Menyuarakan Nilai Pancasila

Oleh : Muhammad Khairil *)

- Periklanan -

Sejak Sekolah Dasar kita sudah terbiasa dan akrab dengan Pancasila. Setiap upacara bendera, Pembina upacara menuntun kita, untuk bersama menyuarakan 5 sila dalam Pancasila. Bahkan kala itu, semua anak usia sekolah hafal setiap sila dalam Pancasila.

Namun, seiring waktu, kini nilai itu berubah. Kini, seolah Pancasila itu memudar dan berganti nilai baru seiring kebebasan informasi, teknologi dan ruang interaksi dunia maya yang seolah bebas tanpa batas.

Kini, Pancasila riuh di persimpangan. Membincangkan Pancasila, hanya dalam momen tertentu dan begitu terbatas. Seperti hari ini, kita kembali menyuarakan Pancasila sebagai hari lahir, 1 Juni 1945. Momentum bersejarah kelahiran Pancasila ini diabadikan saat pidato Soekarno dalam sidang Dokuritsu Junbi Cosakai (bahasa Indonesia: “Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan”).

Sebagai ideologi negara, maka nilai yang terkandung di dalam Pancasila harusnya menjadi obsesi dan perjuangan pemimpin bangsa ini. Pancasila juga akan selalu menjadi visi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Garuda akan selalu ada di dadaku, di dadamu dan di dada kita semua.

Dengan begitu Negeri yang kita cintai ini, akan menjunjung tinggi nilai-nilai ketuhanan, memanusiakan manusia atas kemanusiaannya, membangun kesadaran akan nilai kebersamaan yang menyatu dalam cita rasa Indonesia. Tidak hanya itu, juga mengutamakan kepentingan rakyat dengan menciptakan rasa aman, menjunjung nilai keadilan dan mewujudkan kesejahteraan bagi setiap warganya.

Ketuhanan yang Maha Esa. Sebagai manusia yang bertuhan, maka tentu akan memahami dialektika pluralitas agama yang berbeda. Setiap agama punya keyakinannya masing-masing. Sesungguhnya Manusia tidak punya hak mengatasnamakan Tuhan untuk saling menghakimi, saling mengkafirkan bahkan Tuhan tidak pernah memberikan legitimasi manusia mengatasnamakan-Nya untuk mencabut ”hak nafas kehidupan” manusia lainnya.

Belajar untuk mempelajari keragaman alam berpikir dari sudut pandang yang berbeda dan belajar untuk tidak selalu mengklaim kebenaran hanya dari satu sudut pandang akan membawa alam kesadaran berpikir kita bahwa hanya Tuhan yang berhak untuk mengatasnamakan ”Kebenaran Mutlak”. Tafsir manusia akan hakekat kebenaran akan sangat dan sungguh relatif.

Ironis, ketika berbagai persoalan sosial keagamaan muncul bukan untuk menjadikan Tuhan sebagai sebab dan tujuan segala permohonan dan pengabdian, melainkan Tuhan dipinjamkan nama-Nya, dimanfaatkan sebagai alat, sebagai instrumen politik untuk membenarkan berbagai tindakan yang justru melawan kehendak Tuhan itu sendiri.

Ber “Tuhan”, idealnya menjadikan kita manusia yang penuh rahmat, memberi kesejukan di setiap tutur, bahagia atas kebahagiaan orang lain dan ikut merasakan sedih atas kesedihan orang lain.

Kemanusiaan yang adil dan beradab. Suara keadilan akan selalu disuarakan bagi mereka yang sering teraniaya. Adilkah kita, ketika seorang pencuri kelas teri, lalu tertangkap dan kita hakimi mereka dengan darah yang mengalir disekujur tubuhnya? Lalu, bagaimana dengan Koruptor? Seolah bagai orang “terhormat” yang dikawal, dibela di hadapan pengadilan. Mereka seolah “dimanjakan” dengan fasilitas penjara yang bagai istana.

- Periklanan -

Belum lagi budaya tutur kita yang sudah semakin pudar dan jauh dari adab. Nilai santun dan adab itu seolah telah sirna dan kini menjelma dalam wujud dua wajah, manis di bibir lain di hati.

Suara keadilan harusnya lahir dari para pemimpin kita di negeri ini. Perjuangan atas hak-hak orang yang teraniaya, idealnya disuarakan dalam ruang-ruang pengadilan. Suara hati dan nurani rakyat, harusnya didengar oleh mereka yang menjadi wakil rakyat. Begilah Pancasila harusnya kita suarakan dalam kehidupan.

Persatuan Indonesia. Bagai satu tubuh, apabila ada bagian tubuh yang sakit, maka bagian yang lain juga akan turut merasa sakit. Mungkin begilah bahasa persatuan itu kita contohkan. Namun, miris, sedih bahkan sering kita meneteskan air mata, betapa persatuan negeri ini dipertaruhkan atas kelompok-kelompok tertentu yang menyuarakan kemerdekaan. Belum lagi konflik yang hampir terjadi di berbagai wilayah daerah. Lalu dimana kita harus menempatkan nilai persatuan itu?

Bhineka Tunggal Ika, begitu simbolik yang memberi makna sangat dalam betapa perbedaan itu harusnya bisa menyatukan kita. Bukan sebaliknya, semakin kita berbeda dengan perbedaan identitas etnik dan agama, justru menjadi ruang pemisah dan menjadi potensi konflik.

Olehnya, nilai Pancasila dalam persatuan Indonesia harusnya memberikan warna bagai pelangi, yang selalu indah dengan perbedaan warna yang dimiliki. Paduan dalam perbedaan warna pelangi, indah bahkan teramat indah dan harusnya menjadi warna kehidupan sosial kita yang ragam dengan perbedaan.

Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan dan Perwakilan. Sungguh bahasa ini begitu indah untuk kita ucapkan namun begitu sulit untuk kita terapkan. Tidak jarang kita menemukan kekuasaan dipimpin oleh hawa nafsu dan kebohongan. Begitu banyak janji yang terungkap dari bibir manis para penguasa namun hanya menjadi surga telinga bagi kita rakyat yang dengan bahagia mendengarkannya.

Menarik ungkapan Abraham Lincoln bahwa “As I would not be a slave, so I would not be a master. This expresses my idea of democracy”. Sebagaimana aku tidak ingin menjadi budak, aku juga tidak ingin menjadi tuan. Inilah pernyataanku tentang ide demokrasi. Kekuasaan tidak diperuntukan bagi dan untuk keluarga tapi kekuasaan dari, oleh dan untuk rakyat.

Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Sesungguhnya keadilan itu harusnya dirasakan juga oleh seluruh rakyat Indonesia. Bukan hanya milik keluarga pejabat, bukan juga milik mereka yang berkuasa. Tapi keadilan adalah milik mereka yang memang berada pada garis kebenaran.
Keadilan dengan sangat jelas disuarakan oleh Iwan Fals dalam lagu “Manusia Setengah Dewa”.

Turunkan harga secepatnya, berikan kami pekerjaan. Peraturan yang sehat yang kami mau. Tegakkan hukum setegak tegaknya, adil dan tegas tak pandang bulu. Pasti akan kuangkat engkau, menjadi manusia setengah dewa.

*) Penulis merupakan Dekan FISIP Universitas Tadulako.

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.