Menunggu Pasangan Ketiga

Menuju Sulteng Satu

- Periklanan -

PALU-Perhelatan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) tahun 2020 secara serentak terus menggeliat, dan menjadi isu menarik di tengah masyarakat. Di Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) ada tujuh kabupaten, dan satu kota yang akan menggelar Pilkada, yaitu Kabupaten Tolitoli, Sigi, Tojo Unauna (Touna), Poso, Banggai, dan Kabupaten Morowali Utara (Morut), serta satu Kota, yaitu Kota Palu. Ditambah dengan Pilkada Provinsi Sulawesi Tengah sendiri.

Khususnya Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur (Wagub) Sulteng kini semakin semarak dengan hadirnya dua pasangan yang sudah memperkenalkan diri ke publik di berbagai media, termasuk baliho dan alat kampanye lainnya. Kedua pasangan bakal calon (Balon) Gubernur dan Wagub Sulteng yang sudah diketahui umum, yaitu pasangan pertama H. Rusdy Mastura atau Bung Cudy atau biasa juga disapa dengan Ka Cudy, yang berpasangan dengan H. Ma’mun Amir mantan Bupati Banggai pasca kepemimpinan almarhum H. Sudarto di Bumi Air itu.

Kemudian, pasangan kedua adalah pasangan balon Gubernur dan Wagub Sulteng H. Anwar Hafid dan Sigit Purnomo Said yang populer dipanggil Pasha Ungu. Kedua balon ini memiliki trackrecord terbaiknya, yakni Anwar Hafid merupakan Bupati Morowali dua periode. Sedangkan Sigit Purnomo Said saat ini masih berstatus Wakil Walikota Palu.

Kedua pasangan ini, minus Sigit Purnomo Said, bahkan sudah keliling wilayah Sulteng, sebelum masuk di tahapan kampanye. Sudah melakukan manuver, meski masih berbungkus sosialisasi-sosialisasi dan perkenalan pasangan. Kedua pasangan ini dengan bebasnya pergi kemana saja, karena memang belum ditetapkan KPU Sulteng sebagai calon kepala daerah yang akan melakukan kompetisi di Pilkada serentak tahun 2020 ini.

Apakah, hanya ini kader-kader terbaik dari putra putri yang ada di Sulawesi Tengah ? Tentu tidak. Masih ada beberapa nama dan tokoh Sulteng yang mungkin akan mencalonkan diri sebagai balon kepala daerah, baik di posisi Gubernur maupun Wagub. Bila dilihat pergerakan politik mereka dengan memajang dirinya di papan-papan baliho berbagai ukuran yang kini bertebaran di seluruh penjuru Sulteng, di 12 kabupaten dan satu kota.
Sebut saja Hidayat Lamakarate, Nurmawati Dewi Bantilan (NDB), Hasanuddin Atjo, Batholemeus Tandigala, ataupun H. Rusli Baco Dg Palabbi yang berstatus petahana, karena masih menyandang jabatan orang kedua di Sulteng, sebagai Wagub meskipun Pengganti Antar Waktu (PAW) almarhum H. Sudarto. Ataupun menunggu nama-nama anggota DPR RI ataupun DPD RI Dapil Sulteng selain H. Anwar Hafid ?

Hidayat Lamakarate, Bartholemeus Tandigala, dan Hasanusddin Atjo, akibat aksi mereka memajang baliho, dan mendaftar di berbagai partai politik (Parpol), hingga menyampaikan visi dan misinya di beberapa parpol yang membuka pendaftaran calon kepala daerah yang akan bertarung di pilkada 2020 sempat diperiksa Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Sulteng, karena diduga melanggar peraturan dan disiplin seorang Aparatur Sipil Negara (ASN). Maklum saja, Hidayat Lamakarate saat ini masih menjabat Sekeretaris Provinsi (Sekprov) sebuah jabatan tertinggi dan Pembina ASN di Pemprov Sulteng. Hasanuddin Atjo, masih menjabat sebagai Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Sulteng, dan Bartholemeus Tandigala adalah Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Bappeda) Sulteng.

Nah nama-nama inilah yang saat ini ditunggu publik sebagai pasangan balon yang akan muncul menjadi pasangan ketiga, ataupun pasangan keempat. Varian-varian pun mulai menjadi wacana. Misalnya pasangan balon Hidayat Lamakarate (Andalan) dipasangkan dengan Bartholemeus Tandigala (BT). Atau Varian dari NDB dengan Hasanuddin Atjo (HA). Atau varian menarik Andalan dengan NDB. Ini menarik, sebab mulai bermunculan baliho Hidayat-NDB di mana-mana. Lalu bagaimana dengan Bartholemeus dan Hassanudin Atjo ?
Menurut sebuah sumber yang dekat dengan Hidayat Lamakarate, menyebutkan kalau kubu PDIP maunya Hidayat-Bartholemeus, tetapi kubu Golkar maunya Hidayat-NDB. Terus, bagaiamna dengan Hasanuddin Atjo, yang terlihat sangat piawai dalam berkonsep dan ahli strategi dalam bidang pembangunan ekonomi daerah ini ?

