Portal Berita Online koran Harian Umum Radar Sulteng. Berbasis di Palu, Sulawesi Tengah dan merupakan Jaringan Media Jawa Pos National Network (JPNN)

Mengubah Paradigma Guru

Oleh : Dra Harlina, M.Si

SALAH satu faktor utama yang menentukan mutu pendidikan adalah guru. Gurulah yang berada di garda terdepan dalam menciptakan kualitas sumber daya manusia. Guru berhadapan langsung dengan peserta didik di kelas melalui proses belajar mengajar. Di tangan gurulah akan dihasilkan peseta didik yang berkualitas, baik secara akademis, skill (keahlian), kematangan emosional, dan moral serta spiritual. Dengan demikian, akan dihasilkan generasi masa depan yang siap dengan tantangan zamannya.
Oleh karena itu, diperlukan sosok guru yang mempunyai kualitas, kompetensi, dan dedikasi yang tinggi dalam mejalankan tugas profesinya. Apalagi dalam perubahan kurikulum yang menekankan kompetensi, guru memegang peranan penting terhadap implementasi kurikulum 2013, karena gurulah yang pada akhirnya akan melaksanakan kurikulum di kelas. Guru adalah kurikulum berjalan.
Menurut salah satu mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, sebaik apapun kurikulum dan sistem pendidikan yang ada, tanpa didukung oleh mutu guru yang memenuhi syarat maka semuanya akan sia–sia (Kompas, 15 April 2004).
Peningkatan mutu pendidikan di Indonesia tidak cukup dengan pembenahan di bidang kurikulum saja, tetapi harus juga diikuti dengan peningkatan mutu guru di jenjang tingkat dasar dan menengah. Tanpa upaya meningkatkan mutu guru, semangat tersebut tidak akan mencapai harapan yang diinginkan.
Realitas menujukan bahwa mutu guru di Indonesia dinilai masih memprihatinkan. Input guru di Indonesia sangat rendah. Data Balitbang, Depdiknas (1999) menunjukkan dari peserta tes calon guru PNS setelah dilakukan tes bidang studi ternyata rata–rata skor tes seleksinya sangat rendah. Dari 6.164 calon guru Biologi ketika dites Biologi rata-rata skornya hanya 44,96, dari 396 calon guru Kimia ketika dites Kimia rata-rata skornya hanya 43,55, dari 7.558 calon guru Bahasa Inggris rata-rata skornya hanya 37,57, dari 7.863 calon guru matematika ketika dites Matematika rata-rata skorhanya 26,67, dan dari 1.164 calon guru Fisika ketika dites Fisika rata-rata skonyahanya 27,35.
Data Balitbang, Depdiknas tahun 2001 juga menunjukkan guru SD (Negeri dan Swasta) yang dinilai layak mengajar masih di bawah 70 persen (Kompas, 25 Januari 2004).
Untuk menghadapi era globalisasi yang penuh dengan persaingan dan ketidakpastian, dibutuhkan guru yang visioner dan mampu mengelola proses belajar mengajar secara efektif dan inovatif. Diperlukan perubahan strategi dan model pembelajaran yang sedemikian rupa memberikan nuansa yang menyenangkan bagi guru dan peserta didik.
Apa yang dikenal dengan sebutan “Quantum Learning“ dan “Quantum Teaching”, pada hakekatnya adalah mengembangkan suatu model dan strategi pembelajaran dan penuh gairah serta bermakna.
Di masa lalu dan mungkin sekarang, suasana lingkungan belajar sering dipersepsikan sebagai suatu lingkungan yang menyiksa, membosankan, kurang merangsang, dan berlangsung secara monoton sehingga peserta didik belajar secara terpaksa dan kurang bergairah.
Di lain pihak para guru juga berada dalam suasana lingkungan yang kurang menyenangkan dan sering kali terjebak dalam rutinitas seharai-hari. Oleh karena itu, diperlukan perubahan paradigma (pola pikir) guru, dari pola pikir tradisional menuju pola pikir profesional. Apalagi lahirnya Undang-undang Guru dan Dosen menuntut sosok guru yang berkualifikasi, berkompetensi, dan bersertifikasi.
Sementara itu, menurut Mulyana (2005) sedikitnya ada tujuh kesalahan yang sering dilakukan guru dalam pembelajaran, yaitu : (1) mengambil jalan pintas dalam pembelajaran, (2) menunggu peserta didik berperilaku negatif, (3) menggunakan destructive discipline, (4) mengabaikan perbedaaan peserta didik, (5) merasa paling pandai dan tahu, (6) tidak adil (diskriminatif), dan (7) memaksa hak peserta didik.
Beberapa paradigma baru yang harus diperhatikan guru dewasa ini adalah sebagai berikut. Tidak terjebak pada rutinitas belaka, tetapi selalu mengembangkan dan memberdayakan diri sendiri terus-menurus untuk meningkatkan kualifikasi dan kompetensinya, baik melalui pendidikan formal maupun pelatihan, seminar, lokakrya, dan kegiatan sejenisnya. Guru jangan terjebak pada aktivitas datang, mengajar, pulang, begitu berulang-ulang sehingga lupa mengembangkan potensi diri secara maksimal.
Guru mampu menyusun dan melaksanakan strategi dan model pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif menyenangkan (PAKEM) yang dapat menggairahkan motivasi belajar peserta didik. Guru harus menguasai berbagai macam strategi dan pendekatan serta model pembelajaran sehingga proses belajar mengajar berlangsung dalam suasana yang kondusif dan menyenangkan.
Dominasi guru dalam pembelajaran dikurangi, sehingga memberikan kesempatan kepada peserta didik, untuk lebih berani, mandiri, dan kreatif dalam proses belajar mengajar. Guru mampu memodifikasi dan memperkaya bahan pembelajaran sehingga peserta didik mendapatkan sumber belajar yang lebih bervariasi. Guru menyukai apa yang diajarkannya dan menyukai mengajar sebagai suatu profesi yang menyenangkan.
Guru mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mutakhir, sehingga memiliki wawasan yang luas dan tidak tertinggal dengan informasi terkini.
Guru mampu menjadi teladan bagi peseta didik dan masyarakat luas dengan selalu menunjukkan sikap dan perbuatan yang terpuji dan mempunyai integritas yang tinggi.
Guru mempunyai visi kedepan dan mampu membaca tantangan zaman, sehingga siap menghadapi perubahan dunia yang tak menentu yang membutuhkan kecakapan dan kesiapan yang lebih baik lagi.(*)

*) Penulis adalah Kepala Sekolah SMP Negeri 14 Palu

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.