Minta Sekretariat IKKIB Dipindahkan ke Palu

Pengurus Diduga Kedaluarsa Sudah Lewat Satu Tahun

- Periklanan -

PALU-Tokoh masyarakat Kabupaten Buol di Palu, yang juga tokoh pendiri pemkeran Kabupaten Buol lepas dari kabupaten induknya Kabupaten Tolitoli, H Syamsudin Salakea, mengatakan kepada Radar Sulteng, organisasi paguyuban kemasyarakatan Ikatan Kerukunan Keluarga Indonesia Buol (IKKIB) perlu dievaluai. Terutama kepemimpinan Ketua IKKIB Buol saat ini H Ibrahim Timumun.

Menurut Syamsudin Salakea, sejauh ini ia melihat IKKIB tidak bergerak, tidak ada kegiatan yang terasa oleh warga Buol terutama yang berada di perantauan, dan tidak memiliki program kerja yang jelas. Bahkan Musyawarah Besar (Mubes) yang pernah digelar sebelumnya, namun di masa kepemimpinan Ibrahim Timumun sekarang ini tidak pernah dilakukan lagi.

“IKKIB Buol sudah mati, tidak bergerak sama sekali, tidak aktif. Tidak ada lagi terasa program kerja apapun yang dilakukan. Ini perlu dievaluasi, “ tegas Syamsudin, kepada Radar Sulteng, Minggu (1/9).

Selain tidak pernah menggelar Mubes dan kegiatan yang berarti, struktur kepengurusan pun tidak jelas, yang nampak hanyalah dari Ketua Umum dan Bendahara Umum, yang lain mana ?

Syamsudin, juga menyoroti keberadaan sekretariat IKKIB, seharusnya bukan berada di Buol, tetapi harus berada di perantauan. Misalnya di Kota Palu, atau di Makassar, atau di mana saja di seluruh Indonesia. Yang penting bukan di Buol. Karena Buol itu kan daerah leluhur kita semua. Tetapi dalam konteks ini, IKKIB dibentuk itu diperantauan. Marwahnya itu organisasi perantauan.

“Coba lihat itu KKSS, bukan ada di Makassar. Organisasi Kawanua, bukan berada di Manado Sulawesi Utara, atau paguyuban Jawa, bukan berada di Jawa. Juga kerukunan Orang Kito Padang, bukan berada di Padang. Kerukunan orang Banjar, bukan berada di Kalimantan, dan sebagainya. Semuanya ada di perantauan, “ urainya.

Karena itu, Sayamsudin sempat mengundang Ibrahim Timumun saat Ibrahim berada di Kota Palu, dan berdiskusi membahas permasalahan IKKIB terkini. Dalam diskusi itu, Syamsudin mengingatkan kepada Ibrahim Timumun agar IKKIB segera menggelar Mubesnya, yang dihitungnya sudah molor satu tahun. “Kita harus menggelar Mubes lagi, guna mengevaluasi kepengurusan dan program kerja kepengurusan IKKIB periode sebelumnya, “ tandas Syamsudin.

Menanggapi gagasan tersebut, Ibrahim Timumun kepada Syamsuddin Salakea mengatakan dirinya telah memberi mandat kepada beberapa warga Buol asal Palu yaitu Amat Entedaim, Achmad Hi. Rasyid, dan Syamsudin Kuntuamas, agar melakukan sosialisasi reorganisasi (pembentukan pengurus baru) IKKIB kembali, termasuk di dalamnya Mubes IKKIB.

Akan tetapi, kata Syamsudin, warga Buol di Kota Palu, dimana ketiga warga itu bermukim tidak pernah terdengar atau disampaikan, apalagi tersosialisasi bagi seluruh warga Buol yang notabenenya adalah bakal anggota dan pengurus baru IKKIB bila jadi dibentuk.

Dikonfirmasi di Buol, Senin (9/9), Ketua IKKIB Ibrahim Timumun menjelaskan, diakuinya menjelang HUT Kabupaten Buol yang ke 19 saat ini banyak bermunculan pendapat.

