Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Menumbuhkan Karakter Religiusitas Siswa dalam Pembelajaran Biologi

Oleh : Riskayati Latief

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

PENDIDIKAN dan karakter adalah hal yang tak terpisahkan. Pendidikan yang baik akan melahirkan karakter yang luhur. Pembentukan karakter tak terbatas hanya pada ruang-ruang sekolah pada sebuah lembaga formal namun tugas ini sejatinya diemban oleh seluruh elemen masyarakat sebagai tugas bersama.

Fenomena kemerosotan moral dan degradasi akhlak yang mengemuka belakangan ini telah mengancam sendi-sendi keteladanan sikap dan perilaku sebagian komunitas anak bangsa. Penyimpangan prilaku seperti praktik korupsi, konsumsi narkoba, tawuran massal, demonstrasi anarkis, prostitusi, aborsi dan berbagai bentuk tindakan melawan hokum lainnya adalah dampak dari kemerosotan moral. Hal ini telah menginspirasi para ilmuwan dan praktisi pendidikan untuk mengambil langkah antisipatif dengan mengintegrasikan nilai-nilai karakter dalam pembelajaran (Yaumi 2014).

Langkah tersebut dipandang sangat efektif untuk mengonstruksi dan merekat bangunan akhlak dan budi pekerti luhur sebagai landasan terbangunnya generasi Indonesia emas yang lebih berperadaban dan berperikemanusiaan.

Orang tua adalah sosok awal yang mengenalkan karakter baik pada anak. Rumah adalah lingkungan tempat adaptasi pertama dan utama sang anak dalam menentukan terbangunnya nilai-nilai karakter yang diinginkan. Jika seorang anak mendapatkan tata nilai, asuhan, contoh dan keteladanan dari orang tua dan lingkungan rumah secara baik dan kondusif maka anak tersebut dapat tumbuh dengan segenap sifat, karakter, bakat dan potensi yang maksimal dan terarah. Demikian pula sebaliknya seorang anak yang mendapatkan pengasuhan dari orang tua, rumah dan lingkungan sekitar, yang jauh dari kehangatan, penuh kekerasan, contoh dan tata nilai tak terpuji akan mengantarkan anak memiliki karakter membahayakan diri dan lingkungannya.

Sekolah sebagai sebuah komunitas belajar memiliki peran penting dalam membentuk karakter. Sudah saatnya segenap elemen masyarakat memandang pendidikan tidak hanya dapat dimaknai sebagai sekolahan. Ia membutuhkan pengertian secara luas, bermakna dan member faedah bagi terbentuknya tatanan masyarakat yang tidak hanya cerdas tapi juga berkarakter luhur. Untuk menghasilkan anak didik yang cerdas berpengetahuan dan bermoral tidak cukup hanya memberikan suguhan pengetahuan saja akan tetapi proses penanaman tata nilai, budi pekerti, dan akhlak dalam proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru harus terinternalisasikan melalui serangkaian contoh dan keteladanan.

Menata pembelajaran bermutu baik dalam konten maupun nilai-nilai karakter yang diajarkan tidaklah mudah. Pembelajaran bermutu dapat dilihat dari beberapa indikator diantaranya peran guru, proses pembelajaran, dan output/hasil. Pembelajaran bermutu menghadirkan sosok guru yang menjiwai peran dan profesinya dalam mencerdaskan anak bangsa. Memiliki integritas kepribadian, professional dalam mengolah pembelajaran, kreatif dan inovatif menyiapkan bahan ajar, memiliki kesabaran menyelesaikan masalah anak didik. Upaya ini diharapkan lahir dari keperibadian seorang guru.

Proses dan output pembelajaran menaruh peran penting karena dengan ketepatan memilih strategi dan pendekatan pembelajaran, seorang guru akan mudah mencapai tujuan pembelajaran. Diharapkan sebuah tujuan pembelajaran yang akan diajarkan tidak hanya memunculkan domain kognitif namun aspek konten kognitif dan nilai moral-spritual berjalan simultan pada setiap anak didik menuju tercapainya pembelajaran berkarakter.

