otentik dalam hal ini buku nikah yang dikeluarkan oleh salah satu KUA di Kota Palu.

“Sebelum buku nikah dikeluarkan, ada sejumlah surat yang juga dipalsukan keterangannya, seperti surat keterangan bahwa almarhum masih jejaka. Sementara, almarhum masih mempunyai istri sah yang dibuktikan dengan buku nikah pula dan belum cerai, yakni ibu dari pelapor,” terang pengacara, dihubungi Minggu (1/8).

Antara almarhum ayah pelapor dan terlapor, dari catatan buku nikah diketahui menikah pada Tahun 2013 di Kota Palu. Sedangkan ibu dari pelapor, almarhum Yuhana Mandulangi meninggal baru 2019. Sehingga, ketika pernikahan antara terlapor dan almarhum terjadi, memang tidak ada persetujuan dari istri sah juga karena tidak diketahui. Sehingga, untuk mendapatkan buku nikah di KUA, maka status dari almarhum dipalsukan menjadi jejaka.

“Dalam pelaporan ini, kami juga masukan berbagai bukti dokumen, ada surat ketrangan dari pihak kelurahan bahwa almarhum masih jejaka serta sejumlah surat-surat yang dapat dijadikan bukti oleh penyidik,” jelas Edwin yang berkantor di Manado.

Termasuk surat jawaban dari kantor KUA, yang mengaku sama sekali tidak mengetahui jika almarhum masih memiliki istri sah dan belum ada perceraian. Hal ini lah yang disampaikan Edwin, harus ditelusuri oleh penyidik, untuk mencari siapa orang-orang yang turut terlibat memalsukan status dari almarhum, sehingga terbit buku nikah dari KUA.

“Mengapa yang kami laporkan pertama adalah perempuan MS, karena dia turut menandatangani dokumen dalam buku nikah, walaupun dia sudah tahu status dari almarhum masih memiliki istri yang sah,” sebutnya.

Lebih jauh disampaikan Edwin, masalah pemalsuan keterangan di buku nikah ini, bisa dilakukan dengan dua cara. Selain melakukan pelaporan terkait tindak pidana, juga bisa lewat gugatan perdata untuk membatalkan buku nikah tersebut. Namun, jika perdata melalui Pengadilan Agama, bakal memakan waktu yang cukup panjang, tidak hanya sampai di putusan saja, karena akan banding dan kasasi, dan itu akan membuat peluang dari terlapor mengaburkan aset-aset yang dimiliki oleh almarhum.

“Kami sengaja berproses pidananya dahulu, karena dengan adanya laporan polisi, kami bisa langsung mengajukan pencegahan secara tertulis terhadap aset-aset yang dikuasai terlapor, milik dari almarhum, bisa saja dialihkan ke pihak lain,” terangnya.

Secara hukum kata Edwin, aset-aset milik almarhum seharusnya menjadi hak dari anak-anak kandungnya, bukan dikuasai oleh terlapor. Namun nyatanya, aset-aset yang murni milik almarhum, saat ini dikuasai pula oleh terlapor. Dia pun mengaku, sudah melakukan somasi kepada terlapor, untuk mengembalikan aset-aset pribadi milik almarhum yang diketahui oleh pelapor bersama saudaranya.

- Periklanan -

“Pada tanggal 19 Juli 2021, kami sudah ajukan somasi pula kepada yang bersangkutan, untuk mengembalikan aset-aset milik almarhum yang ada di Kota Palu,” ungkap pengacara.

Lebih jauh disampaikan Edwin, bahwa pada tanggal 18 Juni 2021 lalu, terjadi pertemuan di Polresta Manado antara terlapor dan pelapor serta adik-adik dari pelapor. Di mana pada intinya, terlapor berjanji mengembalikan aset-aset milik almarhum selambat-lambatnya tanggal 18 Juli 2021. Hal ini dituangkan dalam surat perjanjian yang ditandatangani pula oleh terlapor.

“Namun sampai dengan 18 Juli 2021, apa yang dijanjikan itu tidak dilakukan oleh terlapor. Kami coba somasi lagi yang kedua, kalau juga tidak diindahkan, kami laporkan lagi dengan dugaan penggelapan,” sebut Edwin.

Sebagai pengacara, Edwin menegaskan, pihaknya bakal terus mengawal proses hukum terkait laporan dugaan pemalsuan keterangan pada buku nikah ini, serta mengembalikan hak-hak ahli waris dari almarhum, dalam hal ini anak-anaknya. Tidak hanya aset bergerak dan tidak bergerak, almarhum juga meninggalkan sejumlah perusahaan. Di mana salah satunya yakni perusahaan kontraktor jasa ketenagalistrikan.

“Khusus perusahaan itu, kebetulan pelapor adalah salah satu komisarisnya, dan terlapor juga ternyata dimasukan sebagai direktur di akta perusahaan, maka kami sudah menyurat ke PLN Cabang Palu untuk sementara tidak mengikutkan dahulu dalam kegiatan-kegiatan ketenagalistrikan, sebelum kasus ini selesai,” tegasnya.

Terpisah, pelapor Rahmat Julfri Hidayat mengungkapkan, awal mula sehingga pihaknya mengetahui bahwa ada buku nikah yang dipegang oleh terlapor, ketika dia dan adik-adiknya ingin meminta dompet dan sejumlah kartu ATM serta barang-barang pribadi dari almarhum.

Oleh terlapor, seluruh barang tersebut disampaikan disimpang di safe deposit box salah satu bank. “Kami pun sempat adu argument, sampai dia mengeluarkan buku nikah. Dari situ kami kaget kenapa mereka bisa buku nikah, sementara ibu kami semasa hidup tidak pernah mengetahui, apalagi mengizinkan ayah kami menikah lagi,” jelasnya.

Dia pun menelusuri asal muasal buku nikah tersebut, dan mendapat keterangan bahwa saat menikah, almarhum ayahnya berstatus jejaka. Selain itu banyak kejanggalan lain ditemukan dalam proses hingga buku nikah tersebut terbit. Buku nikah ini lah, yang digunakan terlapor sebagai power untuk menguasai aset-aset yang ditinggalkan almarhum.

“Banyak aset orang tua kami yang sekarang dia kuasai, mulai dari rumah, kos-kosan, bengkel, mobil juga ada mobil yang dibeli dengan menggunakan uang pribadi saya, sampai sekarang disembunyikan oleh terlapor,” sebut pelapor.

Adapun, barang-barang almarhum yang dijanjikan ingin dikembalikan, antara lain dompet, computer set dan laptop, handphone, sejumlah buku tabungan dan ATM, BPKB mobil kijang dan mobil wuling. Namun hal itu tidak juga dilakukan terlapor. “Memang dia punya niatan buruk, menguasai seluruh aset orang tua kami,” tandasnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Sub Bidang Penerangan Masyarakat (Kasubbid Penmas) Bidang Humas Polda Sulteng, Kompol Sugeng Lestari menyampaikan, bahwa kasus tersebut masih dalam penyelidikan. Penyidik kata dia, tidak bisa terburu-buru dalam memproses suatu laporan. Harus mengumpulkan bukti-bukti awal dan keterangan saksi yang cukup.

“Di tahap penyelidikan ini, tentu akan ada yang dimintai keterangan awal, namun sebatas berita acara wawancara, nanti akan ada gelar perkara untuk menentukan apakah kasus dapat dinaikan ke penyidikan ataukah tidak,” singkat Sugeng. (agg)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.