Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Nostalgia Pisang Nona dan Kacang Sangara Khas Ina-ina Kota Palu

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

SEBAGIAN besar warga Kota Palu yang tinggal di Kota ini pada tahun 80an, 90an sampai tahun 2000an tentu pernah melihat dan merasakan nikmatnya makan pisang Nona dan kacang goreng sangara yang dijual para ibu-ibu (Ina-ina) dengan menggunakan penerangan lampu minyak sumbu yang terbuat dari kaleng susu atau kaleng ikan blek, biasanya dijual pada malam hari di seputaran wilayah Kota Palu.

Dua jenis camilan ini tentu menjadi salah satu suguhan khas yang biasanya dikonsumsi warga Kota Palu pada sore atau malam hari dengan tambahan kopi atau tehsaat itu. Akan tetapi, sekarang ini sudah sangat sulit mendapatkan atau melihat camilan tersebut dijual oleh Ina-ina seperti tahun 80-an, 90-an dan 2000-an di Kota Palu.

Nah kita tentu bertanya, kemana perginya para Ina-ina penjual pisang dan kacang goreng sangara tersebut saat ini? Tentu banyak spekulasi jawaban yang beredar jika pertanyaan tersebut dikemukakan.

Ina-ina penjual pisang Nona dan kacang sangara merupakan salah satu pedagang yang bercirikan kearifan lokal Kota Palu, tidak ada salahnya untuk menghidupkan kembali tradisi itu, karena disamping menambah pendapatan masyarakat, juga akan tetap melestarikan kearifan lokal yang menjadi ciri khas Kota Palu di Era 80-an, 90-an dan 2000-an.

Para Ina-ina yang berjualan pisang Nona dan kacang sangara jika dikelola dengan baik dan profesional oleh Pemerintah Kota Palu, dapat menjelma menjadi salah satu destinasi wisata yang unik dan menarik bagi warga lokal maupun bagi wisatawan domestik lainnya dari seluruh wilayah tanah Air. Caranya dengan menempatkan mereka beserta pedagang kuliner lainnya di satu atau beberapa tempat, kemudian ditata dengan apik dan cantik, sehingga menarik hati para pengunjung yang datang untuk sekedar melihat-lihat atupun membeli dagangan yang mereka suguhkan bagi masyarakat yang berada di Kota Palu dan sekitarnya.

Pemerintah Kota Palu melalui Dinas Pariwisata atau Dinas UMKM Kota Palu dapat menjadi leading sektor untuk menginisiasi usulan ini dengan menyiapkan segala infrastruktur pendukung dari konsep tersebut sehingga terealisasi, dan jika terealisasi, sangat baik untuk diiklankan di website Dinas pariwisata Kota Palu dan semua pihak yang bekerjasama dengan Pemerintah Kota Palu seperti para influencer media sosial yang ada di Kota Palu, agen biro perjalanan (travel) yang ada di Sulawesi Tengah, hotel dan lain-lain, sehingga lebih membuat promosinya massif dan menjangkau seluruh masyarakat Indonesia.

Jika kita melihat dibeberapa daerah lainnya di Indonesia, saat ini telah banyak kearifan lokal yang menjadi objek wisata di Nusantara, satu diantaranya adalah objek wisata pasar terapung di Banjarmasin Kalimantan Selatan.Pasar terapung selain menjadi tempat jual beli masyarakat di Banjarmasin Kalimantan Selatan, juga berfungsisebagai objek wisata yang unik, karena para penjual dan pembeli berinteraksi jual beli diatas perahu yang berjejeran disungai yang menjadi pemandangan indah dan menarik untuk dilihat oleh orang banyak.

Praktik perdagangan seperti ini adalah suatu kearifan lokal yang terus terjaga sampai saat ini, dan telah dipraktekkan oleh orang banjarmasin sejak ratusan tahun yang lampau,tepatnya diawal abad 14 sebelum berdirinya kerajaan Banjar pada tahun 1595 Masehi. Saking unik dan meriahnya, Pemerintah Kalimantan Selatan bahkan sampai membuat Festival untuk memperkenalkan objek wisata pasar terapung ke seluruh Indonesia, dan terakhir pada tahun 2019 kemarin sebelum adanya wabah Covid-19.

Nah, jika kalimantan selatan bisa, maka kita tak perlu ragu untuk membuat Ina-ina penjual pisang Nona dan kacang sangara menjadi salah satu objek wisata Kota Palu yang dipaketkan dengan kuliner khas Sulawesi Tengah lainnya, agar kearifan lokal dapat terjaga sekaligus mendatangkan keuntungan bagi masyarakat serta pemerintah Kota Palu.

Dan untuk saat ini, ditengah covid-19 yang belum juga usai, kita perlumenggencarkan pariwisata dengan standar CHSE, termasuk memperkenalkan kearifan lokal Kota Palu melalui kuliner Pisang Nona dan Kacang Sangara khas Ina-Ina Kota Palu. CHSE itu sendiri adalah singkatan dari Cleanliness (kebersihan), Health (kesehatan), Safety (keamanan), dan Environment (ramah lingkungan). Yaitu standar kesehatan dibidang pariwisata bagi para pelaku usaha dalam hal menjamin protokol kesehatan ditempatnya, agar sektor ini tetap berjalan bahkan bangkit dari keterpurukan.

Para pelaku pariwisata yang dimaksud adalah, mulai dari biro perjalanan, hotel, tempat makan (Kuliner), penjualan oleh-oleh dan cendera mata, lingkungan sekitar objek wisata, dan lain-lain yang masih berkaitan dengan paket wisata. Jika ini dapat terealisasi dan terintegrasi dalam sebuah kolaborasi bersama antara Pemerintah dan Pihak Swasta, maka secara langsung akan menghidupkan sektor pariwisata Kota Palu dan sekitarnya, yang berimplikasipada terbukanya lapangan kerja baru dan berdampak pada pengurangan angka pengangguran.

Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Palu mencatat, tingkat pengangguran terbuka (TPT) hasil pengukuran Survei Angkatan Kerja Nasional Agustus 2020 di Kota Palu, sebesar 8,38 persen. Hasil ini tidak lebih baik dari tahun sebelumnya yang hanya 6,32 persen dari total angkatan kerja yang berjumlah 193.860 jiwa.

Jika ditelisik lebih dalam lagi,kenaikan angka pengangguran di Kota Palu, salah satu penyebabnya adalah akibat wabah Covid-19 yang sampai saat ini belum juga hilang. Satu-satunya cara untuk menurunkan angka pengangguran adalah dengan membuka seluas-luasnya lapangan pekerjaan yang salah satunya dapat melalui sektor pariwisata. Mudah-mudahan Nostalgia Pisang Nona dan Kacang Sangara khas Ina-Ina Kota Palu dapat memberi inspirasi bagi perkembangan pariwisata dan pengurangan angka pengangguran di Kota Palu. Semoga.

*) Penulis adalah ASN BPS Provinsi Sulteng, sekaligus Pemerhati masalah sosial dan ekonomi Sulawesi Tengah.

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.