Oknum Dosen IAIN Palu Diduga Plagiat Tesis

Disomasi Sesama Dosen IAIN Palu

- Periklanan -

PALU-Dugaan plagiat atau penciplakan Tesis milik Afifah SPd MPd berlanjut. Setelah mensomasi Dr Abdul Gafur Marzuki MPd, dosen IAIN Palu yang diduga melakukan plagiat atas tesis miliknya. Afifah yang juga merupakan dosen IAIN Palu ini mengirimkan surat ke Kementerian Agama (Kemenag) RI sebagai keseriusannya untuk mempercepat tindak lanjut atas dugaan plagiat yang dilakukan rekannya sesama dosen. Afifah merasa keberatan sebab, tesisnya yang berjudul A Correlational Study Between Vocabulary Mastery and Reading Comprehension of The First Semester Students of Economic Faculty of Alkhairaat University pada tahun 2012 dijiplak dalam bentuk jurnal yang diterbitkan Istiqra jurnal penelitian ilmiah atas nama penulis Darwis Jauhari Bandu dan Abdul Gafur Marzuki dengan judul A Correlational Study Between Vocabulary Mastery and Reading Comprehension of PAI Students of Tarbiyah STAIN Datokarama Palu tahun 2014.
“Saya sudah dihubungi Pa Darwis. Dan Pa Darwis bilang, dia hanya diminta Pa Gafur agar dicantumkan namanya untuk penelitian yang dilakukan Pa Gafur,” kata Afifah kepada wartawan Radar Sulteng, kemarin (18/1).

