Mengintip Lawe, Desa Batas Awan di Pipikoro

- Periklanan -

Jembatan masuk menuju Desa Lawe salah satu desa terpencil di Sulteng yang sangat membahayakan. Perlu perhatian dari pemerintah. (Foto: Mugni Supardi)

BUTUH perjuangan dan nyali yang besar untuk menembus Desa Lawe, Kecamatan Pipikoro, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) ini. Karena akses menuju ke Desa Lawe sebagian besar jalan setapak, dengan sisi kanan dan kirinya tebing yang curam, hanya bisa dilalui satu sepeda motor saja. Jika tidak menguasai medan licin yang berliku naik dan turun, mungkin hanya akan pulang dengan sebuah nama.

LAPORAN : Nendra Prasetya/Mugni Supardi, Sigi


LAWE adalah salah satu desa terpencil, terjauh dan sulit dijangkau di Kecamatan Pipikoro, Kabupaten Sigi, Sulteng. Sekira 150 kilometer ke arah tenggara dari Kota Palu ibu kota Provinsi Sulteng. Tim Radar Sulteng berkesempatan mengunjungi desa yang dijuluki “desa di pinggir awan” ini pada Jumat (19/5), dan kembali pada esoknya Sabtu (20/5).

Desa ini berada di ujung barat, bila kita mengukur dari pusat Kecamatan Pipikoro. Jaraknya dengan ibu kota Kecamatan yakni Desa Peana, terbilang sangat jauh. Menuju ke desa itu dari pusat kecamatan, harus menggunakan ojek yang harga sewanya lumayan Rp 800 ribu per sekali antar, dengan jarak tempuh sekitar 45 kilometer.

Saat berada di desa ini seperti hidup dalam ketenangan. Hiruk pikuk perkotaan dengan seliweran kendaraannya seakan senyap di telinga kita. Wajarlah, bila warga di desa ini hidupnya tanpa beban, apa adanya, kekerabatannya sangat tinggi, suka membantu, dan bergotong royong.

Bagi warga kota yang ingin datang ke desa ini, harus menyiapkan mental dan fisik. Selain itu, Kecamatan Pipikoro tidak terjangkau oleh jaringan telekomunikasi, sehingga kita seakan diajarkan kembali bagaimana hidup pada jaman dahulu.

Bangun pagi harinya akan disambut dengan embun di pegunungan, ditambah dengan hangatnya sentuhan matahari pagi. Sedangkan malam hari, tubuh ini akan merasakan dinginnya suhu udara, rata-rata 18-30 derajat Celsius. Bahkan, bisa turun lagi, apabila masuk di musim penghujan. Iklimnya tropis basah. Itu semua tak dapat ditemukan di wilayah perkotaan.

Untuk akses terdekat menjangkau Lawe bisa dari Desa Gimpu, Kecamatan Kulawi Selatan, Kabupaten Sigi. Dengan kendaraan roda dua bisa memakan waktu hingga 4 sampai 5 jam perjalanan, bahkan bisa lebih tergantung kondisi medan saat itu. Sedangkan jarak tempuh dari ibu kota Provinsi Sulteng, Palu, menuju Gimpu dengan menggunakan kendaraan roda dua atau empat, kurang lebih mencapai 80 sampai 90 km, atau dua jam perjalanan. Sepanjang perjalanan Palu-Gimpu kita akan melewati beberapa kecamatan, yakni Kecamatan Sigi Biromaru, Dolo, Gumbasa dan Kulawi, serta banyak desa yang dilewati. Akses jalannya cukup mulus, tapi ada beberapa titik jalan masih berlubang, dan longsor.

Kabupaten Sigi sendiri, merupakan kabupaten yang berbatasan langsung dengan Kota Palu, sehingga pembangunan dan peningkatan jumlah penduduk di kota terasa sampai ke kabupaten ini. Sehingga tak heran apabila kita datang ke Kabupaten Sigi, atau ke kecamatan serta desa di kabupaten ini kita menemukan bermacam suku.

