Menyaksikan Proses Sanksi Adat kepada Pasangan Selingkuh

Sidangnya di Pos Ronda, Diganjar 2 Ekor Kambing

- Periklanan -

Tidak menunggu waktu lama, bahkan prosesnya tidak berbelit-belit, itulah sebuah proses penjatuhan sanksi adat yang diterapkan di wilayah Kota Palu. Sanksi ini bahkan sangat efektif untuk menjadi sebuah efek jera kepada warga yang mengganggu ketertiban di tengah masyarakat. Contoh kasus, yaitu adanya dugaan perselingkuhan yang dilakukan oleh sepasang pegawai di Dinas Pariwisata Donggala yang dikenakan givu oleh lembaga adat Kelurahan Kabonena, Kecamatan Ulujadi, Jumat (22/11) pekan lalu.

WAHONO, Kabonena

BUKAN pertama kalinya, ulah oknum-oknum yang melanggar keadatan itu diberikan sanksi, seperti ketua Umum PB PMII, Aminuddin Ma’ruf, yang sempat menghebohkan warga net atas ucapannya yang tidak diterima oleh warga Kota Palu, saat itu ketua umum PB PMII dikenakan sanksi berupa dua ekor kambing. Kemudian ada juga kasus perselingkuhan yang juga dilakukan di Kelurahan Silae Kecamatan Ulujadi, yang di usir dari kampung atas perbuatannya tersebut.

Dan belum lama ini, sanksi adat diberikan kepada oknum ASN yang bertugas di Dinas Pariwisata Kabupaten Donggala. Saat seorang istri bersama satgas K5 memergoki RD yang diduga selingkuh di sebuah rumah BTN di Kelurahan Kabonena, Kecamatan Ulujadi, Jumat (22/11/). Pasangan diduga selingkuh itu merupakan oknum ASN di Dinas Pariwisata Kabupaten Donggala.

Saat warga berhasil melakukan penggerebekan, tidak ada perlawanan yang dilakukan oleh pasangan, bahkan warga tidak juga melakukan aksi kekerasan atau pemukulan. Dimana saat penggerebekan pasangan selingkuh tersebut, justru dibawa ke sebuah pos ronda yang ada di kelurahan tersebut.

Yang pertama dibawa ke pos ronda, yaitu pria RD untuk diamankan, agar tidak ada amukan massa dilakukan oleh warga, di Pos tersebut, warga mulai melemparkan pertanyaan kepada RD asal dan juga tujuan sampai berduaan dirumah wanita hingga mematikan lampu rumah.

- Periklanan -

Setelah terjadi perbincangan panjang, dan RD belum juga mengakui perbuatannya, maka dipanggillah dewan adat Kabonena untuk menyelesaikan secara kelembagaan adat atas apa yang dilakukan oleh RD. Namun sebelum proses sidang lembaga adat dilakukan, si wanita didatangkan untuk menyaksikan proses adat tersebut.

Kemudian menjatuhkan sangsi adat yang disanggupi oleh kedua pasangan, dimana ada sangsi salakana, salambivi dan yang paling berat yaitu diusir dari kampung atau tempat tinggal. Keduanya akhirnya memilih untuk diberikan sangsi yang disanggupi yaitu dua ekor kambing dewasa.

Salah satu anggota lembaga adat, Tompo panggilan sehari-harinya itu, menyampaikan bahwa apa yang disetujui oleh kedua pasangan yang telah melanggar aturan adat, dan telah meresahkan warga, dengan sangsi Givu Salangkana telah disepakati. “Nantinya bahwa dua ekor kambing itu akan dibagi-bagikan, atau dimasak oleh warga sekitar,” katanya.

Setelah dikenakan sanksi adat, masalah kedua pasangan tersebut dinyatakan selesai oleh lembaga adat. Persoalan adat tersebut telah diselesaikan dan telah menghasilkan kesepakatan bersama baik dari warga dan juga pihak RT/RW yang menyaksikan proses adatnya.

Kemudian kedua pasangan itu dibawa ke rumah Lurah Kabonena untuk membuat suatu pernyataan, yang isi dari pernyataan itu bahwa tidak akan mengulangi perbuatan kembali, diwilayah tersebut.

Atas perbuatanya, dewan adat Kabonena memberikan sanksi adat atau givu kepada pasangan yang diduga selingkuh berupa dua ekor kambing Karena keduanya melanggar aturan adat. Sanksi itu harus dibayar, jika tidak akan diberikan sanksi lebih berat, salah satunya diusir dari perkampungan.

“Iya benar, ada warga yang diduga selingkuh. Keduanya kami buatkan pernyataan dan sanksi adat. Menurutnya, perbuatan keduanya dianggap meresahkan masyarakat setempat. Ia berharap, kasus seperti ini tidak boleh lagi terjadi. Jika kedapatan, akan diberi sanksi tegas,” kata Lurah Kabonena, Yasir. (**)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.