Museum Kesennuma Dibangun untuk Pelajaran Generasi Dunia

- Periklanan -

KESENNUMA-Di Kota Kesennuma Perfektur Miyagi Jepang para peserta pelatihan KCCP JIGA mengunjungi Museum tsunami, yang sebelumnya adalah gedung SMK Kesennuma sebuah wilayah di Jepang Timur tepatnya di Prespektur Miyagi hancur luluhlantak disapu tsunami 11 Maret 2011 yang lalu.

Mr Satto, selaku kepala Museum menjelaskan, museum ini dibuat agar generasi penerus, anak cucu kita, bukan saja untuk anak-anak Jepang, tetapi untuk semua anak-anak di dunia akan mendapatkan pelajaran dari Museum ini.

Para peserta diajak melihat-lihat isi ruangan yang dulunya menurut keterangan Mr. Sato merupakan ruang belajar. Oleh Pemerintah Kota barang-barang rongsokan eks tsunami seperti mobil terguling, kayu dan rumput, serta batang-batang pohon yang tumbang dibiarkan di posisinya seperti saat tsunami terjadi.

“Semua barang-barang ini jadi milik museum. Semuanya jadi saksi. Ini semua akan menjelaskan kepada kita semua akan bahayanya bencana tsunami itu, bahkan bekas-bekas kepala ikan dari tempat penampungan ikan SMK masih tersimpan dengan baik di sini, ” jelas Satto.

Dikesempatan kunjungan tersebut, para peserta pelatihan juga diberi tontonan film tentang tsunami yang menyapu Kesennuma yang merupakan wilayah di pesisir pantai. Namun Mr. Satto melarang mengambil gambar atau membuat video film tersebut, karena dikuatirkan semua akan dibuat bersedih setelah menyaksikan film yang mengharubirukan suasana hati penonton.

Setelah menyaksikan film tsunami dilanjutkan dengan mengunjungi semua ruangan-ruangan yang di dalamnya terdapat tumpukan amukan tsunami. Tidak pernah dibersihkan, dan asli seperti saat tsunami terjadi. Termasuk melihat-lihat lantai 4 paling atas, dimana ibu-ibu guru dan staf administrasi SMK menyelamatkan diri dengan tangga di puncak gedung dan selamat. Setelah itu, kami pun turun lagi ke lantai 1, untuk mengisi kata hati dalam bentuk tulisan lalu ditempelkan di dinding whiteboard, sekadar pesan dan harapan doa buat para siswa dan guru SMK Kesennuma yang meninggal dunia.

Rupanya bukan hanya itu, Kepala Museum meminta kami untuk membentuk kelompok, dan menuangkan isi hati dan rencana kita bila sudah kembali ke daerah kita masing-masing di Indonesia. Seperti tulisan kata hati di atas, juga ditempel di whiteboard.

- Periklanan -

Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Sulawesi Tengah Sulteng) Hasanuddin Atjo, mengatakan, kemungkinan kedepan bisa digagas adanya kerjasama antara Provinsi Sulteng dengan Perfektur (di Indonesia level Provinsi) Miyagi terletak di bagian Timur Jepang. Menurut Hasanuddin, kedua provinsi ini bisa dilakukan kerjasama dalam rangka menangani bencana dan pascabencana disebabkan latar belakang kebencanaan.

Seperti diketahui tutur Hasanuddin, Perspektur Miyagi terkena dampak paling dasyat tsunami di 11 Maret 2011 lalu.

Air pasang tsunami datang dari laut pasifik yang menghantam kota-kota pesisir di Perfektur Miyagi seperti Sendai, Iwanuma, Kesennuma dan Nagashimatsusima. Kalau di Sulteng tsunami datangnya dari arah teluk Palu menghantam pesisir Donggala dan Palu yang sama-sama menimbulkan korban jiwa dan kerugian materi yang sangat besar.

Yang membedakan keduanya, Miyagi hanya gempa dan tsunami dengan jedah waktu antara gempa dan tsunami kurang lebih satu jam sehingga masih ada kesempatan menyelamatkan diri. Sedangkan di Sulteng selain gempa juga menimbulkan tsunami dengan jedah waktunya hanya sekitar lima menit, sehingga banyak korban. Selain tsunami, gempa Palu juga menimbulkan pergeseran tanah dan teraduk yang dinamakan likuifaksi di kawasan pemukiman Kelurahan Balaroa dan Petobo Kota Palu serta Desa Jonooge di Kabupaten Sigi yang juga timbulkan korban ribuan jiwa serta kerugian materi.

Kedua provinsi ini tentunya punya kesamaan emosi terhadap kebencanaan, sehingga akan mudah menjalin sebuah kerjasama yang saling menguntungkan dan memberikan manfaat di bidang Ilmu pengetahuan, sosial budaya dan ekonomi.

Dukungan pemerintah Jepang melalui JICA bekerjasama dengan Bappenas Republik Indonesia dirasakan banyak manfaatnya. Terlebih setelah Aparatur Pemerintah Daerah tertentu di tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota diundang ke Jepang melihat dari dekat dan mempelajari bagaimana wilayah-wilayah yang terdampak telah bangkit, menata ulang dan menjadi lebih indah dan maju dengan membandingkan gambar-gambar yang ada sebelum bencana. Konsep itu dinamakan “Back Built Better, B3”, yaitu membangun kembali yang lebih baik.

Ruang lingkup kerjasama dapat meliputi bidang pemetaan dan penataan ruang, bidang ekonomi dan budaya serta bidang ilmu pengetahuan seperti transformasi industri agro, pariwisata dan perikanan yang berbasis masyarakat. Dan sejumlah ketrampilan lainnya di bidang industri kreatif dan digital.

Kemungkinan ini sesungguhnya terbuka dan bergantung keinginan dan kesungguhan dari pemerintah daerah. Dalam pernyataan-pernyataan pejabat JICA dan Bappenas RI dalam evaluasi akhir terkait kunjungan ini pada 13 November 2019 di kantor pusat JICA di Tokyo tersirat dimungkinkan dibangunnya kerjasama antara Sulteng dan Miyagi melalui fasilitasi kedua negara Indonesia dan Jepang.(mch)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.