Lawe sendiri salah satu desa dari 19 desa di Kecamatan Pipikoro. Dengan luasnya hanya kurang lebih 10 hektar, memiliki hampir 110 Kepala Keluarga (KK) dengan 435 jiwa. Desa Lawe dibagi menjadi empat Rukun Tetangga (RT) dan dua dusun.

Ada dua suku yang mendiami Desa Lawe yaitu suku Jawa dan suku Uma, tetapi mayoritasnya adalah suku Uma. Setiap pagi hingga sore hari warga Desa Lawe sudah pergi berkebun. Berbeda jika waktu malam tiba, biasanya rumah yang memiliki televisi diserbu oleh warga lain. Satu televisi ditonton hampir 20 orang. Mulai dari anak-anak, orang dewasa hingga lansia berbaur menjadi satu menikmati siaran televisi.

Listrik di desa ini dialiri oleh Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Sehingga, selama air sungai mengalir dengan deras dan tenang, maka pemadaman pun tidak dirasakan oleh warga Lawe. Dengan daya 5000 watt, bisa mengaliri hampir 30 rumah warga desa. Uniknya, pembayaran listrik di desa ini memiliki hitungan sendiri. Misalnya, satu piting lampu dihargai Rp 15 ribu, televisi Rp 80 ribu sampai Rp 100 ribu. Colokan pun dihitung tersendiri.

Sebagian besar warga Desa Lawe adalah petani. Tidak heran, setiap lingkungan rumah ditemukan pohon cengkeh dan durian, selain pohon cokelat yang menjadi salah satu penghasilan utama warga Lawe. Hampir seluruh warga yang berada di desa ini menganut kepercayaan agama Kristiani. Salah satu gereja yang difungsikan untuk warga beribadah, tak jauh dari rumah Kepala Desa (Kades), rumah yang tumpangi koran ini saat menginap semalam di Desa Lawe.

Akses menuju ke Desa Lawe hanya dapat dijangkau dengan menggunakan kendaraan roda dua. Sehingga perampungan gereja yang ada di desa itu, seluruh bahan bangunannya diangkut menggunakan sepeda motor. Meski belum selesai, gereja ini sudah digunakan. Atapnya berwarna biru, yang bisa dilihat dari kejauhuan sebelum memasuki Desa Lawe.

Sekitar tahun 2003 – 2004 yang lalu, warga yang menetap di Lawe pernah menempuh perjalanan selama sehari dari Desa Gimpu. Berjalan kaki, bahkan dulunya ada pula yang menggunakan kuda. Ketika itu kendaraan bermotor masih satu dua orang yang punya. Warga belum banyak yang memiliki sepeda motor. Dalam perkembangannya kemudian, jasa tukang ojek berasal dari warga di dua desa bertetangga ini, baik dari Gimpu maupun Lawe.

Jika ojek hanya membawa barang, maka tarifnya adalah Rp 2.000,- per kilogram. Jika rezeki dalam perjalanan, maka kita akan menemukan ojek yang membawa barang-barang yang tak biasanya, seperti besi bangunan, semen, sampai keramik. Untuk besi biasanya sampai dibengkokkan agar bisa diikat pada motor, sedangkan untuk membawa semen, ojek hanya bisa mengangkut sampai tiga sak saja.

Baik di Gimpu maupun Lawe, penyewaan jasa-jasa ojek beragam, mulai dari Rp 500 ribu hingga Rp 800 ribu pulang-pergi (Gimpu-Lawe). Mungkin karena orang baru dan rezekinya saat itu, tim Radar Sulteng ditawarkan dengan tarif Rp 800 ribu, ojek kita dapatkan setelah dibantu oleh Kades Gimpu. Karena membawa motor dari Palu, kami menitipkan sepeda motor di rumah Kades itu, dan melanjutkan perjalanan dengan ojek ke Lawe.

Dengan tarif di atas, bisa dibayangkan berapa penghasilan para tukang ojek ini jika banyak mendapatkan orderan, tapi nyawa juga menjadi taruhannya karena akses jalan yang dilalui dipinggiran tebing dan pepohonan yang rindang yang sewaktu-waktu bisa saja tumbang. “Bisa dikatakan ini jalur (menuju Lawe, red) maut, apalagi musim hujan. Sebagian masyarakat juga memilih untuk tidak melakukan perjalanan di malam hari,” kata Melky, salah seorang warga Lawe. Dia mengakui, penghasilan terbesarnya dari menarik ojek. Menjadi dominan dalam mendirikan rumahnya saat ini.

