Menumbuhkan dan Mengembangkan Kelompok Tani Agribisnis Mandiri di Pedesaan

Oleh : Darsun, SP., M.Si.

- Periklanan -

KELOMPOK tani merupakan sebuah organisasi petani yang bersifat non formal yang secara teoritis dibentuk oleh, dari dan untuk petani atas dasar kesamaan permasalahan yang dihadapi dan kesamaan kepentingan dalam rangka berusaha tani yang lebih menguntungkan. Melalui wadah kelompok tani segala permasalahan yang dihadapi petani diharapkan dapat diselesaikan secara bersama-sama oleh onggota kelompok.

Selain itu, harapan yang ingin dicapai melalui kerjasama yang akan dibangun, baik dalam interen kelompok tani, antar kelompok dan dengan pihak lain adalah terwujudnya pengelolaan usaha tani yang lebih efesien sehingga akan dapat diperoleh tingkat keuntungan yang lebih besar, serta petani yang tergabung dalam kelompok akan lebih mampu menghadapi tantangan, ancaman, hambatan terutama di era globalisasi saat ini.

Namun kenyataan di lapangan, kelompok tani yang ada saat ini sebagian besar belum dapat menjadi kelompok yang mandiri, efesien serta mampu mengakses informasi teknologi dan informasi pasar. Hal ini disebabkan antara lain karena penumbuhan dan pengembangan kelompok tani masih berorientasi program yang bersifat top down, banyak kelompok tani yang ditumbuhkan atas kepentingan proyek sesaat dimana cara pembentukan kelompok tidak melalui proses atau tahapan-tahapan yang bersifat penguatan kelembagaan atau pemberdayaan kelompok.

Dengan demikian tidak mengherankan bila ada sebagian kelompok tani yang tumbuh bagaikan “Burung Merpati” kalau diberikan makanan dia akan tumbuh dan berkembang, sebaliknya kalau tidak diberi makan dia akan pergi dan hilang. Artinya, ada sebagian kelompok tani yang terbentuk karena ada program bantuan dari pemerintah, dapat tumbuh tetapi setelah bantuan dihentikan maka kelompok tersebut ikut bubar.

Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut di atas, maka untuk mewujudkan kelompok tani yang kuat dan mandiri berorientasi agribisnis di pedesaan perlu dilakukan reorientasi, pengorganisasian dan pemberdayaan kelompok tani.

Tujuan pengorgansasian dan pembnerdayaan kelompok tani adalah sebagai berikut, pertama, menguatkan kemampuan kelompok dalam menjalankan fungsinya sebagai wahana kerjasama, unit produksi, dan sebagai kelas belajar sesama anggotanya. Kedua, meningkatkan kapasitas kelompok tani sehingga lebih mampu mengakses informasi teknologi, pasar dan sumber permodalan dalam rangka pengembangan usaha taninya. Ketiga, mendorong keswadayaan dan partisipasi petani dalam menumbuhkan dan mengembangkan kelompok tani.

Dalam rangka menumbuhkan dan memberdayakan kelompok tani dengan tujuan kelompok tani yang kuat dan mandiri, tidak bersifat hanya sebagai pelaksana program pemerintah maka dalam proses pembentukannya harus memperhatikan situasi dan kondisi sosial masyarakat serta aspirasi dari petani yang akan berkelompok.

Kelompok tani yang dibentuk atas dasar keinginan dan harapan petani karena latar belakang kepentingan yang sama memiliki ciri-ciri sebagai berikut, yaitu saling kenal mengenal, akrab dan saling percaya diantara sesama anggota. Mempunyai pandangan dan kepentingan yang sama dalam berusaha tani.

Memiliki kesamaan dalam tradisi dan atau pemukiman, hamparan usaha tani, jenis usaha, status ekonomi maupun sosial, bahasa, pendidikan dan ekologi. Adanya pembagian tugas dan tanggung jawab sesama anggota berdasarkan kesepakatan bersama.

Untuk dapat mewujudkan hal tersebut, maka pada saat pembentukan kelompok tani dapat ditempuh langkah–langkah sebagai berikut, pertama, menghubungi beberapa orang tokoh petani yang mempunyai pandangan dan kepentingan yang sama dalam berusaha tani melelui kunjungan perorangan dari rumah ke rumah, atau melalui perantaraan tokoh masyarakat di desa dengan lebih awal meminta persetujuan dari pemerintah setempat (Kepala Desa/Kelurahan).

Kedua, menyusun jadwal pertemuan sosialisasi pembentukan kelompok tani. Pertemuan ini selain dihadiri oleh Penyuluh Pertanian selaku fasilitator (Community Development Facilitator) juga dihadiri oleh kepala Desa/Kelurahan setempat.

Pertemuan sosialisasi pertama ini dipimpin oleh Kepala Desa atau salah seorang aparat Desa yang ditunjuk oleh Kepala Desa. Dalam pertemuan ini beberapa hal penting perlu dijelaskan oleh Penyuluh Pertanian/Fasilitator antara lain, latar belakang mengapa harus berkelompok bagi petani dalam mengelola usaha taninya.

- Periklanan -

Pada umumnya, petani memiliki lahan garapan yang sempit sehingga secara ekonomis dipandang tidak efesien kalau diekelola secara sendiri-sendiri oleh petani terutama bila dihubungkan dengan pengadaan sarana produksi, untuk mencapai efesiensi pengadaan sarana produksi dapat dilakukan secara berkelompok. Tujuan membentuk kelompok dan fungsi kelompok tani.

