Mengikuti Perjalanan Famtrip Exotic Poso Land (2)

Menyusuri Jejak Purba yang Misterius

- Periklanan -

Untuk lebih memperkenalkan destinasi wisata yang ada di Kabupaten Poso, Dinas Pariwisata Provinsi Sulteng mengajak beberapa unsur terkait menikmati satu paket wisata bertema Famtrip Exotic Poso Land selama empat hari. Berikut ulasan Radar Sulteng selama perjalanan.

LAPORAN : SAFRUDIN

- Periklanan -

Hari kedua, Jumat (5/7) perjalanan Tim Famtrip Exotic Poso Land menyusuri destinasi-destinasi wisata di Kabupaten Poso, terasa begitu lengkap. Seluruh rasa bercampur di hari ini.
Di sini mata dimanjakan dengan keindahan alam. Adrenalin diuji. Stamina dikuras. Hari ini, hari yang begitu komplit. Wisatanya dapat. Ilmunya dapat. Pokoknya lengkap.
Bahagia, panik, dan lelah bercampur. Semua rasa hari ini berakhir indah di kasur empuk Siuri Cottage, tepi Danau Poso yang terkenal itu. Terkenal karena danaunya yang luas, dan tepinya yang berombak.
Perjalanan ke Tentena melewati jalur Napu disuguhi pemandangan yang indah. Jalanannya memang tak mudah dilalui. Sempat tertahan sejam lebih di tanjakan Desa Petondongia, Kecamatan Lore Timur. Di sini tenaga dikuras. Berulangkali kendaraan yang kami tumpangi gagal mendaki. Untungnya, setelah percobaan yang cukup banyak, empat mobil, yang digunakan Tim Famtrip Exotic Poso Land, bisa menanjak seluruhnya.
“Pariwisata itu bukan hanya Dispar (Dinas Pariwisata) doang. Jika pariwisata mau diangkat, semua pihak harus terlibat. Dispar kan promosiin, akses jalannya harus didukung Dinas PU. Dinas Penanaman modal, untuk investasinya. Perindag hidupin usaha-usaha di masyarakat. Semua pihak, gak hanya Dispar doang,” kata Rifki salah satu anggota Tim Percepatan Pengembangan Millennial Tourism Kementerian Pariwisata RI.
Satu kilo meter sebelum tanjakan yang menyusahkan itu, masih di kawasan Lembah Napu, ada beberapa spot yang kami singgahi. Padang rumput, cagar budaya situs megalitik Watunongku di Desa Watutau dan jejeran pohon pinus. Semuanya indah. Punya daya tarik masing-masing.
Di cagar budaya megalitik Watunongku, ada batu yang di bagian tengahnya dilubangi. Di salah satu sisi batu juga terlihat jelas ukiran menyerupai kerbau. Ada mata dan hidungnya. Ada beberapa versi tentang sejarah peninggalan purba ini. Belum ada yang valid. Semuanya masih berdasarkan teori. Yang pasti, peninggalan purba yang tersebar di beberapa titik di Kabupaten Poso, disebut sebagai salah satu peninggalan purba tertua di dunia.
Tour guide, Kasman menjelaskan ada informasi yang menyebut peninggalan purba di Lembah Napu ini, punya kaitan erat dengan beberapa situs megalitik yang kami datangi di hari ketiga, Sabtu (6/7). Kasman yang sudah belasan tahun sebagai tour guide menjelaskan, patung megalit yang berada di Lembah Napu, Lembah Bada, dan Besoa merupakan jejak peninggalan bangsa Kaukasi yang melakukan perjalanan dari timur ke barat melintasi wilayah Poso. Dalam perjalanannya kata Kasman, di beberapa tempat persinggahan, bangsa Kaukasi yang menggunakan bahasa Arya dan dikenal dengan keahlian memahatnya itu, memberi tanda di wilayah-wilayah yang mereka singgahi selama perjalanan.

