Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Nilai Rata-Rata UNAS SMA Jeblok

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Ilustrasi siswi salah satu SMA di Kabupaten Morowali yang merayakan kelulusan dengan konvoi kendaraan bermotor tanpa menggunakan helm dan merobek bajunya. (Foto: Moh. Faisal)

JAKARTA – Penyelenggaraan Ujian Nasional untuk SMA/MA tahun 2017 mencatatkan penurunan nilai rata-rata di semua sektor. Baik di sekolah Negeri, Swasta, dan Madrasah. Kemendikbud beralasan masih berfokus pada peningkatan Indeks Integritas Ujian Nasional (IIUN).

Hal tersebut terungkap saat Kemendikbud merilis hasil penilaian UNAS SMA/MA 2017 di Jakarta kemarin (12/5). Dari rata-rata nilai perolehan siswa se-Indonesia, tidak ada yang berhasil melampaui angka 50 –an. Bahkan untuk bebrapa sekolah swasta, sekolah yang masih menggunakan Ujian Nasional berbasis Pensil dan Kertas (UNKP), serta Madrasah-Madrasah anjlok ke angka rata-rata 4.

Mendikbud Muhadjir Effendi mengakui bahwa capaian nilai unas secara Nasional memang berada di angka rata-rata 5. Namun, itu merupakan nilai agregat. Tidak berarti semua siswa di Indonesia meraih nilai 5. “Kalau secara Agregat ya memang turun, tapi itu tidak bisa dijadikan ukuran,” katanya.

Menurut Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang ini, banyak siswa, guru, maupun sekolah yang memandang remeh terhadap beberapa mata pelajaran (mapel) yang sebelumnya tidak diujikan secara nasional. Seperti Biologi, Ekonomi dan Geografi.

Meski demikian, Muhadjir mengatakan bahwa penyelenggaraan UNAS tidak sepenuhnya buruk. Meskipun nilai turun, Indeks Integritas Ujian Nasional (IIUN) dalam penyelenggaraan UNAS tahun ini mengalami peningkatan signifikan. “IIUN naik 300 sampai 700 persen lebih, ini sangat mencolok,” katanya.

Sejak awal, Kemendikbud memang menfokuskan diri untuk membersihkan praktek kecurangan dalam penyelenggaraan UNAS tahun ini. Muhadjir menyebut, jika disuruh memilih antara Nilai tinggi tapi tidak jujur dengan Nilai rendah namun hasil pekerjaan sendiri, ia akan memilih yang kedua. “Saya memang tekankan, Jujur dulu, kualitas belakangan,” katanya.

Rendahnya capaian siswa ini disebabkan oleh banyak faktor. Tidak semata kelemahan siswa dalam belajar, adakalanya perform sekolah serta pembelajaran dari guru yang kurang mumpuni. Dalam tahun ajaran baru nanti, Muhadjir berjanji menekankan pada kebijakan pemerataan dan kualitas. “Selain pendidikan merata, juga harus berkualitas,” katanya.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bidang Pendidikan dan Kebudayaan ini juga mengisyaratkan bahwa rencana moratorium UNAS belum hilang sepenuhnya. “Ya kita lihat saja nanti, kalau tidak bisa di moratorium ya diperbaiki,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Penilaian Pendidikan, Nizam menyebut bahwa pelaksanaan UNAS tahun ini merupakan evaluasi Kemendikbud terhadap integritas sekolah. Beberapa sekolah yang baru menggunakan UNBK  mengalami kenaikan IIUN dan penurunan nilai. “Berarti UNAS yang tahun-tahun lalu bukan pekerjaan murid-muridnya sendiri,” katanya.

Namun, untuk sekolah yang sebelumnya telah menggunakan UNBK, jarak antara IIUN dengan nilai capaian semakin lama terkoreksi semakin sedikit.  Bukti bahwa sekolah sudah mulai mendorong pencapaian siswa-siswanya secara jujur.

Memang, untuk beberapa mata pelajaran masih menjadi PR yang serius bagi Kemendikbud. Utamanya Matematika dan Bahasa Inggris.  Sebagian besar siswa di tanah air belum mampu mencapai standar minimal, yakni 55,5 “Secara nasional, 70 persen nilai matematika belum mencapai standar,” katanya.

Pengamat Pendidikan dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jejen Musfah mengatakan turunnya nilai unas tahun ini dibandingkan sebelumnya, menunjukkan sejumlah gejala. Pertama adalah memang inilah nilai hasil prestasi anak Indonesia sesungguhnya. ’’Jika dikaitkan dengan indeks integritas yang meningkat,’’ tuturnya.

Jejen mengatakan nilai unas selama ini bagus, karena tidak ketahuan integritasnya. Setelah beberapa tahun terakhir dilakukan pengukuran indeks integritas, baru ketahuan. Bahwa penurunan nilai unas diikuti dengan peningkatan integritas atau kejujuran. ’’Idealnya unasnya jujur, nilainya juga bagus,’’ tandasnya.

Kemudian turunnya nilai unas juga bisa dikaitkan dengan semangat atau gairah belajar. Dia tidak memungkiri bahwa terjadi perbedaan semangat belajar, ketika unas masih jadi penentu kelulusan dengan sekarang tidak jadi penentu.

Selain itu penurunan nilai unas itu mengatakan bahwa masih ada budaya manipulatif dalam penilaian siswa. ’’Nilai rapor diisi dengan nilai bagus-bagus, tetapi setelah unas nilainya kelihatan rendah,’’ katanya. Dia berharap ke depan para guru harus bisa memberikan penilaian kepada siswa apa adanya.

Meskipun secara rata-rata nilai unas turun, Jejen meyakini terjadi fenomena kesenjangan nilai unas di dalamnya. Ada sekolah yang mendapatkan nilai tinggi sekali. Sebaliknya ada sekolah mendapatkan nilai jeblok. Jejen menjelaskan ketimpangan layanan pendidikan di Indonesia masih menjadi masalah yang belum terpecahkan. (tau/wan)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.