Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Nursofya Yakin Anaknya Tak Terlibat Terorisme

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

PASCA PENANGKAPAN : Tampak anggota Sat Reskrim Polres Tolitoli, usai mengawal anggota Densus melakukan interogasi dan mengambil beberapa barang seperti buku dan tabung gas dari dalam rumah, kemarin. (Foto: Yuslih Anwar)

TOLITOLI – Orang tua Syamsuriadi (30) alias Suri, salah satu dari 6 terduga teroris yang ditangkap Datasemen khusus (Densus) 88 Anti Teror pada Jumat (9/3) lalu, meyakini anaknya tidak terlibat apalagi masuk dalam jaringan terorisme manapun.

Ditemui dikediamannya di lorong Jln Veteran I Kelurahan Baru Kecamatan Baolan Kabupaten Tolitoli, pada hari Minggu (12/3), Nursofya (57) ibunda Suri menceritakan, dalam kehidupan keseharian anaknya tidak menunjukan aktifitas yang menyimpang. Kesehariannya sama seperti anak muda pada umumnya, selain berkumpul dengan temannya, ia mengisi harinya dengan mengurus kebun cengkeh

“Bisa tanya tetangga, setiap hari kalau tidak ada kegiatan, dia hanya berkumpul dengan teman-teman Paskibrakanya di kamar depan. Kalau tidak, dia pergi membersihkan kebun cengkehnya, jadi tidak mungkin anak saya telibat jaringan teroris, ” cerita Nursofya.

Selain itu Nursofya menceritakan, sejak berhenti bekerja pada sebuah perusahaan di Makassar, ia balik ke Tolitoli pada tahun 2014 silam dan tidak pernah lagi keluar daerah.

“Paling kalau keluar daerah, nanti ada acara keluarga, seperti perkawinan atau lagi kedukaan, itupun tidak lebih dari seminggu. Kalau tidak ada, ia hanya di rumah dan mengurus kebun saja,” tutur Nursofya.

Ia juga menceritakan, anaknya merupakan anak yang soleh, tidak pernah melalaikan salat 5 waktu. Bahkan ia aktif mengikuti kegiatan keagamaan yang rutin dilaksanakan pengurus mesjid maupun organisasi keagamaan.

“Masa anak seperti itu dibilang teroris. Seandainya dia (Suri, red) pergi tak ada kabar berita kemudian datang hanya sebentar dan pergi lagi, saya pasti curiga. Tapi kan tidak begitu, makanya saya yakin anak saya bukan jaringan teroris, ” tuturnya lagi.

Ia juga menceritakan, semenjak kecil anaknya tidak pernah keluar apalagi sekolah di luar daerah. ” SD nya di SDN 6 Tolitoli, kemudian lanjut di SMP Nurul Iksan Tolitoli lalu lulus di SMK Pelayaran Tolitoli. Anak saya tidak pernah keluar daerah,” ujarnya.

Dimintai keterangannya mengenai empat teman anaknya yang dibekuk oleh Densus 88 pada 9 Maret sekitar pukul 08.00 wita lalu, Nursofya menceritakan, keempatnya baru sekitar empat hari  datang ke Tolitoli atau sejak Senin (5/3) lalu. Tepatnya empat hari berada di rumahnya, keempatnya dibekuk petugas Densus 88.

Ia juga mengaku tidak mengetahui nama keempatnya, yang dia tahu keempatnya adalah teman lama anaknya, yang coba mencari pekerjaan dengan memetik cengkeh.

“Anak saya bilang mereka itu teman lamanya, dua dari Poso, dan satu dari Jawa dan satu lagi dari Lampung. Katanya mereka saling kenal di Makassar dan ke Tolitoli cuma mau ketemu anak saya dan coba-coba memetik cengkeh,” akunya.

Aktifitasnya menurut Nursofya, selama empat hari ditampung di rumahnya, hanya membantu melakukan pekerjaan rumah, seperti menyapu, mencuci piring, memasak dan membersihkan halaman. Jika ada waktu senggang menurutnya mereka berzikir bersama di dalam kamar.

Tepat empat hari berada di rumahnya, Nursofya mengaku, ke empatnya sedang melakukan persiapan untuk pergi ke kebun. Semua bekal seperti nasi, lauk pauk dan keperluan lainnya sudah dipersiapkan. ” Namun  sesaat sebelum mereka berangkat tiba-tiba petugas dengan senjata lengkap datang menangkap keempatnya,” cerita Nursofya.

Sementara ia mengaku anaknya saat ditangkap pada saat sedang mengambil paket kiriman di salah satu agen pengiriman di Jln KH Syarif Mansyur Kelurahan Panasakan. ” Anak saya terima telpon entah dari siapa, dia bilang temannya, kemudian dia langsung pergi menjemput paket tersebut. Pada saat mengambil paket itulah anak saya ditangkap,” akunya.

Ia juga mengaku saat petugas melakukan penggeledahan, mereka menyita sebuah tabung gas, dokumen serta sebuah rompi milik anaknya yang sering digunakan saat bepergian menggunakan motor.

Bertepatan hari Minggu kemarin, amatan media ini di kediaman Nursofya yang merupakan seorang janda tersebut, sekitar pukul 10.30 wita tampak anggota Densus 88 dibantu  beberapa aparat Reskrim Polres Tolitoli kembali mendatangi rumah tersebut melakukan interogasi terhadap Nursofya kemudian membawa beberapa benda seperti tabung gas dan beberapa buah buku.

Saat media ini coba meminta keterangan anggota Densus 88, anggota itu tidak bersedia memberikan keterangan. Bahkan sempat mengambil kamera media ini dan memaksa untuk menghapus foto yang berhubungan dengan kedatangan mereka ke kediaman tersebut. ” Kalau mau minta keterangan, silakan kontak Polda, jangan minta keterangan sama saya,” kata anggota Densus 88 tersebut, sambil beranjak meninggalkan kediaman orang yang diduga teroris tersebut.(yus)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.