alexametrics Merasakan Semangat Nelayan Teluk Palu yang Bangkit bersama KIARA – RADAR SULTENG
Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Merasakan Semangat Nelayan Teluk Palu yang Bangkit bersama KIARA

Pendapatan Meningkat, Bisa Bangun Rumah hingga Beli Mobil

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Dua Tahun pascabencana gempa dan tsunami, sejumlah nelayan Teluk Palu mampu kembali beraktifitas. Sebagian bisa kembali bangkit, berkat bantuan dari para relawan. Salah satunya dari Koalisasi Rakyat untuk Perikanan (KIARA). NGO (Non-government Organization) yang aktif memperhatikan hak-hak para nelayan ini, telah hadir sejak dua tahun pascabencana.

LAPORAN : AGUNG SUMANDJAYA

KINI, para nelayan Teluk Palu telah merasakan manfaat adanya bantuan dari KIARA. Mulai dari meningkatnya ekonomi keluarga, hingga mampu membeli kendaraan untuk menunjang penjualan hasil dari melaut.

Wartawan pun mendapat pengakuan langsung dari para nelayan, yang kini sudah bisa tersenyum kembali, usai bencana alam yang mereka rasakan.

Ketua Rukun Nelayan Talise, Arham mengaku sangat bersyukur dengan adanya bantuan dari KIARA. Pendapatannya sebagai nelayan berangsur-angsur meningkat, karena adanya bantuan perahu dan mesin dari KIARA.

Memang diakui Arham, dirinya bersama sekitar 100an nelayan di Kelurahan Talise yang kerap mencari ikan di Teluk Palu, sempat putus asa, karena perahu yang rusak dihantam tsunami. “Sempat sebelumnya kami didata oleh pemerintah, tapi bantuan yang ada untuk memperbaiki perahu rusak saja.

Baru sekitar setahun lalu KI-ARA datang membawa perahu yang bagus, akhirnya kita bisa mencari ikan sampai ke tempat yang jauh,” ungkap warga Jalan Domba ini kepada wartawan di bibir pantai Teluk Palu, Sabtu (19/12).

Dia tidak ingin membanding-bandingkan perhatian yang diberikan KIARA dengan lembaga lainnya, namun kata dia, bantuan dari KIARA lah yang dinilai lebih bermanfaat. Tidak bisa hanya kata terimakasih saja menurut dia, yang bisa menggambarkan rasa bersyukur para nelayan di Kelurahan Talise.

“Yang jelas sangat bermafaat, karena kami jadi mudah mencari ikan di tengah laut, dan alhamdulillah cukup untuk membiayai anak sekolah,” tuturnya.

Sementara itu, Asmaun, Nelayan dari Besusu, yang terpaksa menambatkan perahu bantuan dari KIARA di wilayah Kelurahan Talise, juga mengaku bersukur dengan bantuan ini. Namun dia mengaku, perahu-perahu nelayan di Besusu, kini tengah terkendala tempat untuk bersandar.

“Kita sulit sandar karena di pantai kami sudah dibangun tanggul. Makanya saya sandarnya di Kelurahan Talise ini, agak jauh dari tempat tinggal,” ungkap Asmaun, sembari meminta pemerintah bisa memikirkan untuk membuat dermaga khusus nelayan di Kelurahan Besusu maupun kelurahan lain.

Asmaun sendiri, baru empat bulan mendapat bantuan perahu dan mesinnya dari KIARA. Dalam sehari, Asmaun bisa mendapatkan penghasilan dari ikan-ikan yang ditangkap dan kemudian dijual berkisar Rp100 ribu sampai Rp200 ribu. Itu kata dia, jika cuaca dalam keadaan
normal. Jika cuaca buruk terpaksa tidak melaut.

Tidak hanya nelayan di Kelurahan Talise, yang merasakan manfaat bantuan dari KIARA. Sejumlah nelayan di Kelurahan Pantoloan Boya, Kecamatan Tawaeli pun merasakan mafaat yang sama. Diantaranya adalah Zulkarnaen dan istrinya Eliana.

Tidak hanya berprofesi sebagai nelayan saja, kini Zulkarnaen juga berprofesi sebagai pedagang ikan, berbekal dua unit mobil pikap yang dimiliki. “Mobil ini kami dapat dari keuntungan kami menjadi nelayan pascabencana. Kami bisa bangkit juga karena bantuan mesin perahu dari KIARA,” ungkap Eliana sang istri.

Menurut Eliana, pascabencana empat bulan lamanya sang suami tidak melaut. Meski perahunya yang sempat terhempas tsunami bisa diperbaiki, suaminya belum bisa jauh melaut, karena belum ada mesin
perahu. Mesin yang lama rusak dan tidak bisa lagi digunakan.

“KIARA tidak lama masuk dan menawarkan bantuan perahu dan mesin. Saya pun bermohon agar suami saya dapat mesin saja dulu, karena perahunya sudah ada. Alhamdulillah KIARA membantu,”ceritanya.

Setelah mendapatkan bantuan mesin ketinting, suaminya kembali melaut
secara serius. Beruntung pula ketika itu, hasil laut sedang melimpah, karena banyak orang yang masih takut makan ikan, sehingga lebih banyak yang mencari ikan teri dan udang. Dari dua hasil tangkapan ini pula lah, Zulkarnaen dan Eliana mampu membeli mobil pikap meski bekas.

“Dulu hasil dari melaut bisa kita tabung dan tidak untuk makan, karena dulu kalau kebutuhan makan bisa dapat bantuan-bantuan dari LSM dan pemerintah. Jadi kita bisa membeli mobil pikap walaupun bekas,” tutur Eliana.