Ketiga, menyiapkan calon pengurus kelompok, setelah dilakukan 2–3 kali pertemuan sosialisasi maka calon anggota kelompok sudah saling mengenal lebih dekat dan akrab, karena adanya interaksi pada pertemuan-pertemuan awal.

Mereka saling mengamati siapa diantara mereka yang lebih mampu dan cakap untuk diberikan tanggunng jawab untuk memimpin kelompok. Dengan cara demikian maka pemimpin yang terpilih dalam kelompok merupakan hasil pilihan sesuai aspirasi petani sendiri, peran dari pendamping atau pemerintah hanya sebatas sebagai pendamping atau fasilitator pada saat pembentukan. Keempat ; Menyiapkan mekanisme pemilihan calon pengurus dan nama kelompok yang disepakati. Kelompok tani sebagai organisasi non formal memiliki tiga fungsi salah satunya adalah sebagai kelas belajar. Sebagai kelas belajar maka anggotanya juga diarahkan untuk belajar berorganisasi yang baik dan tertib. Untuk itu walaupun kelompok tani sebuah kelompok yang kecil tetapi sebagai suatu proses pembelajaran bagi anggotanya dalam berorganisasi perlu disiapkan mekanisme pemilihan pengurus yang disepakati anggota kelompok.

Kelima, pertemuan pembentukan dan pemilihan pengurus kelompok. Pada saat pertemuan pembentukan dan pemilihan pengurus bila memungkinkan sekaligus dilakukan penyusunan Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) kelompok sebagai aturan yang dipedomani oleh pengurus dan anggota dalam menjalankan kegiatan kelompok.

Rapat pembentukan dan pemilihan pengurus dipimpin oleh seseorang yang ditunjuk oleh formatur atau pemerintah setempat yang sekaligus nantinya akan mengesahkan terbentuknya kelompok tani pemula beserta nama pengurus yang terpilih. Keenam, setelah kelompok terbentuk beserta pengurusnya langkah selanjutnya adalah menandatangani Berita Acara Pembentukan (BAP) yang diketahui oleh pemerintah setempat.

Secara administrasi kelompok ini telah tercatat sebagai kelompok pemula yang terbentuk berdasarkan proses graduasi dinamika kelompok dan diakui oleh pemerintah Desa. Namun disisi lain kelompok ini belum memiliki kekuatan hukum untuk dapat mengakses permodalan pada lembaga perbankan maupun untuk bermitra dengan pelaku agribisnis pada sektor sistem hulu maupun hilir.

Untuk itu, langkah selanjutnya melakukan upaya penguatan kapasitas kelompok, salah satunya adalah mendaftarkan kelompok tani di aplikasi Sistem Informasi Manejemen Penyuluhan Pertanian (Simluhtan) di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) yang wilayah kerjanya, satu kecamatan dengan kelompok tersebut berdomisili.

Setelah kelompok tani terbentuk, langkah selanjutnya adalah melakukan penguatan kapasitas kelompok agar kelompok yang baru terbentuk dapat tumbuh dan berkembangsecara dinamis. Kelompok tani difasilitasi untuk menata administrasi kelompok mulai dari pembukuan kelompok sampai dengan pembagian tugas yang jelas bagi semua pengurus dan anggotanya, sehingga tidak terjadi tumpang tindih pekerjaan diantara pengurus kelompok.

Disisi lain onggota dan pengurus kelompok diarahkan untuk belajar dan menata administrasi kelompok. Misalnya pengisian buku-buku dalam kelompok antara lain, buku kas kelompok untuk mencatat transaksi keuangan kelompok, buku agenda, buku notulen rapat kelompok, buku daftar anggota kelompok, buku kegiatan kelompok dll, yang dianggap perlu oleh kelompok.

Setelah kegiatan kelompok berjalan dengan baik yang ditandai dengan adanya aktifitas kelompok untuk melakukan pertemuan secara berkala untuk membahas rencana kegiatan dan mencari pemecahan masalah yang dihadapi oleh anggotanya. Serta adanya aktifitas upaya pemupukan modal anggota melalui si mpanan anggota pada kelompok, selanjutnya kelompok ini dapat diusulkan untuk mendapatkan badan hukum dari Notaris, sehingga dapat memperkuat posisi petani melalui organisasi kelompok untuk bermitra dengan pelaku agribisnis lainnya.

Caranya adalah dengan mengajukan permohonan kepada Notaris dilampiri dengan BAP kelompok, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga kelompok, dan rencana kerja tahunan. Setelah melalui proses penelitian dan memenuhi syarat maka kelompok tani tersebut dapat diusulkan untuk mendapatkan badan hukum.

Dengan memiliki badan hokum, anggota kelompok tani akan lebih mudah untuk mendapatkan fasilitas permodalan yang disediakan oleh pemerintah melalui perbankan. Demikian pula dengan pelaku agribisnis lainnya kelompok tani akan memiliki posisi tawar yang lebih kuat lagi, karena tergabung dalam kelompok yang memiliki legalitas, dan yang jelas dari aspek hokum kelompok tani yang ditumbuhkan dan dikembangkan dengan cara demikian apabila diberikan bantuan permodalan dari pemerintah akan dapat berkembang dan kuat. Karena dibentuk berdasarkan kepentingan yang sama oleh petani serta diperkuat dengan dasar hukum sebagai kekuatan untuk bermitra dengan semua pihak manapun untuk meningkatkan pendapatan anggotanya.

*) Penulis adalah Penyuluh Pertanian Madya Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Donggala.

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.