- Periklanan -

Dugaan Afifah, Gafur yang melakukan plagiat sebab saat awal-awal menjadi dosen luar biasa (LB) di IAIN Palu tahun 2013, Gafur pernah memintanya untuk memberikan file Tesisnya untuk diterbitkan dalam jurnal. Namun sejak saat itu, Gafur kata Afifah tidak pernah lagi memberitahunya lanjutan atas penerbitan jurnal tersebut.
“Katanya mau diterbitkan ke jurnal atas nama saya. Setelah saya berikan. Katanya tidak bisa diterbitkan ke jurnal. Saya baru tahu kemarin 11 Januari saya browsing judul Tesis saya, kok yang muncul judul saya tapi penulisnya bukan saya. Saya syok. Dan sore itu saya langsung ke kampus dan gak tahu kenapa pas ketemunya dengan Pa Saude selaku ketua pengawas internal,” kata Afifah lagi.
Yang membuatnya makin kecewa kata Afifah ialah karena Gafur tidak mengakui jika jurnal itu merupakan jiplakan dari Tesis milik Afifah. Dari mediasi yang dilakukan pihak Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) yang dipimpin langsung Dekan FTIK, Idhan, menemui jalan buntu. Gafur juga bersikeras jika jurnal dengan judul yang sama dan hanya beda tempat penelitian itu adalah murni karya penelitian dan bukan hasil plagiat. Sedangkan Afifah juga bertahan bahwa banyak kesamaan data bahkan kalimat dalam jurnal tersebut dengan Tesis miliknya.
“Dalam mediasi itu juga kok berat sebelah. Jika mediasi kan mestinya dicarikan solusinya apa. Ini malah saya diminta cabut tuntutan saya. Solusi untuk karya saya yang diplagiat apa?,” kata Afifah lagi.
Afifah juga mengaku sudah melakukan kroscek langsung kepada pakar untuk membandingkan apakah jurnal yang ditulis Darwis Jauhari Bandu dan Gafur Marzuki benar adalah plagiat. Dari hasil krosceknya kepada Prof Konder Manurung DEA PhD, Dr Nurdin, dan Ketua Prodi Bahasa Inggris Pascasarjana Untad, Drs Sudarkam R Mertosono MA PhD semuanya sepakat bahwa jurnal itu merupakan plagiat dari Tesis milik Afifah.
“Somasinya berakhir Rabu 23 Januari. Jika tuntutan dalam somasi itu tidak dilakukan. Saya akan tempuh jalur hukum,” kata Afifah tegas.
Dikonfirmasi terpisah, Gafur Marzuki dan Darwis Jauhari Bandu, saling memberikan dalil masing-masing.
Gafur yang ditemui di IAIN Palu, dalam keterangan tertulisnya membantah pernah meminta file Tesis milik Afifah di tahun 2013. Gafur berdalih tidak ada alasan mendasar baginya untuk meminta file Tesis milik Afifah. Sebab saat itu kata Gafur, dia juga sedang tugas belajar sebagai mahasiswa strata tiga di Universitas Negeri Malang. Yang benar kata dia ialah, di tahun 2016 saat dia ditunjuk Dr Yusra MPd selaku Dekan kala itu untuk mengelola jurnal paedagogia, Gafur meminta seluruh artikel kepada para dosen LB di prodi Tadris Bahasa Inggris (TBI).
“Hasilnya beberapa dosen LB di jurusan TBI menyerahkan artikel dan semua telah diterbitkan di periode 2016. Dan sebagian terbit di periode 2017. Saudari Afifah pada waktu itu tidak menyerahkan artikelnya sehingga tidak terbit di jurnal paedagogia,” sebut Gafur.
Ada pun dengan penelitian jurnal itu, Gafur mengaku tidak terlibat langsung dalam penelitiannya. Dan baru membaca hasil penelitian itu setelah ada kasus ini. Saat itu kata dia, Darwis Jauhari Bandu selaku Ketua Peneliti meminta untuk memasukan namanya sebagai anggota peneliti untuk mendukung syarat penelitian kolektif, minimal dua orang peneliti.
“Saya tidak terlibat dalam penelitian dan penulisan hasil penelitian tersebut, karena saya masih berstatus tugas belajar sebagai mahasiswa S3 pada pascasarjana Universitas Negeri Malang dan tinggal di Malang,” sebutnya dalam keterangan tertulis.
Sedangkan Darwis Jauhari Bandu yang saat ini sedang studi strata tiga di Bandung, dikonfirmasi via telefon mengaku kaget jika Gafur malah menyebutnya sebagai penulis jurnal itu. Darwis mengaku memiliki bukti kuat jika Gafur memintanya untuk mengoreksi jurnal yang disebut hasil penelitiannya.
“Karena saya lebih senior, dia bilang. Pak saya ini sedang melaksanakan penelitian kolektif. Bagaimana kalau bapak, saya ajak untuk sebagai nama pertama. Saya tanya ke dia. Tidak rugi kau itu. Dia bilang begini, bapak tidak usah kerja apa-apa. Saya saja yang kerja. Saya tidak tahu kalau akan menciplak pada kemudian hari. Saya pikir ini anak kok rajin, tekun baru dia semangat dalam hal penelitian. Karena saya sakit sudah lima tahun ini, jadi saya tidak konsen untuk yang begitu. Jadi pas diajak begitu. Saya senang saja. Sebab dia bilang bapak nanti hanya mengoreksi grammernya Pak. Jadi saya bilang, iya,” jelas Darwis.
Darwis juga mengatakan, karena merasa tidak enak hanya diminta untuk pencantuman nama, dia menanyakan apakah ada yang bisa dilakukannya mengenai penelitian itu. Namun Gafur, kata Darwis, memastikan bahwa dia tidak perlu melakukan penelitian dan hanya perlu mengoreksi grammer setelah penelitiannya jadi.
“Saya bilang ada yang bisa saya bantu. Kasihan kau sendiri yang kerja cape-cape. Dia bilang iya nanti saya kirimi untuk bapak koreksi. Ada buktinya sama saya. Bahwa dia suruh nanti Pak Darwis koreksi penelitian yang sudah saya buat,” sebutnya.
Darwis juga menyinggung biaya penelitian yang diberikan Gafur kepadanya. Kata Darwis, Gafur memberikannya uang Rp2 juta. Jumlah itu kata dia, diterimanya dengan senang saja karena memang dia hanya melakukan koreksi grammer dari hasil penelitian yang diberikan Gafur.
“Tidak apa-apa saya terima Rp2 juta. Seharusnya kan kalau dia tulis saya di peneliti pertama. Saya yang terima uang di lembaga penelitian. Tapi pas saya ke sana, orang lembaga penelitian bilang sudah diambil Pak Gafur. Oh saya bilang tidak apa-apa. Setelah itu Pak Gafur telefon saya dia bilang uangnya sudah dia ambil. Pak Gafur bilang, Pak Darwis saya kasi bapak dua juta saja ee. Saya bilang tidak apa-apa karena kamu juga yang lebih banyak kerja,” ujarnya.
Yang membuatnya sakit hati, karena Gafur membalikkan cerita bahwa dia yang mengajak Gafur untuk penelitian bersama. Darwis menegaskan dia tidak kenal dengan Afifah. Darwis menyebut baru menelepon Afifah setelah mengetahui ada kasus ini.
“Saya telefon ibu Afifah. Didengar oleh suaminya juga. Direkam juga. Dan ibu Afifah insyaallah percaya sama saya. Karena saya tidak mungkin mengambil penelitian itu. Nah saya tidak kenal dengan ibu Afifah,” kata Darwis.
Anehnya kata Darwis, saat ditelepon Gafur, Gafur hanya meminta untuk dibantu menyelesaikan permasalahan ini. Darwis mengatakan juga menasihati Gafur untuk meminta maaf kepada Afifah dan menyelesaikannya secara kekeluargaan.
“Dia (Gafur) bilang, saya sama sekali tidak menciplak Pak. Makanya saya bilang sama Pak Gafur. Kalau sudah begini kasusnya Pak Gafur. Dia kan mensomasi, mudah-mudahan bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Saya bilang ke Pak Gafur, Pak Gafur pergi ke rumahnya Ibu Afifah minta maaf. Dengan mengakui kesalahan semua. Tapi Pak Gafur bilang Ibu Afifah tidak mau ketemu dia. Lain lagi dengan yang dibilang Ibu Nur Asmawati barusan menelepon saya. Malah Ibu Afifah sebenarnya menunggu itikad baiknya Pa Gafur untuk minta maaf,” tandasnya.
Rektor IAIN Palu, Prof Dr H Sagaf Pettalongi MPd yang dimintai keterangannya mengenai kasus ini menjelaskan dia tidak akan mengintervensi permasalahan dugaan plagiat karya ilmiah antardosen di IAIN Palu. Prof Sagaf mengakui juga sudah ada surat tembusan yang masuk kepadanya mengenai kasus ini hanya saja dia tidak langsung menanganinya.
“Memang ada tembusan suratnya. Saya suruh Dekan Tarbiyah selesaikan karena mereka berdua dosen Tarbiyah,” kata Rektor IAIN Palu, singkat sembari berharap agar masalah ini diselesaikan secara internal. (saf)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.