Neraca Perdagangan Sulteng Surplus US$ 322,14 Juta

- Periklanan -

Ilustrasi kegiatan ekspor. (@bmzIMAGES)

PALU – Pembangunan beberapa smelter di daerah ini masih terus berjalan. Impor mesin dan pesawat masih masih terus dilakukan. Meski demikian, total ekspor Sulteng masih lebih besar dibanding impor.

BPS mencatat, total impor Sulteng selama April 2017 senilai US$ 90,89 juta. Mengalami penurunan cukup signifikan sebesar US$ 110,03 juta atau 54,76 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara, selama periode Januari-April 2017, terjadi kenaikan US$ 150,05 juta atau sebesar 86,19 persen menjadi US$ 324,15 juta dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Dilihat dari neraca perdagangan (total nilai ekspor dibaning impor) dengan seluruh negara mitra dagang, Sulteng mengalami surplus senilai US$ 70,75 juta selama April 2017,” jelas Wahyu Yulianto, Kabid Statistik Distribusi BPS Sulteng, be;um lama ini (2/6).

- Periklanan -

Sementara bila dibandingkan periode yang sama tahun lalu, Januari-April 217 neraca perdagangan Sulteng mengalami surplus senilai US$ 322,14 juta. Wahyu menyebutkan, selama April 2017, impor Sulawesi Tengah didominasi oleh kelompok komoditas mesin dan pesawat mekanik. Nilainya mencapai US$ 52,49 juta atau 57,75 persen.

Disusul bahan bakar mineral senilai US$ 26,05 juta (28,66 persen), mesin/peralatan listrik senilai US$ 8,91 juta (9,80 persen) serta perabot dan penerangan rumah senilai US$ 2,69 juta (2,96 persen). Selama Januari-April 2017, komoditas yang mendominasi impor Sulteng yaitu mesin dan pesawat mekanik senilai US$ 193,35 juta atau 59,65 persen dari total impor.

Bila dilihat dari negara asal, impor Sulteng selama April 2017 didominasi dari Tiongkok sebagai mitra dagang utama. Nilainya mencapai US$ 51,20 juta atau 56,33 persen dari total nilai impor Sulteng. Diikuti imor dari Italia senilai US$ 16,05 juta (17,66 persen), dan Swiss senilai US$ 10,48 juta (11,53 persen).

Selama Januari-April 2017, impor berasal dari Tiongkok senilai US$ 254,63 juta (78,55 persen), Swiss senilai US$ 20,26 juta (6,25 persen), Italia senilai US$ 16,05 juta (4,95 persen), Singapura senilai US$ 14,96 juta (4,62 persen), dan Korea Selatan senilai US$ 8,49 juta (2,62 persen), serta negara lainnya senilai US$ 9,76 juta (3,01 persen).

Pelabuhan bongkar impor di Sulteng selama April 2017 didominasi Poso senilai US$ 66,05 juta, Luwuk senilai US$ 24,38 juta, dan Pantoloan senilai US$ 0,46 juta. Selama Januari-April 2017, kontribusi Poso mencapai US$ 284,02 juta (87,62 persen), diikuti oleh Luwuk senilai US$ 38,75 juta (11,95 persen) dan Pantoloan senilai US$ 1,38 juta (0,43 persen). (ars)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.