Nasib Penyintas Perempuan di Huntara Lere saat Masa Pandemi

Kesehatan Mental Belum Terlayani, Berisiko Kembali Terjadi Bunuh Diri

- Periklanan -

Sudah jatuh tertimpa tangga. Peribahasa ini bisa menggambarkan keadaan yang dialami sejumlah perempuan di hunian sementara (Huntara) Kelurahan Lere, Palu Barat, Kota Palu. Belum habis duka bencana alam 28 September 2018 silam, kini kelompok rentan di Huntara ini, harus merasakan dampak lain dari bencana non alam, Pandemi Covid-19. Salah satunya gangguan kesehatan mental.

AGUNG SUMANDJAYA, Lere

DARI Jauh deretan tenda yang sudah 2 tahun lebih huni para penyintas bencana ini, terlihat layaknya lokasi perkemahan. Di lokasi ini, awalnya dihuni oleh kurang lebih 205 kepala keluarga. Tapi kini, sedikit berkurang. Karena beberapa penghuninya telah pindah ke hunian tetap.

Beberapa di antaranya juga sudah kembali membangun di bekas lokasi tsunami. Yang bertahan masih sekitar 160an kepala keluarga. Satu diantaranya adalah Nurhayati (50). Meski namanya sudah terdaftar sebagai penerima Huntap, namun Nurhayati enggan untuk meninggalkan Huntara, karena tanggungjawab suaminya sebagai Ketua RT sekaligus koordinator di Huntara tersebut.

Sambil menggoreng lauk untuk santap siang, di ruang tamu sekaligus dapur, Nurhayati melayani media ini berbincang. Ibu empat orang anak itu menuturkan, sejak pandemi Covid-19, dirinya baru sekali menerima bantuan dari pemerintah. Yakni Jatah Hidup (Jadup), sebesar Rp600 ribu. “Tapi untuk makan tidak sampai sebulan sudah habis,” katanya.

Sebelum pandemi Covid-19, dia memang memiliki usaha yang dimodali salah satu NGO atau LSM. Usaha berkelompok dengan beberapa perempuan lainnya di Huntara itu, sudah berjalan baik. Mereka memproduksi ikan asap, yang telah dipasarkan ke sejumlah tempat. Namun ketika pandemi melanda, minat orang membeli pun menurun. “Terlebih lagi, saya sudah sejak sebulan sakit, jadi belum jalan usaha kami ini,” ungkap Nurhayati.

Untuk makan sehari-hari bersama empat anaknya, Nurhayati dan suami harus memutar otak. Namun dia bertekad, jika benar-benar telah sembuh, akan kembali aktif lagi memproduksi ikan asap, meski sepi pembeli. Nurhayati juga mengaku sedih, sebab salah satu anggota kelompoknya yang juga sekretaris kelompok usaha ini, telah meninggal. Meninggal dengan cara gantung diri. “Dia di kelompok usaha ikan asap, jadi sekretaris saya, sebulan lalu waktu saya dirawat, meninggal gantung diri. Padahal dia masih punya anak kecil dua orang dan saat meninggal sedang mengandung tujuh bulan,” sebutnya.

Dia menyesal, karena wanita berinisial R itu masih berusia muda. Umurnya 30an tahun. Memang menurut Nurhayati, R kerap curhat kepada dirinya soal rumah tangga. Namun dia menduga, faktor utama hingga R nekat menghabisi hidupnya, karena faktor ekonomi. “Kasian anak itu, dia gantung diri di dalam tenda Huntara, padahal kalau dipikir ini (tenda) tidak tinggi. Yah mungkin sudah jalannya,” kenang Nurhayati.

Sementara itu, Pendamping Kelompok Rentan di Huntara Lere, yang juga salah satu perwakilan NGO, Rispa R Manto mengungkapkan, dirinya tidak menyangka jika R akan mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. Sebab, sepengetahuannya R, selalu terlihat ceria ketika ikut berkegiatan baik dalam kelompok usaha maupun beberapa kali kegiatan yang dibuatnya. “Memang secara psikologis kita tidak tahu apa yang dia rasakan, tapi dari kami, telah berikan pendampingan untuk mereka yang kelompok rentan ini, tapi dari segi pemberdayaan ekonominya saja,” sebut Rispa.

Adapun program pemberdayaan kelompok rentan sendiri yang diberikan lembaga dari Rispa, sudah ada sejak sebelum pandemi terjadi. Dan juga berjalan ketika masa pandemi, meski intensitas untuk bertemu dan bertatap muka dikurangi. Dia pun berharap, kedepan ada semacam pendampingan psikologis lagi kepada para perempuan di Huntara Lere, terlebih bagi ibu-ibu muda. “Di sini ada banyak yang masih muda sudah menikah. Ini pula kami khawatirkan mental mereka belum siap berumah tangga, olehnya perlu diberikan semacam pendampingan mental, agar kasus bunuh diri perempuan di Huntara ini tidak kembali terjadi,” terangnya.

- Periklanan -

Di tempat terpisah, Psikolog Pendamping Pasien Covid-19, I Putu Ardika Yana mengungkapkan, selama Covid-19 ini, memang beban pikiran masyarakat terutama mereka yang masih berada di pengungsian semakin berat. Hal ini lah, yang juga memicu keinginan untuk bunuh diri. Namun kata dia, niat bunuh diri itu sebenarnya merupakan penyakit, yang merupakan gejala dari gangguan depresi berat. “Seharusnya itu bisa diobati,” tegas Putu Ardika.