Ia lalu menceritakan sejarah panjang IKKIB, yang kini berkedudukan di Buol. Sebelumnya berkedudukan di Kota Palu. Awal berdirinya di Kota Palu, sekitar tahun 1997, lalu dia tumbuh begitu besar dan berkembang, karena ide dasarnya itu mau merebut “sesuatu” yang besar, maka organisasi ini dilahirkan, yaitu merebut Buol menjadi kabupaten.

Ide-ide itu dilakukan kurang lebih dua tahun sekian bulan yang dilakukan mulai TAWAB I, 4 sampai 9 Januari 1999 di Buol. Lalu melahirkan sebuah organisasi kecil bernama IKKIB, untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat Buol bahwa kita ingin berpisah dari Tolitoli.

“IKKIB lalu membentuk panitia persiapan pembentukan pemekaran Kabupaten Buol (P4KB). Mulai dari situ perjuangan, hingga lahirlah ini Kabupaten Buol, “ paparnya. Setelah Buol lahir, muncul pemikiran untuk apa lagi IKKIB ini ada.

Sebenarnya cita-cita dan tujuan IKKIB itu bukan hanya lahirnya sebuah kabupaten, tetapi dia merupakan organisasinya orang Buol seluruh Indonesia, dan bahkan di luar negeri. Antara lain di Malaysia, Singapore, dan dia merupakan paguyubannya orang Buol untuk mengumpulkan catatan-catatan, merupakan bahan renungan kepada pemerintah daerah, dan pokok-pokok pikiran untuk pemerintah Kabupaten Buol dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Tengah (Sulteng).

“Jadi IKKIB itu membuatkan pokok-pokok pikiran dan menyumbangkan pikiran kepada pemerintah Buol khususnya, dalam kaitannya dengan perencanaan pembangunan. Karena itu dia tidak pernah berhenti, “ tegas Ibrahim.

- Periklanan -

Menurut Ibrahim, perpindahan IKKIB dari Palu ke Buol karena stagnannya kepengurusan IKKIB pada waktu itu. Mendekati dua periode tidak berjalan dengan baik. Karena itu, beberapa tokoh masyarakat bertemu dengan ketua umumnya pada waktu itu almarhum Yusuf Butudoka supaya IKKIB itu bisa “memindahkan” kantornya, dan ketua umum bersama pengurus besarnya di Buol.

Lahirlah sebuah kesepakatan melalui TAWAB III Mubes II yang dilakukan di Buol kurang lebih empat tahun lalu, dan melahirkan kepengurusan IKKIB itu, dengan ketua umumnya Ibrahim Timumun, dan sekretaris umumnya almarhum Yasin Pusadan, beserta seperangkat kepengurusan yang ada.

“Kalau meletakkan kepengurusan organisasi ini hanya berdasarkan pada keinginan politik, orang per orang, kepentingan sekelompok masyarakat maka belum tentu kepengurusan itu berjalan, “ tandasnya.

Karena itu IKKIB bekerja mobile, dan melakukan kegiatan di beberapa tempat. Sudah berkoordinasi dengan pemerintah setempat (Pemkab Buol, red), antara lain DPRD, Bappeda, Bupati, dan Sekkab, maksudnya IKKIB memasukkan proposal pengajuan anggaran supaya dimasukan dalam ABPD kabupaten.
“ Kenapa ? Supaya dia mendapatkan anggaran setiap tahunnya. Karena inilah organisasi yang sudah turut melahirkan Kabupaten Buol, meskipun hanya sedikit. Untuk apa ? Dana ini tentu kita akan gerakkan dimana ada orang Buol yang banyak, seperti di Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, dan Kalimanatan Selatan. Banyak kan orang Buol di situ, kita bentuklah di situ. Kemudian, kita bentuk di Sulawesi Utara, di Gorontalo, tetapi kita pada waktu itu terbentur dengan pemerintah daerah tidak mau menanggapi itu, “ beber dia.

