Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Nyari Kaos Bertuliskan Mandalika hingga Kunjungi Desa Adat Sade

Melihat Keseruan Gubernur Jateng Bertandang ke Provinsi Seribu Masjid (BAGIAN 2/HABIS)

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

SETELAH mendatangi Sirkuit Mandalika, Ganjar mengunjungi warung viral milik warga dan stand-stand UKM di dalam kawasan sirkuit. Ternyata ia sedang mencari kaos yang bergambar sirkuit Mandalika. Sembari mencari kaus, Ganjar menyapa para penonton WSBK yang berbelanja di warung warga yang harganya terjangkau tersebut.

“Oh ini ya warung yang lagi itu (viral). Bagus ini. Ya selamat makan. Makan yang banyak,” katanya. Ganjar berjalan-jalan tanpa pengawaalan di stand UMKM di Sirkuit Mandalika. “Saya ini mau cari kaos Mandalika,” ujarnya.

Dalam lawatannya di Provinsi Seribu Masjid itu, Ganjar juga siaran di Radio Suara Giri Menang Lombok Barat. Di radio berplat merah itu Ganjar bukan sekedar siaran tapi juga di dapuk memandu talkshow radio bertopik “Sukses Muda, Jangan Menunggu Tua” yang menghadirkan Dodi dan rekannya, dua anak muda pengusaha kuliner dan kopi serta Bupati Lombok Barat H Fauzan Khalid.

Ganjar yang menjadi Ketua Persatuan Radio TV Publik Daerah Seluruh Indonesia atau Persada Indonesia terdengar asyik mengobrol soal masakan. Munajab menceritakan soal bumbu masakan khas Lombok, yaitu bumbu sasak, sementara Fauzan Khalid menceritakan betapa spesialnya kangkung di Lombok. “Jadi kami punya bumbu sasak yang lebih pedas dari daerah lainnya,” kata Munajab. “Pedesnya bumbu itu nggak apa-apa, pedesnya omongan yang bikin nggak enak,” timpal Ganjar.

Tak ketinggalan, Ganjar turut menyambangi Desa Adat Sade di Rembitan, Kecamatan Pujut yang merupakan satu di antara destinasi wisata favorit di Provinsi NTB. Letaknya persis di jalur jalan utama dari Kota Mataram menuju Sirkuit Mandalika di kawasan pantai selatan Lombok.

Di desa itu, Ganjar Pranowo disambut hangat tetua adat setempat dan masyarakat Desa Sede. Ada tarian selamat datang diiringi tabuhan gong, gendang dan seruling. Pada kesempatan itu, ia tak ingin melewatkan untuk mencoba seni tradisional peresean.

Peresean adalah seni bertarung antara dua laki-laki yang menggunakan senjata rotan atau penjalin dan perisai dari kulit kerbau. Peresean termasuk dalam seni tari daerah Lombok. Petarung dalam peresean biasanya disebut pepadu dan wasit disebut pakembar.

Tampak Ganjar mengenakan baju hitam gesit menangkis pukulan dari lawan tandingnya. Sesekali kepalanya menunduk, berlindung dibalik perisai. Sama halnya saat beraktivitas di Jateng, di NTB Ganjar menyempatkan diri bersepeda. Kali ini, ia bersepeda ditemani Gubernur NTB Zulkieflimansyah serta anggota komunitas sepeda Mataram.

Ia gowes sejauh 9 kilometer mulai dari pendopo rumah jabatan Gubernur NTB dan singgah sesaat di depan gedung Islamic Center dan halaman kantor gubernur. Di sana ada komunitas yang senam pagi. Sebagian dari mereka foto selfie dengan kedua gubernur itu. Ada momen lucu di tengah aktivitas itu, di mana Ganjar diserbu oleh emak-emak yang ingin berfoto dengannya. Ganjar melayani permintaan emak-emak itu.

“Setiap kali olahraga dan ketemu ibu-ibu, wah hebohnya bukan main. Semangatnya luar biasa. Termasuk ibu-ibu di Mataram ini. Sehat terus ya bu,” ungkapnya. (*/agg)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.