Dedi yang juga tour guide menambahkan, dari beberapa referensi yang didapatkannya, ada beberapa teori tentang peninggalan purba di Lembah Napu, Lembah Bada, dan Besoa. Yang paling mashur kata dia, ialah batu purba peninggalan kisaran 2500-5000 tahun yang lalu itu, jejak peninggalan bangsa Austronesia, saat masih zaman batu.
“Dari semua informasi yang ada, belum ada yang valid. Peninggalan purba ini memang misterius. Beda dengan di tempat lain. Kita bisa lihat di mana halamannya, di mana dapur mereka membuat. Kalau ini memang sama sekali tidak ada jejak. Di mana mereka membuat patung-patung ini tidak ada yang mendapatkan jejaknya. Yang kita tahu sekarang patungnya di sini dan tempatnya terpisah-pisah. Ada yang di Lembah Napu, Lembah Bada, dan Besoa. Mengapa dibuat terpisah-pisah itu juga misterius, apa kegunaannya itu juga masih misterius,” jelasnya.
Sepanjang hari, Sabtu, Tim Famtrip Exotic Poso Land mengkhususkan untuk mengunjungi jejak purba yang ada di Lembah Bada. Di Desa Pada, Kecamatan Lore Selatan, ada Arca Loga. Pahatan batu menyerupai wajah manusia. Dengan ukiran mata, hidung, telinga, dan tangan yang begitu jelas. Ukuran Arca Loga, sedikit lebih kecil dari Arca Langkebulawa, di Desa Bomba, Kecamatan Lore Selatan, yang kami kunjungi setelahnya. Arca Langkebulawa berada di tengah perkebunan warga. Secara etimologi, Langkebulawa berarti wanita dengan gelang emas di lengannya. Masyarakat setempat mempercayai, jika Arca Langkebulawa ialah wanita cantik yang turun dari kahyangan ke Lembah Bada di masa lampau. Dari pahatannya, Arca yang tingginya 1 meter lebih ini, diketahui merupakan jenis perempuan, sebab dari pahatan jenis kelamin yang terdapat di batu. Di kecamatan Lore Barat, Desa Kolori terdapat Arca Palindo atau Sepe. Palindo menjadi patung terbesar di antara yang lain. Tingginya, dua kali lipat ukuran orang dewasa. Pahatannya jelas, mata, hidung, telinga, tangan hingga jenis kelamin.
“Ngga nyangka Sulteng (destinasinya) sebagus ini,” ujar Rifki.
Rifki berharap Pemerintah daerah menseriusi pengelolaan potensi yang ada di Sulteng, khususnya di Kabupaten Poso.
Dibandingkan dengan tambang yang selama ini jadi andalan Sulteng, pariwisata kata Rifki, sistem perputaran ekonominya lebih cepat. Saat wisatawan masuk, saat itu juga uang akan dengan begitu cepat berputar. Masyarakat langsung merasakan dampaknya. Semua itu kata Rifki bisa terwujud, jika unsur pimpinan satu visi, menjadikan pariwisata sebagai sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) utama, sehingga pengelolan dan arah kebijakannya pendukung pengembangan pariwisata.
“Jika yang peduli pariwisata hanya Dispar, ngga bisa juga. Pariwisata itu melibatkan banyak pihak,” jelasnya.
Kepala Seksi (Kasi) Strategi Pemasaran, Herni Herawati menjelaskan pada Famtrip Exotic Poso Land ini selain dari Kementerian Pariwisata, juga dikutsertakan Tour and Travel dari Provinsi Sulawesi Selatan dan Tour and Travel lokal. Tujuannya kata Eni, sapaan akrabnya agar penyedia jasa Tour and Travel bisa melihat destinasi-destinasi wisata yang ada di Kabupaten Poso.
“Tour and Travel dari Makassar juga sengaja kami undang untuk melihat langsung destinasi-destinasi yang ada di Poso. Harapannya, mereka bisa membuat paket wisata dari Makassar ke Poso. Ini bagian dari promosi pariwisata yang kami lakukan,” jelasnya.
Kasi Kerja Sama Industri, Personal, Bisnis dan Pemerintah, Elly Martha Barmo menambahkan pada tim Famtrip ini juga diikutkan influencer Kota Palu untuk memviralkan destinasi-destinasi yang ada di Poso ke masyarakat luas. ** (bersambung)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.