Mulai dari Pijat hingga Ajak Anak Berkomunikasi Agar Nyaman

Semangat Penderita Tunadaksa Ikuti Terapi dari Para Relawan Tagana

- Periklanan -

Memiliki kelainan Fisik tidak membuat semangat belajar siswa di Sekolah Luar Biasa (SLB) ABCD Muhamadiyah kendor. Semangat itu makin terlihat dengan hadirnya terapis dari luar Kota Palu.

UMI RAMLAH, Lere

SEMANGAT siswa SLB ABCD Muhamadiyah terlihat saat beberapa relawan datang di sekolah untuk melakukan terapi bagi anak-anak penderita Tunadaksa. Tunadaksa adalah cacat fisik karena beberapa sebab seperti, gangguan bentuk atau hambatan pada tulang, otot, dan sendi dalam fungsinya yang normal. Kondisi ini disebabkan oleh penyakit, kecelakaan, atau dapat juga disebabkan oleh pembawaan sejak lahir.

Siswa SLB ABCD satu persatu di periksa apakah memiliki kriteria tunadaksa atau tidak, jika sudah di identifikasi, relawan kemudian memberikan stimulus dengan menanyakan nama, hobi dan aktivitas sehari-hari siswa agar nyaman saat diterapi. Berbagai cara dilakukan, mulai dari dibaringkan dan di suruh duduk di kursi, terapis dengan sabar menanyakan keadaan anak yang diterapi, sambil memijit dan mencoba meluruskan bagian badan anak yang bengkok karena cacat dari lahir.

- Periklanan -

Tidak hanya di situ setiap anak diajarkan gerakan terapiyang bisa dipraktekkan setiap hari, terutama bagi yang memiliki kelainan kaki. Kesabaran Relawan yang berasal dari Tagana Sulteng dan Tagana Jogjakarta, patut diacungi jempol. Siswa SLB dengan berbagai karakter menggoda, memukul dan mengganggu tidak dipedulikan. Mereka terus saja menuntun anak-anak tersebut untuk diterapi.

Kepala SLB ABCD Muhammadiyah Palu, Sutraini mengatakan, sangat bersyukur dengan hadirnya tim relawan melakukan terapis, sehingga siswanya bisa sedikit terbantu untuk kesembuhan. “Saya sebelum gempa ada rencana panggil terapis, tidak jadi karena keadaan,” ucapnya.

Siswa yang diterapi kurang lebih 10 anak, dan ditangani tim terapis selama 3 minggu. Bukan hanya dari Palu saja tetapi dari Jogja juga ada. “Ada tim terapisnya yang memiliki kondisi tubuh sama dengan mereka, tapi bisa baik dan berjalan normal, itu menjadi semangat anak-anak di sini,” ungkapnya.

Berdasarkan keterangan kepala sekolah selain diterapi siswa juga diberikan bantuan, seperti sepatu khusus bagi anak yang memiliki kaki miring dan bengkok ke belakang, tongkat untuk berjalan, dan alat bantu jalan biar bisa berjalan normal. Sepuluh anak yang diterapi memiliki gangguan berbeda, pada saat dilakukan terapi guru kelasnya mendampingi agar gerakan yang diajarkan guru tahu dan memberi tahukan ke orangtuanya masing-masing. “Setiap hari biar dilatih gerakan itu, jadi lama-lama bisa normal,” ucapnya.

Disekolah SLB ABCD sendiri fokus pembelajaran adalah baca, menulis dan menghitung. Serta diberikan bekal keterampilan dan bakat setiap anak. Dengan pemberian materi, 60 persen akademik, sisanya keseharian dan bakat. Yang terpenting siswa Bisa merawat dirinya sendiri Tidka tergantung orang lain saat di kehidupan sehari-hari. “Banyak siswa SLB berprestasi di sini, ada pemenang lomba lari berkebutuhan khusus, pemenang lomba dongeng dan masih banyak lagi,” sebutnya. (**)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.