Ojek menjadi satu-satunya sarana terbaik mengarungi medan Gimpu-Lawe ini. Bukan sepeda motor sembarang yang digunakan para tukang ojek ini. Biasanya kondisi sepeda motor sedikit dimodifikasi atau sekelas motor trail. Jika dimodifikasi, biasanta sepeda motor khusus itu, mampu membawa barang sekalipun di jalan berlumpur dan bebatuan.

Guna berjaga-jaga bila sepeda motor mengalami kerusakan, para tukang ojek selalu membawa peralatan andalnya, seperti kunci, baut, cadangan gir, ban dalam, hingga pompa ban. Harus ada selama perjalanan. Jika tidak, dan menemui kerusakan di jalan, maka siap-siap saja motor itu dibiarkan di tengah hutan. Bahkan sekali jalan, kadang para tukang ojek ini harus menggunakan gir baru.

Menuju Desa Lawe ini juga, harus melihat cuaca. Lebih baik berangkat pada musim kemarau atau musim panas. Jika dipaksakan pada musim hujan, dipastikan akan menemui kendala, disebabkan kondisi tanahnya berlumpur dan licin. Kendaraan akan terperosok dan terjatuh, jika pengendara tidak hati-hati dan kehilangan keseimbangan.

- Periklanan -

Ditambah lagi, sering terjadi pohon tumbang dan tanah longsor diperjalanan. Itulah sebabnya, sebagian warga lebih memilih perjalanan di siang hari ketimbang malam hari, untuk mencegah hal yang tak terduga di perjalanan. Warga Lawe tak jarang mendapati hewan buas berbagai jenis ular saat diperjalanan. Biasanya ular hitam. “Yang dikhawatirkan, jika tiba-tiba ada ular yang terjatuh dari pohon saat kita melintas,” sebut Melky.

Menjangkau Desa Lawe juga melewati beberapa perkebunan warga, seperti ladang jagung dan pohon cokelat. Naik turun gunung, kaki dan tangan sampai kaku karena perjalanan yang cukup jauh. Selain disuguhi pemandangan pertanian warga, dalam perjalanan juga melewati beberapa anak sungai yang cantik, sungai itu seperti melewati anak tangga. Semua anak sungai itu akan menyatu dengan Sungai Lariang, salah satu sungai terbesar di Pulau Sulawesi. Tak jarang air sungai itu juga mengaliri jalan setapak yang kami lewati.

Sepanjang perjalanan, sesekali kita harus menunduk dan menghindar ke kiri ke kanan, karena banyak rumput-rumput liar berduri, serta dahan-dahan pohon selama dalam perjalanan. Meskipun pintar menghindar, sesekali juga wajah ini terkena hantamannya.

Semakin masuk jauh ke dalam hutan, sesekali akan dijumpai perangkap atau jerat tradisional yang dibuat warga untuk menangkap rusa dan babi hutan.

Bagi yang mau berkunjung ke Kecamatan Pipikoro, jangan lupa harus menghargai apa yang diberikan oleh warga yang berada di sana. Karena seluruh warga yang berada di wilayah ini masih memegang teguh adat istiadat warisan nenek moyang suku Uma. Hampir seluruh permasalahan maupun perayaan yang ada di desa dilakukan secara adat.

Prosesi adat itu seperti hampole hampulu nkau hama a (tindak kejahatan seperti pencurian, red), adha peka maro (peminangan, red), adha ponca moko (pernikahan, red), poredehia (panen hasil kebun, red) sampai mobualo (berzina, red).

Dahulu, hukum adat untuk pelaku tindak kejahatan dijatuhi hukum cambuk sampai mati. Bahkan lebih mengerikan lagi, pelakunya akan dicincang hingga mati apabila melakukan kesalahan yang dianggap adat itu fatal. Namun sanksi hukuman seperti itu perlahan mulai hilang, usai masuknya penyebaran agama Kristiani. Oleh karena itu para tetua adat mengganti hukumannya atau givu (denda adat), dengan denda ternak serta uang tunai.

