Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Miris, Oknum Jaksa Diduga Minta “Angpao”

Saat Tangani Kasus Khilaf Kades Ogomoli

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

TOLITOLI-Nama besar Adhyaksa dan proses penanganan hukum di Kabupaten Tolitoli, sedikit tercoreng. Persoalannya, Jusri SH–Kepala Seksi Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejaksaan Negeri (Kejari) Tolitoli disebut-sebut diduga telah meminta “angpao” Ro 50 juta, dalam penanganan kasus khilaf perkelahian Kepala Desa dengan Ketua BPD Desa Ogomoli, Kecamatan Galang, belum lama ini.

Dari penelusuran media ini, informasi permintaan angpao Rp 50 juta terkuak, setelah AN-salah seorang keluarga Kades Ogomoli “bernyanyi” lantang di hadapan wartawan Radar Sulteng.

AN menceritakan, awalnya kasus ini bermula ketika Amris-Kades Ogomoli berinisiatif untuk melakukan penyemprotan disinfektan-sebagai salah satu langkah antisipatif penyebaran wabah Covid-19 khususnya di Desa Ogomoli. Niat kades ini disampaikan ke aparat desa, dan tidak ada maksud untuk tidak melibatkan ketua BPD-lawan seterunya.

Nah, saat penyemprotan disinfektan berlangsung (awal April lalu), Ketua BPD datang ke lokasi penyemprotan, lalu terjadilah cekcok. Ketua BPD mencoba menghalangi kegiatan penyemprotan, dengan alasan tidak dilibatkan dalam perencanaan dan kegiatan. Akhirnya suasana makin tegang dan sempat terjadi perkelahian. Kades khilaf, leher ketua BPD sedikit dicekik hingga tergores luka kecil.

Kemudian, dari perkelahian inilah kasusnya ditangani Polsek Galang hingga diserahkan sampai ke meja jaksa, lalu diteruskan ke pengadilan dan kini Kades Amris menjalani masa hukuman di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II Tolitoli.

Yang menjadi persoalan, lanjut AN, ketika di dalam proses penanganan hukum di kejaksaan, serta upaya Kades dan keluarga besarnya agar kasus ini bisa ditangani dengan bijak, lantas muncul permintaan khusus dari Kasi Pidum Jusri, “minta angpao”.

Hal itu disampaikan Jusri ke keponakan Kades berinisial MN. “Jika ingin kasus ini cepat selesai, satu paketlah, Rp 50 juta. Bagi dua, kejaksaan Rp 25 juta, pengadilan Rp 25 juta,” ungkap MN mengutip suara permintaan Kasi Pidum saat itu.

Karena belum bisa menyiapkan uang sebesar itu, Kades tak mengiayakan permintaan tersebut. Namun, sebelum persoalan angpao Rp 50 juta menjadi viral dibicarakan khalayak ramai, sebelumnya Kades Amris kepada pewarta mengaku, telah memberikan angpao dengan nilai yang lebih kecil Rp 3 juta kepada Kasi Pidum, beberapa hari sebelum Hari Raya Idulfitri. Sedangkan Rp 3 juta lainnya diberikan kepada ketua PN Tolitoli Syahbudin melalui perantara Jaksa berinisial AR.

“Iya saya ada kasih uang Rp 3 juta ke Pak Jusri, saat awal mulanya kasus itu ditangani. Uang tersebut bisa saya dapatkan setelah menggadaikan sawah, dan diberikan sehari sebelum lebaran, dan untuk PN Tolitoli melalui Jaksa, kata Amris saat dikonfirmasi.

Dikonfirmasi mengenai hal ini, Ketua PN Tolitoli Syahbudin mengaku sangat geram. Sebab, kata dia, hingga saat ini dirinya tidak pernah meminta apalagi menerima angpao Rp 3 juta, dalam penanganan kasus Kades tersebut di Pengadilan Negeri Tolitoli.

Sementara itu, Kasi Pidum Jusri saat dikonfirmasi mengenai dirinya telah menerima angpao Rp 3 juta, membantah.

“Ah tidak benar itu, itu tidak benar lah,” bantah Jusri kepada pewarta di ruang kerjanya.(tim)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.