Merangkai Kembali Serpihan Masa Lalu, Menjaga Jembatan Kebudayaan Tetap Utuh

Melihat Upaya Pemulihan Koleksi Museum Sulteng Setelah Bencana

- Periklanan -

Museum Sulawesi Tengah menderita kerusakan koleksi pascagempa 28 September silam. Khususnya koleksi keramik. Lebih dari setengah total koleksi pecah setelah lemari penyimpanan ambruk. Kini upaya perbaikan dilakukan dengan bantuan dari banyak pihak.

LAPORAN: Nur Soima Ulfa

- Periklanan -

PALING berasa tantangannya itu kalau seperti ini. Semuanya sudah terbentuk, tapi serpihannya baru ketemu belakangan. Ya mau gimana lagi, bongkar ulang jadinya,” ujar Basuki Lasmono.

Konsevator dari Institut Konservasi itu mengangkat sebuah tembikar keramik cokelat di tangan kirinya. Ada satu bagian kosong berbentuk segitiga berukuran sekitar 2-3 centimeter di leher tembikar. Sementara serpihan yang diyakini sebagai bagian yang hilang dan baru ditemukan belakangan itu, ada di tangan kanannya.

“Tapi nantilah bongkarnya karena kita mau ngerjain yang lain dulu. Yang penting kan serpihannya disimpan,” tambahnya.

Pada Kamis siang (28/2), Basuki beserta rekannya Saiful Bakhri dari Institut Konservasi dan enam staf Seksi Pelestarian dan Pengembangan Museum Sulteng, berjibaku dengan keramik rusak. Ada banyak serpihan yang harus dirangkai kembali. Direkatkan satu persatu dengan hati-hati memakai lem khusus. Harapannya bisa kembali utuh meski tak semulus bentuk sebelumnya.

Perbaikan koleksi berbahan keramik itu dilakukan sejak 18 Februari 2019. Serpihan keramik yang sudah dikumpulkan sejak Oktober 2018 ini, dirangkai kembali. Ada dua cara merangkai serpihan yang tepat. Pertama melihat motif dan kedua mengidentifikasi anatomi keramik. Namun dua cara ini tak berlaku bagi serpihan super kecil dan nyaris menjadi bubuk.

Basuki mengatakan merangkai keramik bagaikan merangkai puzzle. Serpihan keramik dengan motif yang sama, bisa jadi satu bagian utuh sebelumnya. Olehnya, bagian ini disatukan kembali. Apalagi jika pola retakannya cocok dan melengkapi satu sama lain.

Jika ada bagian tidak bermotif, maka bisa dibantu dengan mengidentifikasi bagian anatomi keramik. Misalnya, menemukan bagian kaki atau dasar keramik, bagian tubuh, bagian kuping (khusus cangkir keramik), bagian leher, dan bagian mulut. Anatomi ini bisa diidentifikasi dengan tebal tipisnya lapisan keramik.

“Bagian kaki itu lebih tebal dari bagian bibir. Tebal tipis ini bisa diukur pakai jangka khusus. Saya punya alatnya,” terang Basuki.

Setelah dibersihkan dan dipastikan tidak ada kotoran menempel, serpihan keramik direkatkan dengan lem berbahan plastik yang dicairkan memakai aseton. Lem ini tidak langsung mengeras. Untuk menjaga tetap pada bentuknya, bagian keramik yang telah direkatkan, ditahan dengan menggunakan selotip plastik transparan. Selotip akan dibuka jika lem benar-benar mengeras.

Pekerjaan tak lantas selesai ketika satu keramik berhasil dirangkai kembali. Basuki mengatakan pihaknya tidak hanya sekadar merangkai kembali serpihan tetapi juga mendokumentasikan seluruh proses perbaikan. Keramik akan dipotret saat masih berupa serpihan (sebelum), saat serpihan dirangkai, dan setelah menjadi satu bentuk keramik utuh (sesudah). Semua koleksi diberi kode angka dan turut dicatat dalam jurnal harian. Pekerjaan yang dilakukan oleh Saiful Bakhri hari itu.

Selama 10 hari, Basuki dan Saiful melakukan seluruh proses perbaikan itu bersama dengan enam staf museum dan satu mahasiswa magang dari Jurusan Arkeologi Universitas Gadjah Mada bernama Sandy. Basuki berharap ada transfer ilmu dan keterampilan yang terjadi. Ini penting karena Rosna, Agnes, Dewi Santi, Rusman, Agus Budiono dan Masnur sebagai staf Museum Sulteng, yang akan melanjutkan pekerjaan restorasi.