Mobil pikap ini lah yang dijadikan alat untuk memobiliasi hasil tangkapan Zulkarnaen bersama nelayan-nelayan lain di Pantoloan Boya, untuk dijual langsung ke pasar-pasar tradisional yang ada di Kota Palu, Sigi dan Donggala. Mereka sengaja tidak lewat tengkulak dan menjualnya langsung ke pasar.

“Bersukur lagi, dari menjual ikan ini hasilnya lumayan besar. Kita sehari bisa dapat sampai Rp700 ribu, tanpa harus dipotong sewa mobil,” jelasnya.

Berkat stimulasi dari KIARA berupa mesin ini, kini keluarga Zulkarnaen mampu membeli satu lagi mobil pikap serta membangun rumah dan menyekolahkan anak-anaknya.

Meski tingkat perekonomian Zulkarnaen dan istrinya mulai berubah, KIARA tetap berkomitmen untuk kembali memberikan bantuan perahu kepada Zulkarnaen.

“Alhamdulillah, satu perahu bantuan dari KIARA sudah selesai dan akan kami gunakan juga. Jadi ada dua perahu nantinya kami pakai, semoga semakin menambah perekonomian kami,” tandas Eliana ditemui usai prosesi doa syukur atas perahu baru.

Tidak hanya melakukan intervensi perbaikan ekonomi masyarakat dari
sisi nelayan saja, KIARA pun turut melakukan fasilitasi peningkatan kemampuan ibu-ibu rumah tangga di Kelurahan Taipa. Di wilayah itu, para kaum ibu diajar untuk membuat berbagai olahan ikan. Mulai dari abon ikan, sambel ikan roa dan bahkan amplang.

Khusus produk abon ikan, kini sudah berproduksi dan sudah mulai dijual ke sejumlah toko oleh-oleh. Ketua Kelompok Usaha Pengolahan Ikan Taipa Vatuoge, Darmis mengungkapkan, terbantu adanya bantuan pendampingan yang difasilitasi KIARA. Kini dia dan beberapa ibu-ibu di Kelurahan Taipa, khususnya yang ada di lingkungan Taipa Vatuoge, sudah dapat penghasilan sendiri.

“Kita sudah produksi 100 bungkus abon ikan, sekitar 3 minggu lalu. Sebungkus-
nya yang beratnya 70 gram kita jual seharga Rp25 ribu,” tutur Darmis di rumah produksi Kelompok Usaha Taipa Vatuoge.

Dahulu kata dia, yang mendapat pelatihan pengolahan ikan yang digagas Kiara ada sekitar 11 orang. Namun karena kesibukan, kini anggota kelompok tersisa 5 orang termasuk dirinya. Suaminya yang berprofesi sebagai nelayan, saat ini juga sudah tidak pusing lagi menjual hasil tangkapan, karena bisa diserahkan kepada kelompok usaha ini untuk diolah menjadi abon.

“Jadi hasil tangkapan suami saya, kami beli dan olah jadi abon. Kedepan kita mencoba buat sambel roa dan amplang lagi, karena itu sudah kita pelajari, tinggal melengkapi peralatan saja,” ungkapnya.

Terpisah, Deputy Monitoring, Evaluation and Learning KIARA, Nibras Fadhlillah mengatakan, pihaknya hadir untuk membantu pemulihan ekonomi masyarakat nelayan Palu dan Donggala, sejak masa tanggap darurat.

Mendengar bahwa banyak nelayan yang kehilangan perahu akibat tsunami, pihaknya pun membantu untuk meberikan nelayan perahu. “Namun perahu yang kami berikan ke masyarakat itu, baru dasarnya saja, nelayan sendiri lah yang menyelesaikan untuk buat sayap perahu dan mengecat perahu sesuai keinginan mereka biar ada sense of belonging (rasa memiliki) nya,” terang Nibras.

Sehingga masing-masing perahu bantuan dari KIARA untuk para nelayan, satu sama lainnya berbeda dari warna maupun jenis sayap yang digunakan. Setelah bantuan perahu bisa dimanfaatkan dan jadi alat untuk kembali melaut hingga memperbaiki ekonomi keluarga, selanjutnya KIARA juga tetap hadir memberikan peningkatan kapasitas nelayan, terkait pengurangan risiko kebencanaan.

“Lebih kepada mitigasi gempa. Namun kami sudah bentuk tim cepat tanggap bencana, mulai dari tingkat Lurah sampai RT. Sebenarnya itu kami mau simulasikan SOP-nya yang kita buat bersama, tapi terkendala masih masa pandemi,” sebut Nibras.

Total kata dia, di Palu dan Donggala, KIARA menyalurkan sekitar 650 perahu. Perahu-perahu tersebut dibuat di wilayah Majene dan Mamuju, sebab di sana terkenal pengrajin perahu berkualitas baik.

Satu perahu sendiri menghabiskan anggaran sekitar Rp7,5 juta ditambah dengan mesin ketinting, totalnya bisa mencapai Rp10 juta.

“Program pemberdayaan nelayan di Palu dan Donggala ini, tidak lepas
dari dukungan penuh pendonor CCFD (Comité catholique contre la faim et pour le dével-oppement) dan AFD (Agence Française de Développement) asal Perancis,” jelasnya.

Kedepan, kata dia, KIARA juga akan road show kepada sejumlah nelayan, untuk memberikan advokasi terkait hak-hak mereka sebagai nelayan. Mengingat di sejumlah daerah termasuk Kota Palu, saat ini tengah dibangun giant sea wall atau tanggul raksasa, yang berdampak pada tergganggunya nelayan untuk menambatkan perahu.

“Contohnya kemarin, ada dua perahu nelayan bantuan dari kami katanya rusak akibat menabrak tanggul. Ini yang harusnya kami juga turut perjuangka sampaikan ke pemerintah,” tandas Nibras. (**)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.