Apalagi yang diketahui bahwa R, yang meninggal gantung diri, sedang mengandung tujuh bulan. Hal itu diduga, merupakan depresi di masa kehamilan yang dirasakan sebagian ibu hamil. Itu kata dia tergolong penyakit berat yang harusnya bisa terdeteksi ketika memeriksakan kandungan di Posyandu. “Tapi kan kebanyakan yang ditanyakan hanya kesehatan fisik saja, sementara kesehatan mental jarang ada yang tanyakan,” jelasnya.

Dia pun meminta, agar kasus serupa tidak kembali terjadi maka pemerintah harus menunjukkan perhatian, dengan lebih mengedepankan promosi kesehatan dalam edukasi kepada para penyintas terkait kesehatan mental. Senada dengan Putu, Kepala Divisi Advokasi dan Kampanye Sulteng Bergerak, Freddy Onora juga menyampaikan, bahwa terulangnya kasus bunuh diri perempuan di Huntara, di masa pandemi ini, seharusnya merupakan tanggungjawab pemerintah.

Disampaikan Freddy, jika menyebut siapa yang paling prioritas diperhatikan dalam masa pandemi Covid-19 saat ini, mereka adalah penyintas bencana yang masih bermukim di Huntara. Karena menurut dia, kehidupan penyintas sangat jauh dari kata layak. Adapun kasus bunuh diri perempuan di Huntara bukan kali pertama saja. “Ini sudah kasus kedua, sebelumnya ada di Huntara Koni, seorang ibu juga mencoba bunuh diri dengan meminum pembersih lantai. Sempat dibawa ke rumah sakit, tapi tidak punya biaya dan dibawa pulang, akhirnya meninggal,” sesal Freddy.

Ada dua faktor kata dia, yang menyebabkan penyintas, terutama kaum perempuan berniat untuk bunuh diri. Di mana kondisi ekonomi yang belum pulih serta minimnya fasilitas yang ada di Huntara, selain tentu adanya masalah keluarga. “Ini yang sebabkan psikologis penyintas bisa terganggu dan mengambil jalan pintas,” katanya.

Pemerintah kata dia, tidak terlihat mengintevensi kepentingan-kepentingan dasar para penyintas. Seperti aktif turun memeriksa kesehatan jasmani maupun psikologis para penghuni Huntara. Jika hal itu dilakukan pemerintah, sebut Freddy, kecil kemungkinan keinginan mereka untuk bunuh diri. “Karena kalau semua kebutuhan mereka terpenuhi dan mentalnya juga bisa dibimbing, itu (bunuh diri) tidak akan terjadi,” tegas aktivis pemenuhan hak korban bencana ini.

Freddy juga menambahkan fasilitas kesehatan yang layak di Huntara juga harus diperhatikan pemerintah. Seharusnya, fasilitas kesehatan di lokasi Huntara merupakan hal penting mendesak dan diprioritaskan. Secara berkala penyintas dipastikan sehat secara fisik dan mental. Terlebih perempuan dan kelompok rentan yang sangat perlu mendapatkan perhatian khusus. “Pemerintah perlu menyediakan fasilitas kesehatan yang layak. Penyintas harus dipastikan sehat secara fisik dan mental. Dijamin ekonominya, diberdayakan dan dilindungi hak-haknya,” kata Freddy.

Freddy menegaskan, jika pemerintah terus abai terhadap kondisi penyintas dan tidak segera mendorong percepatan proses penanganan pasca bencana, maka, tidak menutup kemungkinan kasus-kasus serupa akan terus terjadi. Untuk itu dia meminta kepada pemerintah, segera mempercepat segala bentuk pemenuhan dasar para penyintas. Juga segera melakukan monitoring dan evaluasi kembali kondisi terkini para penyintas, terutama kelompok rentan. “Kami lihat hampir tidak ada intervensi pemerintah, apalagi di tengah pandemic saat ini. Regulasi yang mereka buat sendiri pun, hampir 80 persen tidak dijalankan,” tandas Freddy.

Dikonfirmasi terkait masalah ini, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Palu, Irmayanti Pettalolo, mengaku, pihaknya sudah berupaya melakukan pencegahan dengan rutin melakukan edukasi serta pendampingan kepada perempuan dan anak khususnya yang ada di Huntara. Selama masa pandemi ini, meski melibatkan warga dengan jumlah terbatas, pihaknya juga kerap memberikan edukasi dan penguatan kapasitas perempuan. “Dan semua yang kita libatkan adalah perempuan,” terang Irmayanti.

Disinggung terkait dengan pendampingan secara psikologis, Irmayanti mengaku, saat turun ke Huntara, mereka juga mengikutkan psikolog di dalamnya. Dia pun mengakui, pihaknya memiliki keterbatasan untuk memantau para penyintas utamanya perempuan 1 x 24 jam. Untuk itu dia berharap, masing-masing Koordinator Huntara, bisa berperan aktif melaporkan bila ada masalah yang menyangkut perlindungan perempuan di Huntara. “Kalau butuh penguatan akses psikologis perempuan di Huntara, kami siapkan,” pungkasnya. (**)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.