Kepada Radar Sulteng, Hasanuddin Atjo menepis kalau dirinya disebut-sebut lamban dalam bermanuver, hanya bermain di dunia maya, di media sosial (medsos) dengan melemparkan berbagai gagasan menarik dan inspirastif strategi terkini membangun daerah.

“Ahh, saya tidak seperti itu. Saya tidak lamban. Siapa bilang saya lamban. Kalau saya pasang baliho apakah itu disebut saya cepat dan sudah bersiap. Tapi walau sudah pasang baliho tapi perahunya tidak ada atau partainya tidak ada. Mau bilang apa kita. Kan percuma, tidak ada yang dukung kita walaupun elektabilitas atau tingkat keterpilihan kita teratas, “ kelitnya saat dikonfirmasi, kemarin.

Dikatakannya, dirinya di luar medsos terus menjalin hubungan dan komunikasi yang baik dengan petinggi beberapa partai. “ Pokoknya adalah. Saya tidak mau gembar-gembor saya didukung si ini si itu. Tetapi yang penting perahunya dulu, komitmen yang terbangun bagaimana dulu. Biar sudah ada pasangan, tetapi siapa yang mau dukung kita. Itu yang saya tidak mau. Jadi harus jelas dulu, “ tandas Hasanuddin Atjo.

Secara kursipun di DPRD Sulteng yang berjumlah 45 orang, sebenarnya masih banyak peluang yang bisa terjadi. Bisa diprediksi variasi dua pasangan saling berhadap-hadapan atau head to head di Pilkada nanti. Misalnya, pasangan balon Cudy-Ma’mun Amir, yang didukung tujuh kursi mayoritas Partai NasDem, tinggal melakukan koalisi dengan satu dua partai meskipun hanya tiga kursi pasangan ini akan lolos menjadi calon.

- Periklanan -

Pasangan kedua, H. Anwar Hafid-Sigit Purnomo Said, Partai Demokrat memiliki 5 kursi di DPRD dan Partai Amanah Nasional (PAN) hanya punya dua kursi, atau tujuh kursi koaliasi, maka pasangan ini belum aman betul masih harus melakukan koalisi lagi, mencari teman dengan dua atau tiga partai untuk menggenapkan koaliasi partai balon ini kalau ingin lolos.

Demokrat-PAN yang hanya memiliki tujuh kursi harus menarik koalisi dengan partai lain yang sejalan dengan visi dan misi kedaerahan dalam berpolitik di daerah ini. Kalau merujuk koalisi nasional pada Pemilihan Presiden (Pilpres) yang lalu maka Partai Kedialan Sejahtera (PKS) yang memiliki 4 kursi ditambah Gerindra pasti sudah kuat. Tetapi apakah Gerindra mau masuk koalisi di pasangan balon ini ? Tentu tidak.

Sebab, Gerindra yang punya 6 kursi DPRD di Sulteng secara tersurat seperti yang disampaikan oleh Ketua DPD I Gerindra Sulteng H. Longki Djanggola bahwa Partai Gerindra tidak akan melewatkan begitu saja perhelatan Pilkada 2020. Tidak mau lari kosong. Seperti juga di periode sebelumnya H. Longki Djanggola dengan pasangannya H. Sudarto mampu mengalahkan pasangan Rusdy Mastura-Moh. Ihwan Datu Adam meskipun selisihnya kecil. Tetapi pasangan Longki Djanggoila-H. Sudarto lah yang dilantik Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai Gubernur dan Wagub Sulteng terpilih periode 2016-2021.

Akankah di Pilkada 2020 ini, yang akan menentukan jalannya pemerintahan berkelanjutan Sulteng diperiode 2021-2024 nanti masih akan diramaikan oleh pasangan balon Gubernur dan Wagub yang diusung Partai besutan Prabowo ini ? Pertanyaan ini mengemuka, dikarenakan “Putra Mahkota” Longki Djanggola yang akan memegang tongkat estafet kepemimpinan Sulteng Hidayat Lamakarete sempat digoda oleh Anggota DPR RI Dapil Sulteng M. Ahmad Ali untuk menjadi salah satu pejabat tinggi di Kementerian pusat di Jakarta.

“Pak Hidayat Lamakarate itu masa kerjanya sebagai PNSnya itu masih panjang. Sekitar 10 tahun lagi. Sayang sekali kalau hanya ikut Pilkada lalu berhenti sebagai PNS atau ASN ini. Mestinya ikuti saja tawaran pak Ahmad Ali itu untuk berkiprah jadi PNS di salah satu Kementerian. Tinggal dipilih kok Kementerian mana gitu,” sebut sebuah sumber yang sangat dekat dengan Ahmad Ali ini.