Harapan di atas tidak serta merta dapat diimplementasikan. Pengembangan pembelajaran berbasis karakter religiusitas siswa pada bidang studi biologi dianggap masih sangat sulit dilakukan. Salah satu kendala utama adalah kurangnya kemampuan guru mendesain pembelajaran. Menurut Suciati Sudarisman (2010), pada umumnya guru di berbagai jenjang pendidikan mengajar biologi dengan metode ceramah, tekstual dan kurang berbasis proses ilmiah, akibatnya pengembangan ketiga aspek (kognitif, psikomotor, afektif) pada peserta didik kurang berimbang. Salah satu faktor penyebabnya karena guru cenderung belum memahami hakikat pembelajaran biologi secara benar. Pembelajaran biologi belum dipahami sebagai proses dan produk, melainkan hanya sebagai produk (content) saja. Akibatnya mengajar biologi sama dengan memindahkan ilmu pengetahuan (transfer knowledge) semata, sehingga pembelajaran cenderung verbal dan berorientasi pada kemampuan kognitif siswa. Sementara, pengembangan ketiga aspek (kognitif, afektif, psikomotor) secara berimbang merupakan tuntutan kurikulum.

Selain penekanan pada pencapaian hasil belajar pada ranah kognitif, afektif dan psikomotorik yang dianggap masih rendah dan belum berimbang, adalah penguatan karakter belum maksimal terukur dalam pembelajaran.

Konten materi biologi yang sarat dengan konsep religiusitas, proses keberadaan makhluk baik makhluk hidup maupun tak hidup, bioproses (metabolism makhluk hidup) yang terjadi dan interaksi seluruh organisme merupakan fakta alam. Tentunya seluruh konsep ini jika ditransformasikan melalui pendekatan pembelajaran yang tepat maka akan berdampak siswa terbiasa dengan kerja ilmiah atau doing sains misalnya dengan keterampilan proses sains (KPS) atau discovery (menemukan) sebagai domain kognitif maka akan memunculkan nilai/karakter, diantaranya: rasa ingin tahu, jujur, bertanggungjawab, kritis/logis, mandiri, kerja keras, disiplin, teliti dan sabar.

Disisi lain, ketika guru kreatif mengantar siswa mengintegrasikan konsep dan fakta biologi yang mereka dapatkan dengan fenomena biologi /konsep kealaman beserta proses penciptaannya yang ada dalam nash Alquran melalui keterampilan proses sains/kerja sains, adalah upaya menumbuhkan karakter religiusitas siswa. Pada tataran implementasi pembelajaran karakter religiusitas siswa diharapkan dapat terbangun melalui literasi Alquran (integrasi konsep dan ayat Alquran).

Hal yang perlu dilakukan guru dalam merancang pembelajaran berbasis integrasi konten ayat Alquran adalah, pertama, menentukan model dan metode pembelajaran yang berorientasi kalaboratif, subtantif, discovery (menemukan), dan komunikatif. Kedua, menentukan materi /konsep pembelajaran. Ketiga, membuka ruang bagi siswa melakukan pendekatan discovery content nash/ayat sesuai konsep pembelajaran agar siswa mampu mengintegrasikan antara konsep ayat dan konsep/materi yang dimaksud. Keempat, memberi kesempatan siswa untuk mengkomunikasikan (hasil diskusi) dan menyimpulkan.

Langkah-langkah tersebut di atas dapat membentuk pola pembiasaan siswa dalam hal literasi Alquran. Metode pembiasaan merupakan salah satu cara yang efektif untuk menumbuhkan karakter religious peserta didik, karena dilatih dan dibiasakan untuk melakukannya dalam pembelajaran.

Sejalan dengan pendapat Safri, 2014, bahwa metode pembiasaan ini mendorong dan memberikan ruang pada peserta didik pada teori-teori yang membutuhkan aplikasi langsung, sehingga teori yang berat bisa menjadi ringan bagi peserta didik bila kerap kali dilakukan.

Dengan demikian, pendidikan karakter adalah upaya mempengaruhi segenap pikiran dan sifat batin peserta didik dalam rangka membentuk watak, budi pekerti dan kepribadiannya. Wassalam.

*) Penulis adalah Guru Biologi MAN INSAN Cendekia Kota Palu.

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.