Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Nur Harisa, Siswa Difabel yang Berkompetisi di Olimpiade Sains

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

PALU – Ada yang berbeda pada pelaksanaan Olimpiade Sains Provinsi (OSP), Rabu (18/4) di SMA Negeri 3 Palu Jalan Dewi Sartika Kelurahan Birobuli Selatan Kecamatan Palu Selatan, salah seorang peserta bernama Nur Harisa adalah seorang difabel.

Nur Harisa, peserta penyandang difabel yang mengikuti lomba olimpiade MIPA tingkat Provinsi Sulawesi Tengah di SMAN 3 Palu, Rabu (18/4). Meski penyandang difabel semangatnya begitu besar mengerjakan soal hanya dengan menggunakan kakinya. Bahkan, meja dan kursinya khusus di bawah dari kampung halamannya Desa Bumi Raya, Kabupaten Morowali. (Foto: Mugni Supardi/Radarsulteng)

Walaupun dengan keterbatasan fisik tidak memiliki dua tangan, wanita asal SMA 1 Bumi Raya Kabupaten Morowali ikut berkompetisi bidang mata pelajaran Matematika dengan 13 utusan Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Tengah.

Pelajar kelas X IPA itu duduk tepat di depan pengawas pojok kiri depan. Nur Harisa terlihat santai mengerjakan soal olimpiade dengan menggunakan kaki kanannya mengisi lembaran jawaban.

Kehadiran Nur Harisa menjadi perhatian peserta lainnya, para pengawas dan pihak dari dinas pendidikan.
Ibu Nur Harisa, Dewi Sartika mengatakan, untuk mendukung buah hatinya mengikuti olimpade sains, bersama beberapa keluarga yakni, paman Nur Harisa, sepupu membawa kursi dan meja khusus dari Morowali. Kursi dan meja yang digunakan Nur Harisa dibuat khusus agar memudahkan Nur untuk belajar di sekolah seperti siswa pada umumnya. “Kursi dan mejanya itu dibuat dari sejak Nur SD dan sampai sekarang belum pernah diganti,” ungkap ibu Nur Harisa.

Sementara, Kepala Bidang Pembinaan SMA Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tengah, Muhlis mengaku, takjub dan merupakan pengalaman pertama melihat seorang anak yang secara fisik terbatas, tapi tidak malu sekolah di sekolah umum layaknya anak-anak yang normal. “Ini sesuatu yang luar biasa dan anugerah yang diberikan Allah karena anak difabel bisa bersaing dengan anak-anak yang normal,” ujarnya.

Muhlis juga berharap peserta didik lainnya dapat mencontoh semangat, serta menjadi motivasi siswi untuk lebih giat belajar dan menuntut ilmu, seperti Nur Harisa dengan keterbatasan fisiknya bisa menjadi siswa berprestasi. “Ini sebenarnya menjadi sebuah motivasi yang kuat bagi teman sekolahnya, bahkan siswa siswi yang ada di Provinsi Sulawesi Tengah,” harapnya.

Muhlis mengaku, sempat melihat langsung Nur Harisa mengerjakan soal olimpiade dengan sangat lincah, walaupun hanya menggunakan kakinya. “Anaknya mengerjakan soal lincah sekali,” tambahnya.

Usai lomba olimpiade sains, Nur Harisa menjadi perhatian peserta lainnya dan orang tua peserta lainnya. Bahkan banyak yang meminta untuk berfoto bersama Nur Harisa. Dengan senyum Nur Harisa menerima tawaran para siswa dan orang tua siswa untuk foto bersama. (slm/acm)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.