Tetapi, sumber lain menyebutkan Hidayat Lamakarate selaku putra Mahkota Longki Djanggola tetap berkeinginan maju. Hidayat terkesan sangat loyal dengan perintah dan instruksi Longki Djanggola, sebagai ketua partai, guru politik dan tokoh panutannya. Apalagi isteri Hidayat Lamakarate, Winar Hidayat sukses melenggang dan duduk sebagai anggota DPRD Sulteng di Pemilihan legislatif (Pileg) 2019 lalu dari Partai Gerindra dan dari Dapil Banggai, Banggai kepulauan, dan Banggai Laut. Ini juga yang menguatkan tekad Hidayat untuk maju sebagai balon gubernur.

Entah dipasangkan dengan siapa, Hidayat elektabilitasnya terhitung cukup kuat dibanding dengan pasangan lain. Namun demikian, performa Hidayat Lamakarate yang bukan orang politik ini berada di bawah bayang-bayang Longki Djanggola, yang akan mengerahkan tenaga dan mesin partainya untuk memenangkan Hidayat Lamakarate di Pilkada 2020 ini, bukan sekadar bisa lolos memasangkan balon saja tetapi harus menang dan menang.

Hidayat tentu tidak bisa berupaya melakukan loby-loby politik “siapa tahu bisa”. Siapa tahu bisa berpasangan dengan Rusdy Mastura ataupun H. Anwar Hafid, sudah terlambat. Kedua pintu partai yang mengusung kedua balon ini sudah tertutup, kecuali ada hal yang luar biasa terjadi. Gengsi politik akan muncul bila masih ada penawaran-penawaran lagi.

Begitu juga dengan pasangan Rusdy Mastura-Ma’mun Amir dan pasangan balon H. Anwar Hafid-Sigit Puronomo Said pasti mereka enggan lagi berkomunikasi dengan kubu Hidayat Lamakarate ataupun dengan NDB. Semua sudah terlambat. Bagi kedua pasangan balon ini lebih baik turun ke kabupaten-kabupaten melakukan sosialisasi atau silaturahmi dibanding tawar menawar. Kalaupun ada itu sekadar kamuflase politik, saling intai dan mengintai kekuatan lawan. Biasanya di tempat acara, pertemuan yang tidak disengaja ketemu, atau ada urusan lain tetapi mereka yang bukan pasangan saling ketemu, baik perseorangan maunpun berdua. Tidak ada lagi bicara “baku pasang”, sudah selesai itu. Mengingat detik per detik menuju Voting Day 23 September 2020 juga semakin dekat. Tidak ada waktu lagi baku pasang, kecuali mereka yang belum ada pasangan seperti Hidayat Lamakarate, NDB, Batholemeus atau Hasanuddin Atjo, atau juga H. Rusli Dg. Palabbi yang jatahnya di PAN sudah diambil Pasha Ungu.

Bagi Rusdy Mastura-Mamun Amir yang akan diusung NasDem dan memiliki tujuh kursi pasti akan melakukan strategi “gasfull” di Pilkada kali ini. Tinggal berkoaliasi dengan partai gurem sekalipun NasDem pasti akan mengeluarkan pasangan balonnya di Pilkada kali ini. Wacana di publik NasDem akan berkoalisi dengan PPP (satu kursi) atau Perindo (dua kursi). Tetapi ada lagi settingan lain, yang menyebutkan NDB kalau diplot menjadi 01 alias Gubernur maka dia akan berpasangan dengan Clemen Efraim, Ketua Perindo Sulteng. Kalau begitu, koalisi Golkar Perindo, mampu mengusung balonnya dengan 9 kursi. Sudah cukup kuat untuk mengusung satu paslon.

Tetapi kalau toh DPP Golkar menginginkan NDB berpasangan dengan balon lain, semisal Hidayat Lamakarate atau Hasanuddin Atjo, atau Bartholemeus dengan dukungan habis-habisan dari PDIP. Maka varian bagi calon ini adalah Hidayat-NDB (didukung Gerindra dan Golkar atau 13 kursi), Hidayat-Bartholemeus (Gerindra-PDIP yang 12 kursi), atau NDB-Hasanuddin Atjo yang hanya didukung Golkar plus Perindo kalau mau, hanya 9 kursi atau hanya tujuh kursi Golkar to).

Pasangan ketiga masih misterius, apalagi kemungkinan pasangan keempat. Rasa-rasanya, paling banyak tiga pasangan. Dengan berbagai kemungkinan yang akan terjadi kedepan ini. Dua pasangan sudah pasti, yaitu Rusdy Mastura-H. Mamun Amir dan H. Anwar Hafid-Sigit Purnomo Said. Tetapi pasangan ketiga bisakah terjadi Hidayat-NDB, atau Hidayat-Bartho, atau NDB-Hasanuddin Atjo, ataukah NDB-Clemen Efraim. Kita tunggu saja perkembangannya.(mch)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.