“Bisa jadi proses ini berlangsung sampai Oktober, tergantung ketersediaan anggaran dan ahli,” ungkap Sakamoto Isamu, penanggung jawab program recovery koleksi Museum Sulteng. Dirinya turut berada di ruang konservasi. Memantau proses perbaikan.

Konservator benda pustaka berbahan kertas asal Tokyo ini mengungkapkan perbaikan koleksi keramik milik Museum merupakan bagian dari dukungan pemulihan, restorasi, dan pengembangan strategi pengurangan risiko bencana Museum Sulteng yang dijalankan oleh UNESCO, Prince Clause Fund, dan Tokyo Restoration and Conservation Center (TRCC). Berdasarkan jadwal, sejatinya program dukungan ini akan berakhir pada Juli 2019.

Kepala Seksi Pelestarian dan Pengembangan Museum Sulteng, Drs Iksam Djahidin Djorimi MM, merincikan ada 246 keramik koleksi museum yang rusak. Dari jumlah itu 36 keramik rusak besar. Kata Iksam, meski diperbaiki, koleksi ini tidak akan utuh lagi.

“Ada 177 koleksi keramik yang selamat. Jadi total koleksi keramik milik Museum Sulteng berjumlah 423 keramik,” terang Iksam, saat ditemui di ruang kerjanya, kemarin (4/3).

Keramik-keramik bersejarah ini, ungkapnya, berasal dari Cina, Jepang, Vietnam dan Eropa. Yang tertua koleksi keramik asal Cina yang berasal dari abad ke-7 M dan paling muda koleksi keramik asal Eropa pada abad ke-20 M. Koleksi keramik ini penting diselamatkan karena menjadi jembatan kebudayaan antara Sulteng dan negara asal koleksi di masa lalu. Memperbaikinya berarti menjaga “jembatan” tetap utuh bagi generasi saat ini dan masa depan.

“Koleksi itu nyawa museum. Jembatan kebudayaan antara generasi di masa lalu, kini dan di masa depan. Misalnya, dengan koleksi kita bisa tahu bahwa ada hubungan yang terjadi dengan negara-negara di luar sana sejak dahulu,” jelasnya.

Iksam mengungkapkan ada 7.398 koleksi milik Museum Sulteng yang terbagi dalam 10 kategori, yakni Geologika, Biologika, Etnografika, Arkeologika, Sejarah, mata uang, keramik, seni rupa, alat kesenian, dan teknologi modern. Dengan begitu, museum sejatinya dalah gudang ilmu pengetahuan. Olehnya, Iksam mengatakan salah kaprah jika ada yang menganggap museum hanya sekadar tempat koleksi benda kuno.

Terkait dengan program dukungan recovery pascabencana, di masa depan Museum Sulteng teknik penyimpanan koleksi antibencana. Khususnya pada koleksi keramik. Berdasarkan pengalamannya saat mengunjungi Tohoku History Museum pada pertengahan Januari lalu, Iksam menyebutkan lemari khusus koleksi keramik menggunakan kayu dan besi yang didesain khusus. Dia berharap lemari serupa juga bisa dimiliki oleh Museum Sulteng, tetapi mengingat sumber daya, maka yang bisa dilakukan pihaknya adalah mengadopsi sejauh kemampuan yang ada.

“Mungkin kami bisa buat dari kayu yang kuat dan tahan rayap. Karena tidak bisa sepenuhnya sama dengan di Jepang. Tapi yang pasti sudah tidak bisa lagi pakai lemari yang sama seperti sebelum gempa,” katanya.

Iksam mengungkapkan sebelum bencana, lemari penyimpan koleksi menggunakan lemari penyimpan arsip/kertas. Akibatnya, ada banyak koleksi keramik yang rusak karena lemari ikut ambruk saat gempa. Hanya ada dua koleksi keramik yang rusak di kotak pajangan. “Pecah karena tertimpa koleksi lain,” tambahnya.

Selain penerapan teknik penyimpanan antibencana, Iksam mengungkapkan adaptasi program edukasi pengurangan risiko bencana yang dilakukan oleh museum di Jepang, juga diharapkan bisa diterapkan di Museum Sulteng. Di akhir program, ada rencana membuka satu ruangan pameran khusus dengan pajangan benda-benda dari lokasi bencana sebagai koleksinya. Ada pula sudut khusus bagi anak-anak tentang mitigasi bencana.(*)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.