Ibrahim merasakan, apa sih kekuatan sebagian besar pengurus IKKIB yang terdiri dari orang-orang pensiunan. Itulah hambatan kenapa dia terhenti programnya, tapi tidak berarti programnya berhenti sama sekali. Kemampuan menggerakan organisasi ini hanya kegiatan internal yang setiap tahunnya kita lakukan. Misalnya mendekati HUT kabupaten kita jalan ke kecamatan menyampaikan kegiatan program pemerintah, bahwa IKKIB itu begini.
“Jangan salah menganggap organisasi ini terhenti. Karena masalah kebodohan, tidak. Kita menggerakan organisasi besar seperti ini, dan kegiatan organisasi yang bersejarah, mestinya ditopang oleh APBD. Itu khususnya di luar provinsi, kalau di Kabupaten Buol tentunya di kecamatan-kecamatan.

“ Kita tidak digubris lagi. Bahkan tidak diundang kalau Ulang Tahun Daerah. Jadi, saya mengaggap IKKIB ini diremehkan oleh pemerintah, itulah hambatannya, “ bebernya.

Diungkapkannya, IKKIB sebenarnya memiliki biro-biro atau departemen. Ada bagian yang menangani dana, ada bendahara, dan kita diberi kesempatan mencari dana di tempat-tempat tertentu. “ Tapi, kita ini merasa orang tua. Apakah kita menjadi peminta-minta kepada masyarakat, kan tidak ada enaknya itu, “ ujarnya lagi.

Dipenghujung pembicaraannya dengan media ini, Ibrahim merasa seperti ada ketidakadilan, disebabkan orang lain diberi proyek bermiliar-miliaran, sementara IKKIB yang justru melahirkan kabupaten tidak mendapatkan anggaran operasionalnya sepeserpun.

“Dari 34 provinsi di Indonesia, sudah separuh telah membentuk paguyuban IKKIB. Cuma, pembinaan menuju ke sana itu harus butuh dana. Mestinya operasional organisasi dimasukan dalam APBD. Sekecil apapun akan kita pertanggungjawabkan, “ tuturnya.

Dimana itu dana ? Ada di dalam organisasi sosial kemasyarakatan, bisa dipungut dana itu dari organisasi kemasyarakatan. Apa kegiatannya, tentu kita hitung berapa anggota.

Ibrahim juga mengakui satu tahun yang lalu, ada tiga tokoh masyarakat yang bertemu kepadanya, yaitu Ahmad Rasyid, Amat Entedaim, dan yang terakhir Syamsudin Salakea dan Karim Hanggi.

Konsep yang mereka tawarkan itu khususnya untuk Ahmad Abd Rasyid dan Amat Entedaim menawarkan supaya IKKIB ditarik ulang ke Palu, diadakanlah musyawarah.

“Saya bilang begini, pribadi saya sependapat, kenapa tidak. Cuma, IKKIB memulai pekerjaannya tidak semberono begitu, panggil beberapa orang lalu letakkan (pindahkan, red) ini. Ini dihadiri seluruh Indonesia, baru kita letakkan bahwa nanti kita akan kembalikan ke Palu, “ jelasnya.

“Kalau mau bentuk panitia silakan, sudah waktunya juga itu musyawarah. Silakan mencari dananya. Tidak sedikit itu dana. Cuma ada pesyaratan, IKKIB diambil dari Palu, atau diletakkan kembali di Buol dengan permusyawaratan. Tentu kembali ke mana-mana, kembali ke Manado, kembali ke semua ini harusnya melalui pensyaratan. Salah satunya melalui Mubes dan Musyawarah di TAWAB, “ tambahnya.

Nah sekarang saya tunggu, sudah satu tahun tetapi belum ada bunyinya. “Yang terakhir saya ketemu lagi dengan pak Syamsudin Salakea di Palu, beliau meminta supaya IKKIB itu diletakkan (dipindahkan, red) di Palu. Saya bilang kita bermusyawarah dulu. Ini prosedurnya yang harus kita tempuh. Permusyawaratan kita lakukan di Palu atau kita lakukan di Buol. Tetapi yang jelas harus dilakukan di Buol. Kalau dilakukan di Buol, artinya Buol lah yang akan menentukan kembali sekretariat IKKIB dimana, “ pungkasnya.(tam/mch)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.