Masyarakat yang ada di Desa Lawe sendiri masih malu-malu dengan orang-orang baru atau pendatang. Namun warga yang ada di desa ini sangat ramah, dimana setiap bertemu mereka akan menyapa kita dengan hangat dengan kata selamat pagi, sesuai dengan waktu yang ada. Hal ini seakan sudah menjadi tradisi di desa ini. Bahkan apabila kita bertemu mereka saat berada dalam perjalanan di tengah hutan, warga desa akan menyapa dengan sebutan yang sama. Mungkin contoh ini juga bisa diterapkan di perkotaan, sehingga bisa menjalin tali kekeluargaan yang erat antar warga.

Kita juga akan disambut baik apabila berkunjung ke setiap rumah warga, secangkir kopi hangat khas Kecamatan Pipikoro akan menjadi teman pendamping saat bercerita dengan warga. Namun di saat hari sudah mulai gelap minumannya akan berganti, dengan minuman dari air pohon nira yang disebut warga Saguer atau Sagero. Bagi yang tidak terbiasa meminum minuman ini, dianjurkan untuk tidak meminumnya, karena kita akan mengalami sakit perut dan diserang diare atau sembelit.

Konstruksi bangunan rumah warga di desa itu dibangun semi permanen, pondasi bangunan bawah menggunakan semen, dan kontruksi atas menggunakan papan. Biaya pembangunan rumah di wilayah ini berbanding dua kali lipat dengan perkotaan. Untuk membeli semen saja, masyarakat harus merogoh kantong cukup dalam. Hal ini dikarenakan biaya angkut untuk satu semen saja seperti membeli satu sak semen lagi (atau dua sak semen). Sehingga kalau dibilang, pembangunan satu rumah di Desa Lawe itu seharga satu rumah mewah di kota. Tidak hanya itu saja, untuk harga pasir sendiri dihitung perkaleng. Satu kalengnya dihargai Rp 10 ribu. Bisa kita bayangkan berapa banyak pasir yang harus kita gunakan untuk pembangunan satu rumah.

Berbeda dengan harga kayu. Untuk kayu sendiri masyarakat terbantu dengan pohon-pohon kelapa atau pohon lainnya yang tumbuh di sekitar Desa Lawe. Namun masyarakat tidak bisa sembarangan menebang pohon, karena wilayah tersebut masuk dalam area konservasi atau hutan lindung.

Karena biaya yang digunakan untuk membangun rumah cukup banyak, akibatnya banyak pula masyarakat di desa ini harus membangun rumah seadanya, dengan lantai beralaskan tanah dan atap menggunakan rumbia (ilalang). Sehingga untuk menilai warga mampu atau tidak di desa ini, hanya melihat kondisi bangunan serta isi dalam rumah tersebut.

Wilayah Kecamatan Pipikoro yang menaungi Desa Lawe dalam struktur pemerintahan, letaknya berada diseberang sungai terpanjang di Sulawesi, sungai Lariang, dengan bentangan jembatan besinya kurang lebih 40 meter. Ada satu jembatan yang menarik perhatian di Pipikoro, sebelum melintasi jembatan itu kami terlebih dahulu melewati desa bernama Koja, desa pertama saat memasuki wilayah Pipikoro Barat.

Setelah dari Koja, kurang lebih 30 menit menelusuri jalanan setepak nan bertebing curam, bahkan beberapa titik adalah tanah longsor, baru menemui jembatan yang barangsiapa melihat pertama kalinya pasti dibuat kaget. Ya, kita seperti berada dalam film Indiana Jones. Pasalnya jembatan ini mengadu nyali pengendara dan membuat was-was. Namanya jembatan gantung Mokoe, seperti nama sungai yang mengalir di bawahnya, Sungai Mokoe. Kondisi jembatan Mokoe kian memprihatinkan. Kontruksinya miring karena tertimpa pohon, dan hanya diperbaiki masyarakat seadanya agar dapat dilintasi untuk sementara waktu. Pengendara pun dibebankan membayar Rp 20 ribu untuk pulang-pergi. Jika pengendara tidak berani mengendarai motor di jembatan ini, ada salah seorang warga yang akan membantu.

Terlepas dari jembatan Mokoe, akses jalan semakin menantang. Yang cukup sulit adalah melewati pinggiran tebing yang curam dengan jalan licin menukik ke atas dan ke bawah serta berliku. Kadang saat tikungan tajam orang yang dibonceng harus turun terlebih dahulu, barulah perjalanan dilanjutkan kembali.

Jika kehilangan kontrol mengemudi sepeda motor, sedikit saja, pada saat tikungan, bisa fatal akibatnya. Kemungkinan, kalau bukan sepeda motor yang terjatuh ke dalam jurang dengan kedalaman 30 meter hingga ratusan meter, maka pengemudinya yang Innalillahi. Di setiap tikungan tajam juga pengendara harus memberikan tanda seperti membunyikan klakson motor, agar saat berpapasan dengan pengendara lain tidak saling bertabrakan. Saat berpapasan salah satu pengendara juga harus berhenti dan mempersilakan sepeda motor yang lain melintas. Dengan kondisi medan yang cukup sulit, wilayah Pipikoro juga sering memakan korban jiwa.

“Di perjalanan menuju Kecamatan Pipikoro ini sudah banyak yang menjadi korban. Biasanya penjual yang datang dari luar ke sini, mereka belum menguasai medan,” lanjut Melky.

Mahasiswa atau lembaga pemerintah daerah juga sering melakukan penelitian di Pipikoro, bahkan sampai ke Desa Lawe. Jika ada orang baru datang, informasi ke warga desa akan cepat menyebar.

Sekelas Bupati dan pejabat Kecamatan (Camat, red) juga sering menggunakan jasa ojek untuk dapat menginjakkan kaki di desa pinggir awan ini. Dalam setahun bisa dihitung dengan jari pejabat-pejabat tersebut berkunjung, lantaran akses jalan yang sulit (transportasi dan komunikasi).

Dari penelusuran media ini, nanti di saat kampanye Pemilihan Umum (Pemilu) baik itu Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) maupun Pemilihan Legislatif dan Pemilihan Presiden baru desa ini dikunjungi. Mirisnya, saat terpilih para wakil rakyat itu sudah tak pernah lagi mengunjungi desa tersebut. “Biasa nanti kampanye baru datang, saat sudah terpilih tak pernah terlihat berkunjung,” tambahnya.

Kurangnya perhatian dari Pemerintah Daerah tersebut, sangat berdampak pada pembangunan Desa Lawe. Salah satuh contohnya, mangkraknya pembangunan kantor desa yang saat ini dilingkari police line. Kontruksinya sungguh memprihatinkan, hanya ada pondasi, tiang dan atap. Karena masih berlantai tanah lokasi kantor desa ini sudah ditumbuhi rumput-rumput liar. Luasnya hanya kurang lebih 6×7 meter.

Menunggu diteruskannya pembangunannya, kantor desa sementara waktu berada di rumah Kades, tepatnya dilantai dua bangunan rumahnya. Bahkan dilantai dua itu juga sekaligus digunakan untuk Polindes. Ada satu kamarnya yang sudah disediakan khusus untuk bidan desa. Bidan ini juga merangkap menjadi dokter umum. Sebelum kehadiran bidan ini, persalinan warga Desa Lawe biasanya dibantu oleh dukun beranak. Jika tidak dengan dukun, maka jika ada ibu yang sedang hamil sebulan sebelum melahirkan harus sudah turun ke Desa Peana atau Gimpu bahkan ke Kota Palu, bila tidak ingin menemui kendala saat persalinan anaknya. Sudah bisa dibayangkan bagaimana perjuangan seorang ibu saat posisi perut yang besar menaiki kendaraan roda dua dengan akses jalan berliku, bebatuan, jurang yang dalam menganga, dan jalan menanjak.(***)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.